Saya percaya, bahwa siswa itu seperti sebuah sereal sarapan instan, dimana semua aspek nutrisi sudah terkandung di dalamnya, baik itu susu, protein, vitamin, karbohidrat, serat, dan lain-lain. Kita hanya perlu menambahkan sedikit air dan sedikit usaha untuk mencampurnya sehingga menjadi sebuah sarapan yang enak dan bergizi. Analogi yang enak ini dapat mewakili semua aspek pembelajaran, seperti motivasi belajar, disiplin, gaya belajar dan cara merespon kemajuan teknologi. Berbicara mengenai kandungan makanan, sebenarnya di dalam makanan ada banyak sekali zat-zat yang terkandung didalamnya. Entah itu yang baik untuk tubuh atau malah yang membahayakan. Sebagai guru IPA di tingkatan anak-anak SMP, kami menggali kandungan beberapa makanan untuk mengetahui zat apa saja yang terkandung didalamnya. Diantara makanan yang kami uji (cendol, selai stawberi, saos, gulali, pancong, wafer taro)
Terbukti dari berbagai makanan yang kami uji terdapat kandungan “zat aditif” dalam makanan yang kami uji. Sebenarnya apa sih zat aditif itu? Apakah zat aditif berbahaya untuk tubuh? Sebelumnya saya sedikit menjelaskan mengenai zat adiktif. Zat aditif didefinisikan sebagai zat-zat yang ditambahkan pada makanan dan minuman selama proses produksi, pengemasan atau penyimpanan untuk maksud tertentu. Zat aditif merupakan bahan tambahan makanan yang berguna sebagai pelengkap pada produk makanan dan minuman.
Penggunaan zat aditif tujuannya adalah untuk meningkatkan kualitas produk makanan dan minuman. Untuk dapat digolongkan sebagai zat aditif , suatu bahan harus memilki syarat sebagai berikut;
- Pertama dapat memperbaiki kualitas atau gizi makanan.
- Kedua, dapat membuat makanan tampak lebih menarik.
- Ketiga, dapat meningkatkan cita rasa makanan.
- Keempat, dapat membuat makanan menjadi lebih tahan lama
Menurut Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPO ) ada dua kategori zat aditif, pertama zat aditif yang diijinkan untuk digunakan dengan jumlah penggunaan maksimum. Kedua zat aditif yang dilarang untuk digunakan pada pangan karena memang bersifat membahayakan bagi kesehatan. Zat aditif yang boleh digunakan antara lain pengawet makanan, pewarna, pemanis, penyedap rasa, emulsi yang berbahan lemak dan air, penstabil dan perekat, penambah nutrisi, pengembang kue.Penggunaan zat aditif perlu dibatasi karena pengunaannya yang melebihi ambang batas dapat menimbulkan efek samping merugikan bagi kesehatan manusia. Batasan maksimal penggunaan zat aditif atau ADI (Acceptable Daily Intake) dihitung berdasarkan berat badan konsumen sehingga semakin kecil berat badan seseorang maka semakin sedit bahan tambahan makanan yang dapat diterima oleh tubuh.
Cara menggunakan zat aditif yang aman dan mewaspadai zat aditif yang ada dalam makanan adalah dengan cara gunakan zat aditif sesuai dengan aturan, pastikan bahwa komposisi bahan yang digunakan telah memenuhi aspek kesehatan dan mengikuti peraturan yang berlaku. Periksa kemasan makanan untuk melihat ada tidaknya kebocoran, karat atau cacat fisik. Lihat tanggal kadaluarsa, periksa komposisi bahan kimia yang terkandung dalam makanan untuk menghindari . Makanan tanpa kemasan umumnya tidak tahan lama, jika ada makanan yang awet lebih dari yang seharusnya (misal mi basah yang tidak dibekukan) kemungkinan menggunakan pengawet yang berbahaya. Usahakan untuk menggunakan bahan kimia alami daripada bahan kimia buatan karena bahan kimia alami lebih aman. Nah, jadi sudah jelas bukan bagaimana pengaruh (dampak) zat aditif di dalam tubuh serta anjuran yang tepat dalam pengguanaan zat aditif makanan.
