“Hari masih belum gelap. Mentari ibarat bola api di tengah-tengah pohon kayu putih dan khurnuh, atap-atap seng bergelombang di beberapa rumah memantulkan cahaya senja. Ia sedang membungkuk di depan tungku buat memasak, dan berhenti tatkala melihat mobil itu. Keluar dari jalan raya, belok menuju Amotape, melenting-lenting, meraung, mengepulkan asap dan debu, langsung menuju alun-alun.”
(Mario Vargas Llosa, Siapa Pembunuh Palomino Molero?, Komodo, 2012)
KURUNGBUKA.com – Pada saat membaca novel, kita terbiasa diajak melihat pemandangan melalui kata-kata. Pengarang yang ingin menghadirkan pembaca dalam ceritanya, wajib membuktikan bahasa mampu menghidupkan tempat dan suasana. Yang tidak ketinggalan tentu manusia dan benda yang mengukuhkan cerita. Pemandangan yang disajikan dalam kalimat-kalimat tidak harus “menguasai”. Pengarang dapat menjadikannya sebagai penguat atau pelengkap.
Namun, pembaca kadang malah terkesan. Pembaca merasa berada di suatu tempat. Yang dihadapinya bukan gambar atau foto, tapi deretan kata. Artinya, hidupnya pemandangan ditentukan pilihan kata dari pengarang yang pernah berada di suatu tempat atau sekadar membayangkan. Pada kalimat-kalimat yang sedikit, pembaca percaya dan menyadari bahwa tempat itu memang pengesahan atas cerita yang bermutu.
Llosa sekadar memberi “gambar” saat senja. Kita yang membaca menganggapnya biasa saja. Yang membaca berulang perlahan mendapatkan keyakinan bahwa pemandangan yang disajikan itu memikat. Llosa tidak memerlukan belasan kalimat tapi pembaca “menemukan” dan “mengalami”. Maka, novel yang digubah Llosa memiliki jaminan dalam pemandangan.
Kita berada di suatu tempat saat senja. Llosa sedikit puitis agar mat akita tidak selesai hanya dengan melihat. Pantaslah bila Llosa membahasakan matahari saat senja: “Mentari ibarat bola api…” Yang tampak adalah matahari tapi tidak sepanas saat siang. Ingatlah, pembaca ikut mengalami senja, yang belum malam.
Di permukiman, pembaca merasa dekat dan hadir meski berasal dari latar yang berbeda dan cara hidup yang berlainan. Llosa tidak memerlukan bahasa yang rumit tapi pembaca terkesan. Pemandangan yang realis bahwa seng bergelombang mendapat sinar matahari. Pada saat senja, pantulan itu tidak akan (terlalu) silau. Ada yang terasa indah meski rumah-rumah tidak mewah, apik, atau bersih.
Peristiwa apa yang terjadi saat senja? Ada sosok yang sedang memasak. Ia yang berada di depan tungku masih bisa memberikan matanya untuk melihat yang terjadi di luar. Pada saat memasak, ia tidak sepenuhnya dalam kesibukan yang tunggal. Mata yang memandang ke arah yang berbeda memungkinkannya berperan sebagai saksi atas segala peristiwa. Apakah cukup hanya sebagai saksi.
Pada suatu kepentingan, yang terbiasa atau berulang melihat untuk mengerti pola kejadian, ia berhak menjadi pencerita. Yang diceritakan memang tidak akan tepat tapi mendekati yang sebenarnya terjadi. Yang terpenting dalam masalah pemandangan dan mata adalah kemampuan memelihara ingatan. Padahal, ingatan-ingatan kadang menipis atau menebalkan ditentukan oleh pamrih pribadi dan tekanan-tekanan yang berdatangan dari orang lain.
Tokoh yang sedang memasak dan melihat ke arah yang lain membimbing pembaca mengetahui kejadian-kejadian yang bakal berkaitan. Yang memasak berbeda dengan sosok sedang mengendarai mobil. Namun, yang melihat dapat menyusun cerita dan pemaknaan dari bersumber mobil. Di situ, ada manusia-manusia yang mudah dihadirkan dalam cerita.
Pemandangan yang ditulis Llosa akhirnya membenarkan alur cerita dan peran para tokoh. Kita yang membaca cerita ikut merasakan dampak-dampak dari mobil yang melintas. Maka, pengarang mengesahkan pemandangan dengan mencantumkan asap dan debu. Telinga pembaca pun mendengar suara mobil. Yang mengesankan dalam cerita kadang pemandangan meski tidak disajikan dalam jumlah yang banyak.
*) Image by dokumentasi pribadi Bandung Mawardi (Kabut)
Dukung Kurungbuka.com untuk terus menayangkan karya-karya penulis terbaik dari Indonesia. Khusus di kolom ini, dukunganmu sepenuhnya akan diberikan kepada penulisnya. >>> KLIK DI SINI <<<







