KURUNGBUKA.com – Saya datang ke gala premiere Kafir: Gerbang Sukma tanpa ekspektasi apa pun. Jujur saja, dua film Kafir (2002) dan Kafir: Bersekutu dengan Setan (2018) yang tayang beberapa tahun lalu belum saya tonton. Tapi ternyata itu bukan masalah. Film ini berdiri cukup mandiri, ceritanya tetap bisa diikuti tanpa harus membawa beban ingatan dari film sebelumnya.

Ceritanya mengikuti Sri (Putri Ayudya), yang kini hidup bersama keluarganya setelah selamat dari peristiwa mengerikan di masa lalu. Dari luar, hidup mereka terlihat normal. Rumah, anak-anak, rutinitas—semuanya tampak baik-baik saja. Tapi sebagai penonton, saya langsung merasa ada sesuatu yang tidak beres. Ketenangan itu seperti permukaan air yang terlalu diam, menyimpan sesuatu yang gelap di bawahnya. Dan benar saja, rahasia masa lalu Sri perlahan muncul kembali, menjadi celah yang membuka teror baru yang jauh lebih personal.

Teror di film ini tidak datang dalam bentuk hantu yang menampakkan diri. Justru itu yang membuatnya terasa berbeda. Gangguannya menyusup ke pikiran, ke batin, ke hubungan antaranggota keluarga. Rasanya seperti ancaman yang tidak terlihat, tapi nyata. Ada rasa tidak nyaman yang pelan-pelan menumpuk, dan saya menyadari horor paling efektif di sini bukan yang membuat kaget, tapi yang membuat gelisah lama setelah adegan lewat.

Pasangan kakek-nenek yang diperankan Arswendy Bening Swara dan Muthia Datau benar-benar menciptakan sosok yang menyeramkan dengan cara yang tenang. Mereka bukan tipe antagonis yang berisik atau meledak-ledak, tapi justru dingin dan meyakinkan sebagai figur psikopat sekaligus budak setan. Tatapan dan gestur kecil mereka sudah cukup bikin saya merinding. Putri Ayudya sebagai Sri juga tampil kuat. Meski usianya relatif muda, ia meyakinkan sebagai ibu beranak dua dengan beban masa lalu yang berat. Emosinya terasa matang, dibantu makeup dan pendalaman karakter yang rapi.

Film ini sempat mengingatkan saya pada horor investigasi Korea Selatan Exhuma (2024) yang juga bermain di wilayah praktik perdukunan. Bedanya, Kafir: Gerbang Sukma terasa sangat lokal tanpa terlihat seperti tempelan budaya. Unsur santet, perdukunan, dan latar etnisnya menyatu dengan cerita. Kehadiran Sujiwo Tejo sebagai Jarwo, dukun misterius, memberi warna yang khas—bukan cuma tokoh spiritual, tapi seperti penjaga gerbang antara yang terlihat dan yang tidak.

Secara visual dan gagasan, film ini berani. Ada adegan-adegan yang cukup ekstrem dan mengejutkan, tapi tetap terasa dalam batas yang bisa diterima banyak penonton. Gore-nya ada, tapi tidak berlebihan sampai jadi tontonan yang melelahkan. Justru terasa sebagai bagian dari atmosfer, bukan sekadar sensasi.

Azhar Kinoi Lubis sebagai sutradara terlihat mendorong ceritanya sampai ke batas paling gelap, dengan dukungan penulisan dari Upi Avianto dan Dea April. Tapi di tengah banyak hal yang saya apresiasi, ada satu catatan yang cukup mengganggu: film ini masih sering terlalu menjelaskan lewat dialog. Beberapa momen yang sebenarnya sudah kuat secara visual tetap diberi penjelasan lisan, seolah film belum sepenuhnya percaya penontonnya bisa menyusun makna sendiri. Ada juga adegan yang seharusnya bisa sunyi, tapi justru diisi percakapan yang terasa kurang alami.

Babak awal film juga terasa agak lambat. Untuk penonton yang tidak sabaran, bagian pembuka ini bisa terasa dragging. Tapi untungnya, memasuki babak kedua dan ketiga, tensinya naik dengan signifikan. Misteri mulai terkuak, konflik makin personal, dan rasa penasaran saya justru dijaga dengan baik sampai akhir. Ending-nya pun terasa memuaskan—tidak berisik, tapi meninggalkan bekas walaupun terlalu banyak sekali jumpscare, bahkan di scene yang rasanya tidak perlu ada teriakan.

Saya salut, dengan setting yang tidak banyak dan karakter yang relatif terbatas, film ini mampu menjaga intensitas dan rasa tidak nyaman secara konsisten. Kafir: Gerbang Sukma terasa seperti horor yang ingin bermain di wilayah psikologis dan spiritual sekaligus, bukan sekadar mengandalkan kejutan sesaat.

Tayang 29 Januari 2026, film ini menurut saya layak jadi alternatif di tengah ramainya horor mainstream yang polanya sering terasa mirip satu sama lain. Ini bukan film yang sempurna, tapi punya keberanian ide dan menawarkan atmosfer kengerian yang kuat.

Skor: 7,5/10.