dajjal berseragam.
ke mana para penorobos badai melajukan kemudi
saat masa depan berbalik menghantam bagai bumerang?
ratusan gagak hitam berhamburan dari ufuk barat,
menerjang wajah dan mencungkil paksa akal sehatku.
gemuruh debu kesangsian menebal menutupi aspal
membuat langkah kita makin gamang—kehilangan pijakan.
tak ada kesetiaan hujan pada musim yang kacau-balau,
apalagi saat watak kebinatangan hadir merajalela.
dari rahim mana lahirnya tabiat para perusak ini?
kau tak perlu repot mencari dajjal atau iblis bertanduk—
kejahatan paling rapi kini memakai wujud manusia.
aku terus mengawasimu dari trotoar basah ini,
melihat zaman bergegas menuju kehancuran,
di kota yang menjelma perlintasan keputusasaan.
***
runtuh di perempatan.
dalam kekosongan yang paling senyap hari ini—
tak ada yang tersisa selain riuh pertentangan di kepala.
segala yang kupegang luruh sebelum sempat kukecam,
dan masa depan telah runtuh di perempatan jalan.
masa lalu dan masa depan sama-sama menolak genggam,
sebab di bilik terdekat, kulihat orang-orang sibuk bicara—
mendesain manipulasi demi sekerat kuasa yang fana,
dengan dusta-dusta yang diputar layaknya main lotre.
tak ada kearifan yang tumbuh di perempatan ini,
hidup sekadar panggung teater paling banal,
tempat setiap orang berlomba mendaftar jadi antagonis.
kini mesin waktu bergerak menggilas tanpa ampun,
pada sesiapa yang mematung pasrah menunggu takdir,
membiarkannya busuk pelan-pelan di dalam kekosongan.
*) Image by istockphoto.com


















