KURUNGBUKA.com – Pada saat menjadi murid, ada hal-hal yang menyenangkan tapi kesulitan dan kejemuan juga cepat melanda. Anak-anak yang belajar di sekolah diminta “patuh” dalam beberapa hal. Namun, mereka mendapatkan hak-hak agar tidak terlalu tersiksa di sekolah. Sejak pagi, murid belajar yang menimbulkan lelah, pusing, dan takut. Ada murid yang merasa tertantang dan gembira dengan keberhasilan paham pelajaran atau sukses dalam mengerjakan soal-soal.
Istirahat, waktu yang dinantikan. Di sekolah, waktu istirahat itu pendek bila dibandingkan dengan jam-jam belajar. Istirahat yang ingin dinikmati secara bermutu. Padahal, istirahat itu bukan tidur atau berdiam diri. Anak mendapat waktu istirahat untuk makan, bermain, atau obrolan. Istirahat selesai, anak-anak kembali dalam rutinitas pelajaran.
Kita membuka novel gubahan Judy Blume berjudul Blubber (1995). Terbaca nasib anak: “Pukul 10.30, kami sudah berada dalam kelas kembali. Kata Bu Mirish, kamu akan mengerjakan matematika dan ilmu pengetahuan alam sampai waktu makan siang.” Dua mata pelajaran yang berat. Anak-anak mengalami waktu yang serius, yang memerlukan otak “terbaik” agar mengerti materi-materi pelajaran.
Nasib tidak selalu beruntung selama mengikuti pelajaran. Apa-apa yang diajarkan guru tidak sepenuhnya dipahami. Buktinya adalah kemampuan mengerjakan soal-soal, yang jawabannya belum tentu sesuai dengan kehendak guru. Ada yang beda. Ada yang dapat memicu masalah.
Yang terjadi: “Aku mencoba memusatkan perhatian pada soal-soal matematika, tapi semua jawabanku dicoret oleh Bu Mirish.” Petaka terjadi sebelum istirahat atau makan siang. Anggapan berhasil mengerjakan sosal-soal matematika justru dihadapkan masalah. Murid mendapat nasihat: “Kamu harusnya mempelajari cara memecahkan persoalan dengan tepat, dan cara berpikirmu keliru.”
*) Image by Urvil Official Book
Dukung Kurungbuka.com untuk terus menayangkan karya-karya penulis terbaik dari Indonesia. Khusus di kolom ini, dukunganmu sepenuhnya akan diberikan kepada penulisnya. >>> KLIK DI SINI <<<












