Johan adalah mahasiswa di salah satu universitas yang berada di negeri Konoha dan sedang berada di masa-masa penentuan hidupnya ke depan. Johan tengah menjalani sidang skripsinya tentang suku-suku pedalaman yang jarang terjamah dan keberagaman adat di Konoha yang telah direvisi beribu kali sebelumnya. Setelah melewati sidang skripsi yang penuh pertanyaan dari juri, ia pun pergi keluar ruangan sidang dan menuju ke salah satu restoran dekat kampusnya.
Saat Johan sedang menikmati dada ayam dengan sambal bawang di atasnya, beserta kepulan nasi yang baru dihidangkan oleh pelayan restoran, sambil mengirimkan pesan kepada temannya, mereka janjian untuk ikut kegiatan lari esok hari, telepon genggam di sakunya bergetar. Johan pun membersihkan tangannya seadanya dan segera mengambil benda yang membuatnya penasaran itu dan membaca nama yang tertera di atasnya. Ternyata yang mengganggu waktu makan siangnya adalah Tono, teman karibnya. Johan pun segera mengangkat panggilan masuk dari Tono.
“Halo, cemana sidangnya, Bro?” orang di seberang sana memulai pembicaraan.
“Aman aa tadi, apa cerita?” balas Johan.
Setelah berbasa-basi, Tono ternyata berniat mengajak Johan untuk mendaki gunung. “Biar nggak stres kali kau” tutur Tono. Johan pun mengiyakan ajakan Tono.
Di malamnya, Johan baru diberi tahu bahwasanya mereka pergi mendaki tidak sendiri, melainkan berlima, Zaki teman satu geng Tono dan Johan, beserta dua teman Tono.
Malam itu, Johan video call dengan dua temannya itu untuk membagi barang bawaan bersama. Karena waktu tempuh yang dibutuhkan untuk sampai di puncak Kawi adalah tujuh hari tujuh malam, logistik yang dibutuhkan untuk lima orang jelas harus dipersiapkan dengan matang. Tidak boleh lebih, tidak boleh kurang. Mereka pun merencanakan mau makan apa saja selama di gunung nanti, mereka menutup “rapat” itu pada pukul 23.48 dan catatan waktu selama empat jam dua puluh satu menit. Setelah itu, Johan pun segera mencuci mukanya dan menyikat gigi lalu bergegas pergi ke ranjangnya untuk tidur.
Esok paginya, Johan bangun pukul setengah empat dan bersiap untuk mengikuti kegiatanlari. Ia berangkat sendirian dari apartemennya menggunakan sepeda motornya dengan jersey lari yang melekat pada tubuhnya. Sesampainya di lokasi kegiatan, sudah ramai peserta yang datang dan bersiap. Johan segera memarkirkan sepeda motornya dan mencari satu wajah yang telah menautkan janji dengan Johan untuk mengikuti lari bersama pagi ini. Ia menemukannya di dekat keramaian garis mulai.
“Hai, Ser!” sapa Johan kepada perempuan yang memakai jersey dan menggunakan rok sepaha di depannya.
“Hai juga, Han!” jawab perempuan itu. “Pemanasan bareng yuk” ajak Johan.
Mereka pun melakukan pemanasan tidak jauh dari garis mulai. Setelah pemanasan selama lima belas menit, panitia acara mulai memanggil para peserta 10K untuk bersiap di garis awal. Mereka menuju garis mulai dan memasang earphone ke telinga masing-masing dan memasang musik, begitu pula perempuan di sampingnya.
Setelahnya, panitia acara pun menghitung mundur dan peserta bersiap di garis mulai. Selama lari, mereka berdua hanya menikmati lagu yang terputar sesuai playlist masing-masing dan semilir angin yang berhembus melewati seluruh tubuh mereka yang kelamaan dibasuh oleh keringat. Johan sengaja menyamakan kecepatan lari nya dengan Ashera, perempuan yang bersamanya, agar mereka dapat menyelesaikan lari dengan bersama-sama.
Mereka mencapai garis akhir dengan catatan waktu satu jam lewat tujuh menit. Sesampainya di garis akhir, mereka menerima hadiah dan sedikit kudapan dari penyelenggara. Setelahnya mereka mengabadikan kegiatan bersama mereka tersebut dengan foto bersama dan sarapan di warung lontong Wak Ujang yang berada di dekat tempat lari yang tadi mereka ikuti.
