KURUNGBUKA.com – Senin lalu, (30/12/2024) saya terbangun tengah malam sekira pukul 02.47 WIB oleh panggilan telepon dari Daru, salah seorang Relawan di Komunitas Rumah Dunia. Dalam keadaan setengah sadar, saya tidak segera menerima panggilan darinya. Entah bagaimana saya tidak enak perasaan saat itu, sebab Daru tidak pernah menelepon saya tengah malam kecuali akan mengabari hal-hal penting dan mendesak. Lekas saya menyalakan mode pesawat sembari berusaha menenangkan diri. Pukul 06.32 pagi setelah mandi, saya menyalakan lagi ponsel lalu tiba-tiba Baehaqi alias Arif, relawan Rumah Dunia yang saat ini sedang bekerja di Australia juga menghubungi saya dan belum berani saya terima panggilannya. Kali ini disertai pesan beruntun dari kawan-kawan yang masuk ke WhatsApp saya. Perasaan saya semakin tidak keruan. Sejujurnya, saya belum sanggup membaca satu per satu pesan yang sudah saya duga apa isinya itu.
Setelah mengambil beberapa jeda untuk mengatur napas dan mengumpulkan kesadaran, saya beranikan diri membaca puluhan pesan yang masuk. Saya tidak benar-benar membaca isi pesan yang panjang itu, saya hanya menemukan namamu, Abdul Salam bin H. Husni. Saya berhenti membaca, jantung saya terpompa lebih cepat memicu air mata menetes tanpa bisa saya tahan lebih lama lagi. Kau telah tiada, Lam. Kau telah berpulang─kabar yang sampai 7 hari kepergianmu belum sepenuhnya bisa saya terima.
Dugaan-dugaan itu muncul bukan tanpa alasan. Hari pertama Salam masuk rumah sakit, kami segera menjenguknya. Kami mengobrol dan bercanda seperti biasanya. Bedanya Salam terlihat lemah di ranjang rumah sakit kala itu. Saya mengira bahwa 2-3 hari saja dia dirawat di rumah sakit, karena terlihat dia hanya butuh istirahat total saja dari kesibukannya. Namun rupanya, hari itu menjadi pertemuan terakhir saya dengannya. Kabar tentang kesehatannya terus di-update oleh Kang Rahmat Heldy di grup Komunitas Rumah Dunia. Satu per satu relawan dan teman-teman berkunjung menjenguknya. Saya yakin Salam akan sembuh dan kembali berkegiatan seperti biasanya setelah mendapatkan semangat dan dukungan dari orang-orang terdekatnya. Namun tidak ada yang tahu usia seseorang untuk berapa lama hidup di dunia ini. Semua hanyalah rahasia Tuhan. Saya menyesal tidak menemuimu lagi di rumah sakit, Lam. Maafkan saya, Lam.

Abdul Salam HS adalah penyair yang paling siap menghadapi kematian. Sering saya temukan di puisi-puisi yang ditulisnya. Dia adalah hamba-Nya yang selalu merindukan jalan pulang. Hal tersebut yang membuat saya tidak khawatir lagi dengan kepergiannya. Meski dia meninggalkan istri dan seorang anaknya, dia tampak sudah menyiapkan semuanya. Dia mengelola Rendez-vous Cafe di Rumah Dunia, dia mempunyai pegawai untuk mengelolanya. Bahkan, kabar dari kakaknya saat di rumah sakit pun Salam masih menelepon calon pegawai barunya untuk membantu meng-handle selama dia dirawat di rumah sakit. Salam selalu memikirkan orang lain bahkan di saat tubuhnya membutuhkan perhatiannya.
Salam orang baik, sangat baik. Dia salah seorang yang berperan besar dalam membesarkan Kurungbuka.com sebagai Redaktur Puisi. Bahkan dia yang memperjuangkan saya mendapatkan laptop baru untuk bekerja sebagai Pemimpin Redaksi Kurungbuka.com karena dia tahu laptop saya saat itu sudah buluk─meskipun saya anggap laptop ini sebagai inventaris kantor yang suatu hari akan saya kembalikan ke pengurus Rumah Dunia.
Perjumpaan saya dengan Abdul Salam pertama kali ketika saya mengikuti kelas menulis di Rumah Dunia tahun 2013-2014. Dia senior saya yang ramah kepada siapa pun. Diawal perkenalan saya memanggilnya Kang Salam. Saat itu saya tidak tahu kalau ternyata selisih usia kami tidak jauh. Seiring berjalannya waktu, kami semakin dekat. Salam menjadi teman berdiskusi dan berdebat saya. Kami gemar saling melempar kritik bagi karya masing-masing. Seringnya dalam balutan canda. Tidak ada yang sampai ke hati, kalaupun ada kami akan langsung menyampaikannya saat itu juga. Tak jarang kami sering berseberangan dalam menanggapi sesuatu, tetapi tak jadi soal, memang pertemanan semacam itu yang kami jalani.
Belakangan, Salam menjadi alasan saya datang ke Rumah Dunia lantaran satu per satu relawan yang seangkatan saya sudah tidak tinggal lagi di sana. Dialah yang masih bertahan di sana sebagai Presiden Rumah Dunia. Namun sekarang, setelah kepergiannya, Rumah Dunia tidak akan lagi sama. Tidak akan. Terlalu banyak kenangan saya bersama dengannya. Semua hal kami bicarakan, mulai dari mimpi-mimpi, rencana hidup di masa depan, hingga tak lepas dari ghibah satu sama lain. Kami sering menertawakan sesuatu yang bagi orang lain tidak lucu. Kami sering berkaraoke walaupun suara kami sama-sama pas-pasannya. Salam teman “gila-gilaan” saya!
Saya masih tidak percaya dia berpulang lebih dahulu. Sejak hari pertama kepergiannya, saya tak bisa menulis apa pun, bahkan saya belum berani mengunjungi Rumah Dunia. Saya masih sering terbayang wajahnya, suara khasnya dan gaya bercandanya. Saya masih belum bisa melepaskan semua kenangan dengannya, walaupun beberapa kali saya tetap menghadiri tahlilan di rumah orang tuanya, mendoakan bersama semoga dia mendapatkan tempat terbaik di sisi-Nya.
Pada akhirnya, hidup harus terus berjalan. Salam pun pasti tidak ingin kami berlarut-larut dalam kesedihan atas kepergiannya. Kami harus bisa merelakan dan mengikhlaskannya walaupun begitu berat. Saya harus merilis perasaan ini agar semuanya terasa ringan. Buku kumpulan cerita pendek terbaru saya, Perangkap Pikiran Beni Kahar saya jadikan persembahan terakhir untukmu, Abdul Salam HS.
Saya kembali teringat ketika mengaji di hadapan jasadnya dan melihat dia akan dimandikan, saya teringat puisi Sehabis Suara Gemuruh yang ditulis oleh mendiang Sapardi Djoko Damono tahun 1973 lalu:
sehabis suara gemuruh itu yang tampak olehku hanyalah
tubuhmu telanjang dengan rambut terurai
mengapung di permukaan air bening yang mengalir tenang –
tak kausahut panggilanku.
Kepergian Abdul Salam HS, sang Malaikat Waringin (judul buku puisinya) menjadikan penutup tahun 2024 sekaligus awal tahun 2025 berwarna kelabu dan menyisakan perasaan haru biru. Tetapi hidup harus terus berjalan. Terus berjalan….
Terang jalanmu, tenang di sana
Selamat berpulang, Penyair!
Cilegon, 06 Januari 2025
















