surat buat Azka Muhammad Arsyad.

KURUNGBUKA.com – Keputusanmu untuk melanjutkan SMA di luar kota adalah pilihan tepat. Bukan karena ‘Jawa’, namun karena dirimu tahu apa yang ingin kau jelajahi, pelajari & temui; dirimu tahu kau dilahirkan untuk hal-hal besar—jikalau saya boleh mengutip istilah terkenal itu—; dirimu tahu manusia hidup bukan untuk dirinya sendiri, melainkan untuk menebar kebermanfaatan orang lain. Jawa, sebagai pusat, memiliki fasilitas yang memadai. Akses menuju pameran, museum, perpustakaan, toko buku, kedai-kedai kopi yang menyediakan fasilitas diskusi ialah bahan bakar tak habis-habis yang mesti kau jelajahi. Sekolah sangat penting, namun ‘sekolah’ alternatif juga penting: ruang-ruang diskusi, sebagaimana yang pernah kau datangi di Medan, ialah tempat melihat pikiran orang lain sekaligus menguji pikiranmu—apakah benar yang selama ini kau pikirkan? Apakah benar kau tahu sesuatu? Apakah benar kau tahu sesuatu yang benar? Semua itu akan terbongkar ketika kau berhadapan dengan orang lain di sekolah alternatif yang saya maksud itu. Dengan begitu, kau mesti banyak membaca & jangan hanya terpukau dengan satu buku saja. Itu berbahaya, sangat berbahaya. Sebuah buku dapat menjadi berbahaya karena mampu menjadi doktrin, namun kau takkan masuk jurang itu, saya kira. Kau mampu membedakan mana yang mesti & mana yang dibuang. Membaca, di dunia yang resah-riuh, ialah membuat manusia berhenti. Duduk sebentar. Mendengar suara hatinya sendiri. Mendengar kata, kalimat & wacana dari teks yang dibaca—manusia, agaknya, telah terkurung oleh rutinitas yang berlebih & manusia tak ada bedanya dengan mesin yang mampu dipencet tombol on atau off-nya. Kegilaan ini yang mesti kau sadari bahwa kita memang ‘bukan’ mesin. Karena itu kita membaca, karena itu kita menikmati seni sebagai, bukan hanya, penyampai ekspresi—namun juga ‘tempat’ bermenung & menengok kembali apa yang telah kita lakukan seumur hidup.

            Esai-esaimu yang kau kirimkan pada saya telah saya baca & kesimpulannya sederhana: kau memiliki banyak ide untuk menyampai pikiran, namun bahasa yang kau gunakan ialah motif ‘berbicara’—tak ada salahnya, bahkan menarik bila motif itu yang kau gunakan dalam esai, namun motif itu penuh dengan risiko karena memiliki kesan tidak baik-benar dalam gramatika. Esai-esaimu adalah esai yang menggugat sekaligus menyampai pendapat dengan pandangan-pandanganmu terhadap hidup. Kegandrunganmu untuk membaca lebih banyak buku ialah bahan bakar untuk esai-esaimu, untuk kepenulisanmu yang saya yakin di masa depan akan jauh lebih baik. Saya optimis denganmu. O, ya, kau juga harus bersyukur mempunyai orang tua yang sangat berperan penting dalam pendidikanmu—saya yakin: orang tua adalah pondasi utama bagi seorang anak. Terlebih bagaimana mereka memberi kepercayaan & memberikan fasilitas yang sangat baik, sangat kau manfaatkan dengan baik. Orang tua adalah guru pertama, rumah bagi segala yang akan tumbuh dari diri sang anak. Anak-anak akan melebarkan sayapnya sendiri, tapi orang tua yang memberikan bahan-bahan membuat sayap itu, orang tua yang akan membuat sayap itu dari doa & usaha tak sudah-sudah … buku-buku yang kau lahap mestilah kau refleksikan sendiri atau bersama orang lain, buku-buku adalah teman paling setia. Membaca, bukan sekadar mendadapatkan informasi, namun bersikap terhadap teks di hadapanmu. Kau harus berani memberikan perspektifmu pada teks, pada buku, pada dunia. Seorang pembaca adalah seorang yang rakus, yang berani, yang melankoli, yang mencintai keindahan sekaligus ketakutan … seorang pembaca tak hanya menikmati pikiran penulis, namun juga memberikan pikiran baru dalam pikiran penulis tersebut. Seorang pembaca selalu ingin membuka dialog bagi apa pun; bagi sesuatu yang paling rentan, gawat & tabu sekali pun.

            Tulislah, tulislah apa saja. Keseharianmu, pikiranmu, orang-orang yang kau temui, tempat-tempat yang menurutmu indah bahkan hal-hal kecil yang menurutmu tak penting. Menulis adalah kegiatan yang bukan hanya membuatmu ‘lega’, namun juga membuatmu terus ‘berpikir’ mengenai dunia ini. Gagasanmu, cara pandanganmu, sikap-sikapmu yang menurutmu penting: tulislah … jangan pedulikan siapa yang akan membaca & respon mereka, tulislah terlebih dahulu, sebab segalanya mesti direkam oleh bahasa, menjadi sejarah … kau pasti tahu lagu yang terkenal itu: walaupun hidup seribu tahun, walau tak sembahyang & membaca-menulis apa gunanya?

            Medan, 2025

*) Image by istockphoto.com