“Namun, di kedai terakhir yang bersebelahan dengan masjid agung, tepat saat aku berbalik pulang, seorang penjual buku bekas yang sudah uzur dan belum kuajak bicara sama sekali, mendatangiku tanpa penutup kepala, dan menyerahkan sebuah buku padaku. Aku membuka halamannya secara acuh. Dengan mengikuti kata hati yang hingga kini tak mampu kujelaskan, aku mulai membaca keras-keras kata-kata yang tertangkap mataku: Mereka berkata waktu akan segera usai/ Bahwa hari-hari sudah kehabisan napas/ Mereka berdusta. Penulis buku adalah Abu Ala, penyair buta dari Maarta. Mengapa lelaki tua itu meletakkannya dalam genggaman tanganku? Mengapa buku itu terbuka tepat di halaman tersebut? Dan, apa yang membuatku membaca dengan suara keras di tengah jalan?”

(Amin Maalouf, Balthasar’s Odyssey, Serambi, 2006)

Orang yang mencari buku atau kitab memiliki petunjuk: benar atau salah. Yang terus mencari menyadari ada “bisikan” atau “panggilan”, membuatnya terus bergerak dan bertanya di pelbagai kota yang didatangi. Pencarian buku dapat mengandung beragam kemauan. Namun, pencarian yang membawa orang dalam petualangan jauh dan lama mencipta “biografi” yang “mustahil” diramalkan akhirnya.

Kita membaca cerita menegangkan yang dibuat Amin Maalouf. Ia yang mencipta tokoh-tokoh menjelajah pelbagai tempat. Tokoh dalam pencarian. Yang tidak jemu bertanya dan selalu berharap bertemu buku yang terlalu kuat dipikirkan. Pencarian menimbulkan kemunculan alamat-alamat. Di tiap kota atau negeri, ia bertemu orang-orang yang corak hubungannya macam-macam, berakibat memudahkan atau menyulitkan pencarian.

Di hadapan orang-orang yang baru dikenal atau asing, pencari memahirkan diri dalam berbahasa, menginginkan tanda-tanda bakal sampai ke penemuan buku. Jadi, tokoh akan terbiasa mendapatkan perlakuan aneh dari beberapa orang. Ia harus lekas menyadarinya agar tidak terjebak dalam kebingungan-kebingungan yang tidak berujung.

Kejadian aneh dialami tokoh merupakan andil dalam misi pencarian. Lelaki tua yang “menyerahkan” buku. Kita membayangkan berada di tempat yang sama. Tokoh itu menerima dan membuka buku. Yang ditatap adalah puisi. Ia berhadapan dengan kata-kata yang menguak kenyataan. Tokoh membaca puisi berarti mau mengikuti “gelombang” tafsir, yang jaraknya dari kebenaran jauh atau dekat.

Puisi yang dibaca mengenai manusia dan waktu. Kata-kata dalam puisi itu sedikit tapi yang membaca dapat kelamaan membawanya dalam tafsir. Sebenarnya, ia agak telat mengartikan perbuatan yang terjadi. Kehadiran lelaki tua dan buku sudah menimbulkan teka-teki. Puisi yang dibacanya makin teka-teki meski ia merasa tidak mungkin mrucut dalam pemaknaannya.

Semua itu menghasilkan pertanyaan. Tokoh lekas menyerbu dirinya dengan pertanyaan yang membawa jawab atau pertanyaan yang “enggan” dijawab cepat. Yang menjadi masalah terbesarnya adalah buku. Ia yang mencari malah mendapatkan buku yang tidak dicari. Ia tidak kuasa menolak atau menghindari. Buku berada di tangannya. Ia yang telanjur membaca puisi. Yang terjadi tak mungkin lagi dibatalkan.

Pencarian belum selesai. Namun, kejadian-kejadian yang tidak terjelaskan tuntas menjadikan tokoh menyusun semua hal secara rapi atau membiarkannya acak. Bingung masih mungkin diredakan tapi “letih” dalam mengartikan semua hal membutuhkan “pemulihan”. Padahal, perjalanan terus dilakukan berdasarkan peta atau “tiba-tiba” berubah. Buku yang berada di tangannya mungkin “membenarkan” usaha pencarian, yang melewati daratan dan lautan.

Pada buku yang dijumpai di perjalanan, petunjuk dan kesamaran berlaku berbarengan. Tokoh yang tidak dapat memastikan tapi kehendak tetap menuju alamat yang dianggap sebenarnya. Perjalanan menuju buku adalah perjalanan bertemu buku-buku sebelum yang paling diinginkan dengan pertaruhan hidup-mati di pelbagai negeri.

*) Image by dokumentasi pribadi Bandung Mawardi (Kabut)

Dukung Kurungbuka.com untuk terus menayangkan karya-karya penulis terbaik dari Indonesia. Khusus di kolom ini, dukunganmu sepenuhnya akan diberikan kepada penulisnya. >>> KLIK DI SINI <<<