Berdasarkan hasil praktikum yang saya lakukan dengan anak-anak diantara makanan yang kami uji 80% mengandung zat aditif. Miris bukan? Padahal makanan-makanan tersebut sedang digandrungi untuk kalangan masyarakat. Berikut merupakan data yang kami peroleh pada saat praktikum berlangsung.
| No | Jenis Bahan | Warna Benang Wol Sebelum Dicuci | Warna Benang Wol Setelah Dicuci | Warna Hilang | Warna Tidak Hilang |
| 1 | Cendol | Hijau muda | Hijau muda | ✓ | |
| 2 | Selai Stroberi | Pink | Putih | ✓ | |
| 3 | Wafer Taro | Ungu | Ungu | ✓ | |
| 4 | Pancong | Hijau | Hijau | ✓ | |
| 5 | Gulali | Pink | Pink | ✓ | |
| 6 | Saus | Merah | Merah | ✓ |
Berdasarkan hasil pengujian yang disajikan dalam tabel diatas, dapat diketahui bahwa terdapat perbedaan stabilitas warna pada benang wol setelah proses pencucian. Proses pencucian dilakukan untuk membuktikan hasil warna makanan, setelah dilakukan proses benang yang dimasukkan kedalam bahan makanan yang telah dipanaskan diatas Bunsen.
Beberapa bahan makanan seperti cendol, pancong, gulali, dan saostidak mengalami perubahan warna pada benang wol setelah pencucian, dimana warna awal tetap dan tidak berubah (tetap bewarna asal). Hal ini mengindikasikan bahwa pewarna yang digunakan dalam bahan makanan tersebut kemungkinan besar mengandung zat aditif, karena memiliki sifat lebih stabil dan cenderung lebih tahan terhadap pencucian dibandingkan bahan lainnya. Pewarna buatan umumnya memiliki daya tahan yang lebih tinggi terhadap pencucian dibandingkan pewarna sintetik.
Di sisi lain, selai strawberi dan wafer taro menunjukkan perubahan warna yang signifikan, kedua bahan ini mengalami sedikit pemudaran, yang menunjukkan bahwa pewarna dalam selai strawberi dan wafer taro ini memiliki sifat tidak stabil dan cenderung tidak tahan terhadap pencucian dibandingkan bahan lainnya. Karena pewarna alami umumnya memiliki daya tahan yang lebih rendah terhadap pencucian dibandingkan pewarna sintetik.
Penelitian ini menunjukkan bahwa pewarna alami lebih mudah hilang dibandingkan pewarna buatan. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk lebih memahami jenis pewarna yang terdapat dalam makanan yang dikonsumsi sehari-hari. Menggunakan pewarna alami lebih disarankan karena umumnya lebih aman bagi kesehatan dibandingkan pewarna buatan yang bisa berdampak buruk jika dikonsumsi berlebihan.Zat aditif memang bertujuan untuk meningkatkan penampilan makanan menjadi lebih menarik, dan juga kualitas makanan, ya. Tapi, penggunaan zat aditif buatan yang terlalu banyak juga bisa berbahaya bagi tubuh, lho! Berikut adalah dampak zat aditif buatan yang berbahaya bagi kesehatan kita:
- Pemanis : Diabetes, obesitas, kanker
- Pewarna : Gatal-gatal, asma, dan tumor
- Pengawet : Alergi pada kulit dan luka pada lambung
- Penyedap rasa : Pusing dan mual
Nah, cukup itu saja dulu pembahasan tentang pengertian zat aditif serta dampaknya bagi tubuh. Jadi lebih berhati-hati dalam memilih makanan yang baik untuk kesehatan tubuhmu.
*) Image by istockphoto.com











