KURUNGBUKA.com – (11/07/2024) Yang tetap diributkan: fakta dalam fiksi. Beberapa penulis tak mau memberi jawaban bertele-tele dan bertengkar untuk meenyatakan ada fakta dalam fiksi yang ditulisnya. Beberapa penulis sengaja bermain fakta dan fiksi. Kita masih mendapat beberapa pengakuan yang meributkan fakta dalam fiksi.
Kalimat yang bisa keliru jika kita mengikuti kemauan para penulis dan pengamat kesusastraan. Yang masih rajin ribut kadang menggeser ke masalah berita (fakta) dan cerita (fiksi). Kita yang memilih sebagai pembaca ikut kecipratan dampak-dampak yang membingungkan.
Nadine Gordimer biasa dihadapkan masalah fakta dalam fiksi. Ia mampu menjawab terang dan samar. Pengalamannya sebagai penulis dapat menjadikan jawabannya berbobot. Nadine Gordimer mengungkapkan: “Dilihat dari yang ditulisntya , ‘penulis fiksi’ sering dipersepsikan sebagai sesuatu yang fiktif.”
Hal itulah yang menentukan nasib tulisan, yang di hadapan pembaca mudah mendapat pertanyaan dan kesangsian. Pembaca yang yang berkutat dengan fakta-fakta. Padahal, tak selamanya ada kewajiban melakukan pembuktian yang rinci dan lengkap.
Kejutan dalam keterangan Nadine Gordimer: “Kesusastraan adalah suatu penyamaran usang yang senantiasa ditelanjangi dengan senang hati; sebuah praktik kanibalisme intelektual yang dipertunjukkan.” Kita meyakini itu bukan omong kosong yang disampaikan saat makan malam. Ia yang mendefinisikan penulis, yang sering dilanda fakta dan fiksi.
Nadine Gordimer melanjutkan: “Imajinasi seorang penulis adalah barang jarahan yang diambil dari kehidupan orang lain.” Yang dilakukan adalah menulis. Hasilnya menjadi bacaan yang menimbulkan penasaran mengenai penulis dan caranya mengolah fakta dan berimajinasi.
(Nadine Gordimer, 2004, Writing and Being, Jalasutra)
Dukung Kurungbuka.com untuk terus menayangkan karya-karya terbaik penulis di Indonesia. Khusus di kolom ini, dukunganmu sepenuhnya akan diberikan kepada penulisnya. >>> KLIK DI SINI <<<
















