KURUNGBUKA.com – Kami duduk melingkar: meja kaca, cemilan, minuman & di dinding, kita tengok ada lukisan Ugo Untoro, Dian Suci, Harlen Kurniawan, Syahrizal Pahlevi … Kami, yang saya maksud, ialah orang-orang acak yang berkumpul di kediaman Franky Pandana. Orang-orang ini [selanjutnya saya sebut peserta] akan menjadi bagian pertunjukan ‘The Listener’. Sebuah pertunjukan, yang tampaknya sederhana, namun inilah yang dialami manusia kiwari.
Hidup terlampau cepat. Sosial media memberitahu (padahal kita tak ingin tahu, padahal kita tak mencari) sesuatu. Jam kerja ruwet. Lalu-lalang kendaraan. Notifikasi terus berbunyi. Pekerjaan masih menumpuk. Hari libur diguna untuk menyelesaikan pekerjaan di hari biasa. Pura-pura menonton (dengan video pendek di Youtube atau Instagram) sesuatu. Manusia seakan tahu segalanya & Nirwan Dewanto berkata: di mana hak saya untuk tidak tahu? Hidup terlampau cepat ini menuntut kita untuk melakukan segalanya, kita membuka banyak ‘tab’ dalam diri. Padahal kita bukan google chrome, karena kita bukan mesin, seperti yang dipercaya Matt Haig: karena kita tidak sempurna, sebab itulah kita mesti bersyukur menjadi manusia. Hal-hal inilah yang bergerak apa adanya dalam pertunjukan Franky.
Teknis pertunjukan dimulai dengan [1] setiap peserta mengambil nomor yang telah disediakan, setiap peserta akan berpasangan secara acak. Setelah itu mereka akan dipanggil untuk naik ke lantai atas, masuk ke sebuah ruangan kecil, dengan AC sangat dingin [2] peserta duduk di bangku yang telah disediakan [3] peserta bicara dengan topik bebas selama 10 menit [4] peserta tidak berinteraksi secara fisik satu sama lain [5] peserta tidak boleh berinteraksi dengan seniman dalam bentuk apa pun selama pertunjukan [6] peserta harus meninggalkan ruangan setelah pertunjukan [7] & rekaman atas pertunjukan akan diedit untuk kebutuhan seniman.
Ketika peserta melakukan poin nomor 3, seniman akan mencatat kata, frasa atau kalimat yang terdengar dari peserta atau seniman akan diam saja—khusyuk mendengarkan seperti seseorang yang mendengar siniar—atau setelah seniman mencatat, ia akan menghapusnya, mengeditnya atau seniman akan meraut pensilnya. Para peserta seperti mendengar suaranya sendiri—bukankah ini yang mesti dilakukan manusia kiwari? Suara dari media & orang lain seringkali didengar, tapi suara sendiri tenggelam dalam polusi audio tak berkesudahan.
Pertunjukan ini juga membuktikan bahwa manusia butuh bercakap-cakap secara langsung, bukan melalui gawai, bukan melalui teks WhatsApp atau Instagram, bukan menggunakan stiker, bukan menggunakan GIF, bukan via pesan suara, bukan mengirim gambar lalu menambahkan takarir, bukan menelepon dari jarak yang sangat jauh, bukan melalui video call jika kangen terlalu menyiksa … percakapan secara langsung menegaskan bahwa manusia adalah makhluk sosial (tanpa media) yang ‘harus’ bertatapan secara langsung, berhati-hati dalam menutur kata (mari kita lihat kolom komentar di Instagram—Anda akan tahu maksud saya) & ‘mendengar’ untuk memahami bukan bertujuan ‘membalas’.
Dengan ruang kecil & AC sangat dingin, banyak peserta yang canggung melontar kalimat duluan untuk memulai percakapan dengan orang asing di sampingnya seperti takut memecahkan gelas di kesunyian yang telah dibangun. Namun ketika kalimat telah terlontar, obrolan berjalan sebagaimana apa adanya—topik yang acak menjadi penuntunnya. Mulai dari alien sampai etnis, dari apakah sudah punya pacar sampai kita sudah follow-an di Instagram, dari surat cinta sampai lupa. Ada ‘hal tak terduga’ didengar seniman dari sepasang orang asing di ruangan itu, ada semacam labirin yang dapat didengar, ada percakapan malu-malu kucing. Segalanya terasa apa adanya, tidak dibuat-buat, tidak memiliki skrip. Hanya percakapan antar dua orang tak saling mengenal.
Franky, lewat pertunjukan ini, melakukan simulasi menjadi seorang ‘pendengar’ ulung. Ternyata benar kata Sukab, tokoh fiksi bikinan Seno Gumira Ajidarma itu: sudah terlalu banyak kata di dunia ini Alina, dan kata-kata, ternyata, tidak merubah apa-apa. Lagipula siapakah yang masih sudi mendengarnya? Di dunia ini semua orang sibuk berkata-kata tanpa pernah mendengar kata-kata orang lain. Mendengar sama dengan sadar. Sadar dengan kicau burung, air hujan jatuh di genteng rumah, daun kering dipijak sepatu, angin menyentuh rambut, ketukan pintu karena ada tamu, helaan napas tak berhenti, petir tebal menyambar & suara hati sendiri.
Medan, 2025
*) Image by Franky Pandana – The Listener [2025].











