KURUNGBUKA.com – Koran yang bernama Kompas berusia 60 tahun. Koran yang masih mau terbit dalam edisi cetak, yang jumlah pembelinya berkurang. Yang punya duit 12 ribu rupiah bisa membaca Kompas, membuka halaman-halaman yang dipenuhi berita, foto, dan iklan. Tangan yang membuka Kompas dianggap istimewa. Konon, orang-orang masa sekarang telah mengubah gerakan tangan jika ingin membaca berita-berita. Yang tampak mata, tangan itu bergerak di layar. Sentuhan yang menjadikan berita-berita terbaca, tidak lagi repot membuka halaman kertas.
Para pembaca masa lalu tidak hanya membaca berita atau opini yang tersaji di Kompas. Mata mereka akrab dengan gambar-gambar yang dibuat GM Sudarta. Di kertas, tampak gambar sosok yang bertopi. Gambar itu setara opini? GM Sudarta bekerja di Kompas. Yang khas adalah gambarnya. Orang-orang telanjur mengenali dan menghormati gara-gara gambar. Padahal, GM Sudarta tidak cuma melewati hari-harinya dengan gambar.
Kini, yang membaca Kompas tidak melihat lagi gambar-gambarnya. GM Sudarta ikut menjadi masa lalu Kompas saat masih dibaca jutaan orang. Gambar-gambar yang dicetak di koran akhirnya terbit menjadi buku. GM Sudarta berkibar dalam pers dan seni rupa. Yang telat diketahui adalah GM Sudarta termasuk umat sastra di Indonesia.
Sejak lama, ia menulis cerita-cerita. Namun, tulisannya jarang diketahui dan terpilih dalam pembahasan sastra. Pada saat berusia tua, cerita-ceritanya diterbitkan menjadi buku oleh Galang (Jogjakarta). Buku sudah terbit tetap saja orang-orang belum yakin bahwa dirinya adalah pengarang. Ketetapan yang telanjur disepakati di Indonesia: GM Sudarta itu gambar, bukan tulisan (cerita).
Yang membaca majalah Femina, 5 November 1987, beruntung membuktikan cerita gubahan GM Sudarta tercetak dalam beberapa halaman. Pujian pun diberikan setelah membaca keterangan: “Pemenang III Sayembara Mengarang Cerpen Femina 1987”. Cerita yang berjudul “Namaku Si Pon, Meneer Si Pon!” adalah pemenang. Artinya, cerita itu terbaik yang mengalahkan ratusan cerita masuk ke redaksi Femina. Pastinya pengarang mendapat hadiah berupa uang. Kita berharap kelak melihat foto GM Sudarta saat menerima hadiah atas kemenangannya. Yakinlah bahwa GM Sudarta itu pengarang!
Kita mengutip paragraf yang tidak istimewa tapi mengesankan dewan juri: “Kota kelahiran memang selalu memanggil! Seperti malam ini. Kabut mulai turun ketika kutelusuri sepanjang jalan raya. Bangunan pertokoan di kiri dan kanan jalan sekan telah lelap. Sesekali bis antarkota mendesah cepat membelah sunyi. Lampu natrium meremang, menerangi beberapa tukang becak, yang bergerombol mai domino. Langit kosong berwarna kelabu.” GM Sudarta melukis dengan kata-kata. Pembaca tergoda bila itu gambar.
Yang terlihat di halaman cerita adalah gambar yang dibuat Mintaraga. Gambar tiga sosok yang terceritakan oleh GM Sudarta. Di Femina, GM Sudarta adalah pengarang, bukan orang yang membuat gambar. Kebiasaan membuat gambar berpengaruh saat ia bercerita. Yang membaca dengan tenang kalimat-kalimatnya maka bisa sampai ke imajinasi-gambar.
GM Sudarta berasal dari Klaten. Komencerannya terjadi saat berada di Jakarta. Namun, ia rajin ke Klaten dan Jogja, tidak mau terperangkap selamanya di Jakarta. GM Sudarta, sosok yang telat diakui sebagai pengarang. Padahal, menang sayembara di Femina seharusnya membuat GM Sudarta turut dalam gejolak sastra di Indonesia. Ia mungkin sibuk di Kompas, yang akibatnya tidak memiliki kecukupan waktu untuk besar dalam sastra Indonesia.
Jika kelak ada pameran mengenang sastra dan Femina, halaman-halaman yang memuat cerita gubahan GM Sudarta wajib dipajang. Ia ikut dalam arus perkembangan sastra yang dinaungi Femina. Ingat, sastra di Indonesia tidak hanya ditentukan oleh Horison, Budaya Jaya, dan Kompas. Femina memiliki peran besar dengan sayembara-sayembara yang hadiahnya besar.
Femina yang pernah menjadi referensi tidak bisa bertahan lama. Nasibnya berbeda dengan Kompas. Pada 1965, Kompas terbit menyusul terbitnya Intisari. Kini, Intisari tidak terbit. Maka, ingatan kita tentang Kompas yang berusia 60 tahun tidak boleh meninggalkan gambar-gambar buatan GM Sudarta. Pada saat kita mengingatnya seharusnya dilanjutkan dengan Femina. Kemenangan dan pemuatan cerita gubahan GM Sudarta adalah bab bersastra yang sepatutnya tercatat dalam buku besar sastra Indonesia. Sekali lagi yang harus diingat, GM Sudarta adalah pengarang cerita.
*) Image by dokumentasi pribadi Bandung Mawardi (Kabut)
Dukung Kurungbuka.com untuk terus menayangkan karya-karya penulis terbaik dari Indonesia. Khusus di kolom ini, dukunganmu sepenuhnya akan diberikan kepada penulisnya. >>> KLIK DI SINI <<<











