“Kafe ini berada tepat di tengah kota besar, tempat yang cocok bagi pengembara sepertiku, yang butuh sekadar bersantai sejenak. Di sini, siapa pun bakal merasakan pelukan hangat masa lalu dan sekarang, keindahan masa lalu dan keagungan masa depan. Dan, yang terpenting, ada daya tarik dari sesuatu yang tak kuketahui asalnya, yang akhirnya membawaku ke sana… Namun, kini, kutemukan diriku mengalah pada pelbagai bentuk kegilaan! Walhasil, Kafe Karnak dapat menjadi tempat singgah dan bersantai saat ada kesempatan.”
(Najib Mahfudz, Karnak Kafe, Alvabet, 2008)
KURUNGBUKA.com – Pada masa sekarang, kaum muda terbiasa duduk di kafe. Mereka menikmati percakapan. Ada yang hanya untuk memuliakan kopi. Beberapa orang duduk, minum kopi, dan merenung. Ada pula kursi-kursi yang digunakan orang untuk membaca buku. Di kafe atau kedai, mereka memerlukan suasana, lampu, dan aroma agar membaca buku itu kenikmatan atau kelezatan. Yang tak dilupakan adalah berpotret.
Kafe menjadi dunia yang diinginkan dan dikangeni. Pada hari-hari yang ditentukan, mengunjungi kafe seperti ritual, yang memberi jeda atau hiburan atas keseharian yang menyiksa dan menjenuhkan. Kafe adalah jawaban, bukan sekadar minuman. Di situ, ada pembuatan pengertian-pengertian, yang diselaraskan dengan kaidah-kaidah pengelolaan kafe. Yang datang ingin memenuhi hasrat. Pulang, ia berharap perasaan dan pikirannya berbeda.
Kita mengunjungi kafe di negeri yang jauh: Mesir. Yang mengisahkan kafe bernama Najib Mahfudz. Ia terkenal di Indonesia. Buku-bukunya banyak yang sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia. Penentu dari kemonceraannya adalah meraih Nobel Sastra.
Di novel kecil berjudul Karnak Kafe, kita membaca sekaligus mengunjungi kafe. Beberapa hal, kafe itu sama dengan yang ada di Indonesia. Namun, ada yang istimewa, yang bercerita hiburan malam di Kairo dan pelbagai kota. Kita seolah menjadi pengunjung, berlaku sebagai tokoh buatan pengarang: tergoda dan ketagihan mengunjungi kafe. Kunjungan setelah penemuan yang tidak terlalu dikehendaki. Sejak mengenal kafe kecil dan anggun, ia menetapkan diri sebagai pengunjung, penikmat, dan penyaksi. Kafe menjadi dunia jeda yang membuat betah, tenteram, dan bahagia.
Di kafe, yang dialami adalah tautan waktu. Berkunjung tidak selesai dengan minum, melihat, bercakap. Di situ, ada waktu-waktu yang dibedakan batas dan khas. Kita berimajinasi kafe yang memiliki suasana mengikutkan silam. Bayangkan di sana ada foto atau benda-benda, yang memang mengawetkan masa lalu. Namun, yang berkunjung melihatnya pada masa yang berbeda.
Yang menentukan waktu: obrolan. Orang-orang yang bertukar cerita akan dibawa kembali ke masa lalu. Segala yang telah berlalu diingat sedikit demi sedikit. Yang merasa terhubung dan memiliki pengalaman yang sama seperti menetapkan mufakat atas masa lalu yang belum berakhir. Artinya, masa lalu masih bisa dihidupkan lewat kata-kata, yang diselingi tawa dan tersenyum. Yang saling bicara pastinya umurnya menua, yang merunut lagi masa masih muda. Di kafe, tua itu terlihat dan terasakan sambil menyadari yang bakal terjadi pada hari-hari mendatang.
Kafe sebagai tanda waktu dan usaha menjadi manusia. Kita tidak cukup menyebut yang datang dan membeli adalah konsumen. Ada tata cara yang istimewa dan kehendak lain, membuat orang yang betah berada di kafe dalam kunjungan rutin adalah pemberian makna yang berulang dan pemeliharaan kesan-kesan.
Penemuan diri di kafe kadang terjadi. Kita membaca adegan di kafe tidak cukup menghasilkan potret. Yang terbaca adalah dunia batin dan album ingatan. Minuman yang dinikmati membenarkan usaha mengalami waktu dan keinginan mencipta percakapan walau sejenak. Tatapan mata pun menghimpun cerita untuk ditinggalkan dan didatangi lagi.
*) Image by dokumentasi pribadi Bandung Mawardi (Kabut)
Dukung Kurungbuka.com untuk terus menayangkan karya-karya penulis terbaik dari Indonesia. Khusus di kolom ini, dukunganmu sepenuhnya akan diberikan kepada penulisnya. >>> KLIK DI SINI <<<