Seusai kegiatan Johan di pagi hari itu, dia kembali ke apartemennya pada pukul sepuluh. Sesampainya di apartemen, dia langsung membersihkan dirinya dan menata kamarnya. Setelah itu, ia berselancar di media sosial nya dan terlelap tanpa disengaja. Ia baru bangun menjelang pukul dua. Sebenarnya ia masih mengantuk, namun ia memiliki janji dengan Tono dan Zaki untuk belanja kebutuhan mereka untuk nantinya di gunung pada pukul tiga sore ini.
Johan pun bersiap-siap dan meninggalkan apartemen menuju supermarket tempat mereka bertiga mengikat janji. Ternyata Tono dan Zaki sudah datang terlebih dahulu dari Johan, mereka pun memulai mencari logistik, dan perlengkapan lainnya. Pada pukul delapan malam, mereka bertiga baru selesai belanja dan keluar dari supermarket. Seusai belanja, mereka memilih untuk menongkrong di kafe yang sedang hits. Tidak banyak yang mereka lakukan, hanya mabar Mobile Legend dan bercakap-cakap tentang rencana pendakian mereka lima hari lagi.
Johan baru sampai di apartemennya pada pukul sebelas malam. Ia pun membersihkan dirinya dan bergegas menuju tempat tidurnya, tapi Johan teringat bahwa Ashera mengirimkan pesan padanya saat sedang berkendara tadi. Ternyata Shera mengajak Johan untuk pergi bersama dengannya di esok hari, karena Johan tidak punya agenda yang mendesak, Johan pun mengiyakan ajakan Shera. Johan pun tidur dalam suasana hati yang senang.
Esok harinya, Johan bangun kesiangan, ia baru membuka matanya pada pukul delapan pagi. Ia bangun dan membereskan kasurnya. Ia bosan, tak tahu ingin melakukan apa di pagi ini. Jadi Johan menghabiskan paginya dengan berkendara mencari sarapan untuknya, dia membawa motornya kepada salah satu warung langganan bagi motornya parkir, Lontong Pagi Wak Ujang. Ia segera mencari kursi kosong di tengah keramaian warung Lontong langganannya itu. Johan memesan Lontong sayur dengan telur rebus beserta air hangat untuk memulai paginya.
Tak berselang lama, pesanannya datang, inilah yang membuat Johan terpikat dengan warung Wak Ujang, selain rasa lontongnya yang enak, penyajian makanan disini cepat dan kondisi makanannya masih hangat. Johan pun menyantap hidangan di depannya dengan hikmat. Setelah membayar semua tagihan sarapannya, Johan bersiap menaiki motornya lagi saat telepon genggam di sakunya bergetar dan mengeluarkan suara notifikasi yang khas. Ia pun segera melihatnya, ternyata kabar dari Shera. “Kita pergi jam sebelas ya,” Johan pun mengiyakan dan membalas pesan itu.
Setelahnya Johan memutuskan untuk kembali ke apartemen untuk mandi dan bersiap menjemput Ashera di rumahnya. Pada pukul sepuluh, Johan sudah menaiki lambo nya menuju rumah Shera. Rencananya mereka akan pergi makan siang untuk mencoba suasana di kafe yang baru saja buka di kota mereka. Mereka membicarakan banyak hal dan bertukar cerita. Di sela-sela curhatan Johan, ia bertanya kepada Shera. “Kamu bisa jawab semua pertanyaan aku berdasarkan pengalaman, ya? Banyak banget yang udah kamu laluin ya” sambungnya. Shera hanya tersenyum mendengar ucapan Johan.
Johan melalui hari nya dengan baik, begitu pula dengan Shera yang merasa senang telah ditemani oleh Johan. Johan baru mengantarkan Shera pada pukul delapan malam, sesuai janjinya pada orangtua Shera. Setelahnya Johan tak lagi melanjutkan malamnya di luar, ia memilih untuk kembali ke apartemennya dan segera beristirahat.
