KURUNGBUKA.com – Pada masa kolonial dan revolusi, orang-orang yang membaca buku-buku sastra mengetahui peran Balai Pustaka. Penerbit yang mengeluarkan buku-buku berupa puisi, cerita pendek, dan novel. Yang teringat, penerbit itu pernah “bernyawa” kolonial sebelum berganti menjadi milik pemerintah Indonesia. Pada masa setelah proklamasi, para pembaca sastra mendapatkan buku-buku yang diterbitkan oleh Pembangunan, Nusantara, atau Gapura. Balai Pustaka tak sendirian lagi.

Selera sastra agak berubah masa 1970-an. Yang ikut menentukan adalah penerbit Pustaka Jaya. Buku-buku yang diterbitkannya sering bermutu. Beberapa judul masuk dalam proyek pembelian oleh pemerintah, yang dulu moncer disebut buku-buku Inpres. Buku-buku terbitan Pustaka Jaya yang berada di tangan atau terbuka di atas meja memberi kebanggaan dan kepuasan.

Yang tidak terlupa adalah penerbit Gunung Agung. Dulu, penerbit itu terbukti meramaikan sastra. Beberapa novel dan kritik sastra yang diadakan Gunung Agung memberi pengaruh yang besar dalam sastra di Indonesia, masa kekuasaan Soekarno dan Soeharto, Jadi, kondisi penerbitan buku setelah revolusi atau masa Orde Baru mulai memiliki perbedaan derajat kehormatan dan komersial. Penerbit-penerbit berharap untung tapi sulit menghindari rugi. Sejak dulu, buku-buku sastra termasuk “dagangan” yang berbeda nasib dari buku tulis, baju, dan roti.

Sastra di Indonesia itu buku. Artinya, mereka yang ingin mengetahui masa silam kesusastraan mendingan melacak dan membaca buku-buku yang pernah diterbitkan sejak awal abad XX. Ratusan judul buku mustahil lagi ditemukan di Indonesia atau pelbagai perpustakaan di Belanda, Inggris, Amerika Serikat, atau Perancis. Namun, buku-buku yang bermunculan sejak masa 1950-an agak gampang diperoleh meski tetap harus mengharap “mukjizat”.

Buku-buku yang terbit masa Orde Baru termasuk yang mudah diperoleh asal mengetahui alamat-alamat yang benar. Yang berusaha memakmurkan perbukuan sastra masa Orde Baru adalah Gramedia. Dahulu, penerbit itu berslogan “penerbit buku utama”. Yang paham boleh percaya. Yang ragu harus membuktikan bahwa buku-buku yang diterbitkan bukan ecek-ecek atau rendahan.

Pada masa 1980-an, Gramedia seperti membuat sumpah memajukan sastra di Indonesia. Yang dilakukan adalah menerbitkan buku-buku dan gencar mengiklankannya di majalah dan koran. Gramedia ingin buku-buku sastra laku meski ditakdirkan kalah dengan penjualan buku-buku pelajaran.

Di majalah Tempo, 28 April 1985, tampaklah iklan dari “penerbit buku utama”. Yang dicantumkan: “Ini yang dicari para pencinta sastra.” Kalimat yang tegas dan merayu. Apakah orang-orang segera terbujuk untuk membeli buku-buku terbitan Gramedia? Ada judul-judul yang akhirnya melekat dalam perkuliahan sastra di universitas. Ada judul yang menjadi bacaan memicu perdebatan di kalangan pengarang.

Daftar buku terbitan Gramedia yang (cukup) berpengaruh: Membaca dan Menilai Sastra (A Teeuw), Solilokui (Budi Darma), Kesusastraan Indonesia Modern (Sapardi Djoko Damono). Pada 2020, buku Solilokui cetak ulang dengan sampul baru. Buku susunan A Teeuw selalu terkenang dalam perkuliahan sastra. Yang judul-judul lain mungkin susah dicetak ulang gara-gara tiada peminat atau teranggap tidak penting lagi.

Ada buku yang bagus berjudul Surat-Surat HB Jassin: 1943-1983. Dulunya, buku-buku HB Jassin banyak yang diterbitkan Gunung Agung. Pada masa 1980-an, ia mulai akrab dengan kepentingan-kepentingan penerbit Gramedia. Buku berisi surat-surat itu patut diterbitkan lagi bagi yang penasaran sejarah sastra dan ingin mengetahui biografi para pengarang di Indonesia.

Gramedia makin berpengaruh dalam sastra Indonesia setelah abad XX. Kini, kita menyaksikan buku-buku terpenting atau meraih penghargaan (sastra) sering diterbitkan Gramedia, yang bernama lengkap Gramedia Pustaka Utama. Yang berkelakar: “Sastra Indonesia itu sastra (selera) Gramedia.” Kita boleh percaya dengan bukti-bukti. Kita berhak menyangsikan jika mampu mengajukan argumentasi yang kokoh.

Yang pernah hidup dalam masa silam perlahan “menepikan” Balai Pustaka dan Pustaka Jaya. Sastra masa sekarang tampak makmur bila mengetahui novel-novel terbitan Gramedia Pustaka Utama sering cetak ulang. Kita mencatat buku-buku Ahmad Tohari, Eka Kurniawan, Sapardi Djoko Damono mengesahkan penerbit untung besar. Pada akhirnya, kita mengakui Gramedia (dulu dan kini) turut “memakmurkan” sastra dengan sederet polemik, ledekan, pujian, dan kisruh.

*) Image by dokumentasi pribadi Bandung Mawardi (Kabut)

Dukung Kurungbuka.com untuk terus menayangkan karya-karya penulis terbaik dari Indonesia. Khusus di kolom ini, dukunganmu sepenuhnya akan diberikan kepada penulisnya. >>> KLIK DI SINI <<<