KURUNGBUKA.com – Konon, anak-anak bertumbuh bersama kata-kata. Artinya, anak-anak mendapat kata-kata baru, menggunakan atau mengabaikannya. Pengalaman dengan kata itu membuatnya bisa membentuk (peran) diri saat berhadapan dengan yang lain. Kata-kata kadang untuk diri sendiri, sejenis monolog yang dikehendaki mengubah keadaan.
Kita akan kesulitan menghitung kata atau membuat daftar kata saat diucapkan Anne, bocah yang mustahil diam jika menikmati perjalanan atau takjub alam. Ia mirip kamus yang terbuka, yang kata-kata berlepasan kegirangan. Yang dikatakan: “Apakah kita akan bahagia jika menjadi mawar?” Anne melihat segerumbul mawar. Mata dan mulut dalam persaingan makna.
Kalimat yang jatuh dari khayalan: “Bukankah akan menyenangkan jika mawar-mawar itu bisa berbicara? Aku yakin mereka akan menceritakan kepada kita hal-hal yang menyenangkan.” Ikhtiar bocah yang membuat mawar takluk dalam bahasanya. Anne tidak membiarkan mawar adalah mawar. Pengandaian: mawar yang berkata. Bunga itu seharusnya bermekaran kata.
Mawar yang indah kadang untuk kuburan. Di atas tanah, mawar memberi tanda hidup-mati. Anne tetap tidak mau diam. Maka, tokoh dalam novel Anne of Green Gables (2014) gubahan Lucy M Montgomery. Bocah yang keterlaluan dengan mengutip: “Hidupku adalah sebuah lahan pemakaman sempurna untuk harapan-harapan yang terkubur.” Mulut yang dituduh sembrono tapi menyatakan diri yang terjebak dalam fiksi, yang ingin mengalami ketimbang berhenti sebagai pembaca saja. Yang terkubur, yang mendapat mawar untuk segera layu dan musnah.
Dukung Kurungbuka.com untuk terus menayangkan karya-karya penulis terbaik dari Indonesia. Khusus di kolom ini, dukunganmu sepenuhnya akan diberikan kepada penulisnya. >>> KLIK DI SINI <<<


