Keesokan paginya, Johan bangun dan menjalani hari seperti biasa yang ia lakukan, ia pergi ke kampus dan di sore harinya dia akan berlatih fisik lebih keras karena ingin mendaki gunung empat hari lagi. Dia mengulang kesehariannya itu sampai hari Jumat, hari dimana mereka memulai pendakian gunung Kawi.
Pada hari Jumat, sebelum matahari menampakkan dirinya pada dunia, Johan telah bersiap dan berangkat menuju gunung Kawi dengan atribut anak gunung beserta carrier yang tersampir pada pundaknya. Johan bersama teman-temannya memulai pendakian pada pukul dua belas siang. Perjalanan mereka berjalan lancar, mereka berkenalan satu sama lain, mengobrol, dan saling membantu. Tetapi, masalah datang pada hari keempat pendakian.
Di malam sebelumnya, malam ketiga, Johan sempat berselisih pendapat dengan salah satu teman Tono yang bernama Budi. Budi dan Johan berbeda pendapat kapan mereka akan istirahat. Johan yang kurang enak badan meminta agar mereka dapat bermalam saat itu juga, padahal itu masih pukul tiga sore. Sedangkan menurut Budi mereka harus melanjutkan perjalanan lagi setidaknya satu sampai dua jam kedepan.
Akhirnya, setelah mereka berlima berembuk, mereka memutuskan untuk bermalam tak jauh dari tempat mereka berdiri sekarang. Karena merasa pendapatnya tak di hargai, Budi pun merasa di rendahkan dan menyimpan dendam pada Johan, namun ia tetap mengikuti teman-temannya untuk bermalam.
Johan bangun dengan kondisi yang lebih parah dari kemarin malam, ia merasa pusing dan meriang di pagi itu. Setelah sarapan, Johan meminum obat yang sudah dibawa oleh Zaki untuk berjaga-jaga. Mereka meneruskan perjalanan di hari kelima dengan lancar, sampai lah Johan mendapat “panggilan alam”, Budi ditugaskan untuk menunggu Johan selesai membuang hajatnya karena Budi sudah hafal trek yang akan di lewati, namun karena Budi memiliki dendam dengan Johan, ia rela meninggalkan Johan yang saman sekali tak mengenal trek yang akan dilalui.
Johan yang telah selesai membuang hajatnya kebingungan akan keberadaan Budi, akhirnya setelah mempertimbangkannya, Johan memilih untuk berjalan tanpa tahu arah dan tujuannya. Ia hanya mengikuti jalan yang terbentuk dengan alami. Di sisi lain, Budi telah sampai dan menyusul teman-temannya yang lain. Teman-temannya pun bertanya kepada Budi, “Bud, mana si Johan?” Ucap Tono.
“Tadi dia nyuruh gue untuk duluan aja, jadinya gue tinggal aja Deh” balas Budi. Teman-temannya sempat tak percaya dengan perkataan Budi, namun entah bagaimana caranya, Budi berhasil meyakinkan mereka bahwa Johan baik-baik saja.
Sampai dua jam setelah kejadian itu, teman-teman Budi mulai curiga dengannya karena Johan tak kunjung menampakkan dirinya. “Bud, ini udah mau maghrib, yakin kau Johan aman aja?” Teman-teman Budi terus mencecar Budi dengan pertanyaan-pertanyaan yang membuat Budi tersudut Dan membuat Budi akhirnya mengakui perbuatannya kepada Johan.
Teman-temannya begitu terkejut Dan tidak menyangka akan sikap Budi, akhirnya mereka semua memutuskan untuk bungkam dan bersikap seolah-olah Johan memang tidak mengikuti pendakian mereka dari awal. Di sisi yang lain, Johan yang tadinya mengikuti jalan yang ia kira terbentuk alami oleh para pendaki, hingga sekarang masih belum menemukan keberadaan pos maupun teman-temannya. Akhirnya, karena Johan salah satu yang ditugaskan untuk membawa beberapa logistik Dan satu pasang tenda, ia memutuskan untuk bermalam di tempat yang lumayan luas, sendirian.
Keesokan harinya, Johan sudah tahu bahwa dirinya terpisah dari rombongan. Maka ia pun memutuskan untuk bertahan hidup dengan sisa logistik yang kian menipis. Hari ini Johan memutuskan untuk mencari tempat yang luas untuk membuat tulisan “SOS” agar ketika nantinya tim penyelamat tiba, mereka mudah menemukan dirinya. Sedangkan di sisi lain, teman-teman Johan sudah hampir sampai pada puncak gunung Kawi. Tidak ada salah satu dari mereka yang merasa bersalah ataupun resah, mereka sangat bahagia ketika sampai pada puncak gunung Kawi.
