KURUNGBUKA.com – Pada masa sekarang, orang-orang gampang bila mau membeli buku-buku Mochtar Lubis. Banyak bukunya yang terbit oleh YOI. Kita tidak tahun jumlah keterjualan semua buku. Namun, semangat besar YOI terus menghadirkan buku-buku Mochtar Lubis patut dipuji. Pengarang besar itu tetap mendapatkan pembaca. Yang membaca buku-buku pada masa lalu memiliki ingatan sambungan atas munculnya edisi YOI.

Kita jangan kaget. Mochtar Lubis itu pendiri YOI. Pada awalnya, buku-buku yang diterbitkan beragam tema. Di titik terpenting, sederat buku Mochtar Lubis capnya YOI, berbeda tampang dari yang terbita Pustaka Jaya. Dulu, banyak buku Mochtar Lubis yang diterbitkan Pustaka Jaya, selain beberapa penerbit.

Para kolektor biasanya suka yang edisi-edisi lama ketimbang YOI. Kini, kita mengingat itu bukan bermaksud membedakan peran dan dampak beberepa penerbit berkiatan Mochtar Lubis. Kita sekadar memberi pengantar untuk menyingkap debat sengit yang pernah terjadi di Indonesia. Mochtar Lubis ada dalam perdebatan, yang dihadapinya adalah Pramoedya Ananta Toer.
Di majalah Gatra, 30 September 1995, tersaji artikel satu halaman yang memuat foto Mochtar Lubis. Di situ, terbaca status Mochtar Lubis sebagai Ketua Yayasan Obor Indonesia (YOI). Dulunya, ia bekas pemimpin redaksi Indonesia Raya. Ia pun pendiri dan penggerak majalah sastra bernama Horison.

Mochtar Lubis yang keras kepala menjelaskan: “Teman-teman dan saya telah memprotes Yayasan Hadiah Magsaysay yang memutuskan untuk memberi hadiah kepada Pramoedya Ananta Toer. Saya ikut membubuhkan tanda tangan karena keyakinan saya bahwa seorang pengarang tak dapat melepaskan dirinya atau dilepaskan oleh pihak lain dari karya-karya sastranya. Pribadi pengarang, karya-karya sastranya, tindakan, sikap, dan nilai-nilai pribadinya adalah satu kesatuan yang utuh dan tak dapat dilepaskan dari yang lain.”

Mochtar Lubis mengetaui jejak rekam Pramoedya Ananta Toer dalam sastra dan lakon politik di Indonesia. Masa 1960-an menjadi masa mementukan kehormatan pengarang dan menilai posisi Pramoedya Ananta Toer. Mochtar Lubis menilai “dosa-dosa masa lalu” Pramoedya Ananta Toer tidak boleh terlupa dalam pemberian hadiah oleh yayasan yang berada di Filipina.
Pada suatu masa, Mochtar Lubis menerima hadiah. Namun, ia memilih mengembalikan hadiah setelah menolak keputusan pemberian hadiah kepada Pramoedya Ananta Toer. Debat besar itu melibatkan banyak pengarang dan intelektual yang mencipta kubu Mochtar Lubis melawan kubu Pramoedya Ananta Toer. Beragam tulisan malah pernah dikumpulkan dan diterbitkan menjadi buku sangking seru dan panasnya.

Pendapat yang disampaikan Mochtar Lubis: “Pemberian Hadiah Magsaysay kepadanya (Pram) berarti memberikan hadiah tidak hanya untuk novel-novelnya melainkan juga untuk serang-serangan sengitnya terhadap para sastrawan dan seniman nonkomunis di masa itu, semasa Partai Komunis Indonesia berbagi kekuasaan dengan Presiden Soekarno dan partai lain yang mendukun rezim Soekarno.” Masa lalu yang buruk. Masa lalu yang tidak mungkin dibersihkan. Mochtar Lubis menjelaskan secara lugas tapi tidak mau membuat bandingan-bandingan atas peran tokoh pada masa lalu dan arus sejarah yang dicipta dalam pelbagai kepentingan.

Suara-suara dari Mochtar Lubis itu diikuti banyak orang yang ikut mengecam atas pemberian hadiah kepada Mochtar Lubis. Namun, kita mencatat nama-nama besar berada di kubu Pramoedya Ananta Toer. Mereka membuat pembelaaan dan mengadakan ralat atas opini umum yang selalu menyalahkan sikap politik Pranoedya Ananta Toer. Kita makin mengetahui bahwa dua pengarang besar saling bermusuhan secara abadi, merasa tidak perlu untuk berdialog ulang agar tersibak kebenaran dan keberanian mengakui kesalahan.

Mochtar Lubis seolah kehabisan argumentasi dalam debat yang membara. Kita mengutip lagi: “Dengan memberi Pramoedya berupa Hadiah Magsaysay, maka Yayasan Hadiah Magsaysay telah mengaburkan garis tegas antara kreativitas artistik dan serangan-serangan politik yang keji, yang bertujuan tidak saja untuk menghancurkan sastrwan dan seniman nonkomunis melakukan kegiatan kreativitas.”

Kini, siapa masih bisa mengingat debat yang berlatar Orde Baru, yang memunculkan dua tokoh memiliki masa lalu berseberangan di rezim Soekarno. Pada masa Orde Baru, Mochtar Lubis tampil sebagai “pemenang” meski tetap berani memberi kritik pedas kepada Soeharto. Pramoedya Ananta Toer mendapatkan hukuman tapi terus menghasilkan buku-buku yang bikin ketagihan ribuan pembacanya. Hadiah telah membuat mereka “bertempur” saat menua dan sadar memiliki barisan penggemar yang fanatik.

*) Image by dokumentasi pribadi Bandung Mawardi (Kabut)

Dukung Kurungbuka.com untuk terus menayangkan karya-karya penulis terbaik dari Indonesia. Khusus di kolom ini, dukunganmu sepenuhnya akan diberikan kepada penulisnya. >>> KLIK DI SINI <<<