Johan pun mendapatkan tempat yang lumayan luas dan terbuka yang dipenuhi pepohonan serta aliran sungai yang tampak segar, entah dimana keberadaanya sekarang karena ia berjalan jauh sekali dan sepertinya ia tak berada di gunung Kawi, ia pun menjadikan tempat tersebut sebagai tempat ia tinggal untuk beberapa hari ke depan. Semua kebutuhan yang diperlukannya untuk bertahan hidup telah tersedia.
Namun Johan tak ingin diam saja di tempatnya, ia memilih untuk bertualang di dalam hutan yang rimbun itu sampai ia dapat ditemukan oleh tim penyelamat. Sekitar lima hari menunggu jemputan, ternyata tidak ada satupun tanda-tanda akan keberadaan tim penyelamat. Jadi Johan pun meneruskan penjelajahannya, ia juga masih hidup dengan tenang, ia makan ikan lezat dari sungai, ia mandi di sungai dan hal seru lainnya.
Dan ternyata, ada alasan tim penyelamat tak kunjung datang untuk menyelamatkan Johan. Setelah Tono, Zaki dan yang lainnya turun dari gunung, mereka ditanya oleh keluarga Johan tentang keberadaan pendaki lelaki itu. Akhirnya mereka mengaku bahwa mereka sengaja meninggalkan Johan di gunung Kawi, keluarga Johan pun langsung melaporkan kejadian itu kepada pihak berwajib. Namun sayangnya, sistem di Konoha tak selalu berjalan dengan baik, aparat setempat tak menganggap serius kasus itu. Mereka lebih fokus atas kasus tentang salah satu selebriti di Konoha dibandingkan kasus hilangnya seorang pendaki.
Di sisi lain, tampaknya Johan dapat menikmati hidupnya yang terjebak di hutan itu. Ia sudah tak berharap kepada tim penyelamat lagi, karena sudah hampir dua minggu lamanya ia terjebak di sana. Pada hari ke lima belas ia menjelajah, ia dapat melihat kepulan asap dari kejauhan. Johan pernah membaca, jika ada asap, maka di dekatnya ada orang yang sedang memasak atau membakar sesuatu. Maka, Johan pun bergegas menuju sumber asap itu mengepul, dan ternyata benar! Ia menemukan sebuah desa yang dihuni oleh suatu suku, meskipun ia telah membuat skripsi tentang suku-suku di Konoha, Johan tak dapat mengenali itu suku apa.
Akhirnya, Johan memberanikan diri untuk masuk ke dalam desa tersebut dan ternyata ia disambut baik oleh ketua suku setempat. Dan syukurnya, ketua suku itu dapat berbicara dengan bahasa Indonesia. Johan pun menceritakan awal mula perjalanannya, mulai dari ia berangkat dengan teman-temannya, sampai ia menemukan tempat menunggu tim penyelamat.
Setelah mendengar cerita Johan, ketua suku itu menawarkan Johan untuk bermukim di desa nya yang ternyata bernama desa okomolo. Para warga desa pun sepakat dan menyambut dengan sangat baik tamu mereka itu. Akhirnya, karena hari sudah menjelang malam, Johan pun beristirahat di desa itu. Di keesokan harinya, Johan dibantu oleh warga desa kembali ke basecamp nya untuk mengambil barang-barang Johan.
Dan semenjak hari itulah, Johan menjadi warga desa okomolo dan semenjak itu juga nama Johan menjadi salah satu orang yang hilang di pendakian gunung Kawi setelah kasusnya ditutup sebulan setelah laporan diterima.
Lalu, apa nasib kawan-kawan Johan? Mereka dihantui rasa bersalah setiap harinya, mereka selalu menyelipkan nama Johan dalam doa kepada tuhan mereka masing-masing. Dan mereka berempat juga menjadi pendaki yang di blacklist dari pendakian semua gunung.
*) Image by istockphoto.com















