Di pasar orang-orang dapat menemukan semua jenis anak sesuai keinginan. Di sana bibit-bibit manusia dibuahi dengan segala unsur kebaikan alam semesta; tak heran bayi-bayi yang dihasilkan nanti memenuhi standar manusia unggul; berotak cerdas, berbudi luhur, tapi yang terpenting, penuh welas asih. Nina telah berkali-kali melihat iklan pasar anak dari internet. Iklan yang perambannya ia simpan rapat-rapat dari suami. Meskipun belum terbukti rahimnya tak akan dapat bereproduksi, akhir-akhir ini Nina punya alasan yang semakin kuat untuk ke pasar anak.

Pernikahannya baru jalan kurang dari setahun ketika ia mulai mengendus fakta-fakta ini: suaminya, Mahakam, ringan tangan dan suka main judi; ayah mertuanya pemabuk dan pengangguran; ibu mertuanya pernah dirawat di rumah sakit jiwa, bahkan adik lelaki ibu mertuanya sedang mendekam di penjara karena kasus pembunuhan. Satu-satunya manusia waras di keluarga itu adalah Fatima, istri kedua ayah mertuanya, atau ibu tiri Mahakam, seseorang yang tak punya hubungan darah dengan mereka.

Setiap bayi yang baru dilahirkan tak ubahnya sehelai kertas putih: polos dan murni. Namun sungguh manusiawi untuk merasa khawatir melahirkan keturunan dari lelaki seperti Mahakam. Apalagi tak ada jaminan bahwa anak(-anak)nya kelak hanya mewarisi sifat-sifat baik Nina dan keluarga besarnya. Maka suatu hari diam-diam ia bertolak menuju pasar anak.

Jangan bayangkan pasar anak serupa pasar tradisional di mana orang-orang menjajakan ikan, sayur-sayuran, dan rempah-rempah di atas lapak. Bayangkan ia seperti toko akuarium di mana tabung-tabung kaca transparan berukuran satu meter persegi berjajar dalam rak-rak tinggi dan lebar menutupi seluruh tembok. Di dalam setiap tabung, calon-calon bayi mengambang di tengah cairan warna-warni mengandung jalinan serat dan serbuk keemasan, teduh, penuh keagungan. Seperti nebula.

Tabung-tabung berisi bayi itu disimpan masing-masing berdasarkan usia trimester pertama, kedua, dan ketiga. Pelanggan bisa membayar uang muka terlebih dahulu dan memilih calon bayinya di ruangan trimester pertama, sisanya dicicil setiap bulan dan sudah diharapkan lunas ketika bayi dipindahkan ke ruangan trimester ketiga. Sedangkan pelanggan yang punya cukup uang dapat langsung memilih dan membawa pulang bayi yang telah berwujud bayi secara utuh dan sempurna. 

Nina membawa seluruh tabungan hasil dua belas tahun bekerja sebagai karyawan bank. Namun seluruh jumlah ini belum memungkinkan ia membawa pulang seorang bayi sempurna dari ruang trimester tiga. Maka ia membayar uang muka dan memilih calon bayi di tabung berlabel BBY0028. Tabung itu mengandung gradasi warna hijau toska dengan campuran ungu lavender, perak, dan kuning keemasan seperti lelehan emas. Warna-warna ini berdenyut seperti makhluk hidup; mereka dapat diajak bicara, mereka mampu menyimak, mereka menyimpan informasi untuk ditanamkan ke dalam neuron dan sinapsis, memperkuat memori bahkan kesadaran si calon bayi.

Di tengah tabung, calon bayi pilihan Nina masih berupa kacang merah terbungkus selaput transparan bernuansa magenta. Sengaja Nina memilih calon bayi berusia paling awal supaya ia masih punya banyak waktu untuk mengumpulkan uang. Namun alasan lain ia menjatuhkan pilihannya pada tabung berlabel BBY0028 tersebut adalah karena ia menyukai perpaduan warna antara hijau toska, ungu lavender, perak, emas, dan magenta.

Seminggu sejak ia kembali dari pasar anak, Nina baru selesai sarapan ketika ia tiba-tiba pusing lalu muntah-muntah di kamar mandi. Firasat buruk melandanya ketika ia sadar bulan itu ia belum datang bulan. Fatima pergi membeli alat tes kehamilandi apotek. Berjongkok di atas kakus, Nina nyaris tak dapat mempercayai penglihatannya sendiri. Dua garis merah tersenyum mengejek kepadanya. Sebongkah batu sebesar semangka jatuh menimpa kepalanya.

Untuk merayakan kehamilan ini, Mahakam berhenti main judi selama dua hari, bahkan ayahnya—si calon kakek—menunda mabuk-mabukan selama juga dua hari. Namun tentu saja hanya selama dua hari.

***

Setidaknya seminggu sekali Nina akan menyelinap ke pasar anak untuk menemui calon bayinya di ruang trimester satu. Calon bayi yang dulu baru sebesar kacang merah itu kini bertambah besar dengan bagian bawah mengerucut membentuk ekor pendek. Sepintas bentuk ini mengingatkan Nina pada kecebong—tapi sebisa mungkin ia menghindari kata ini untuk diasosiasikan pada calon bayinya. Nina menyadari cairan warna-warni dan serbuk keemasan yang membalut calon bayinya tampak lebih berkilau daripada kali terakhir ia datang—bukti betapa calon bayinya berkembang sempurna. Mereka mengenali Nina, warna-warna itu. Setiap kali ia ada, mereka berserak anggun dan gemulai seperti selendang di udara.

Meskipun mereka hanya bertemu seminggu sekali dan sang calon bayi tidak tumbuh di dalam rahimnya, Nina mulai merasakan kasih sayang yang tulus terhadap janin dalam tabung BBY0028 itu. Ia merasa mereka terhubung lebih daripada dengan janin yang tengah ia kandung. Adapun dengan janin dalam rahimnya, perasaan Nina kebas. Tidak apa-apa jika janin dalam kandungannya tahu bahwa ia tak menginginkan dirinya. Bahwa ia boleh keluar dari tubuh Nina dalam bentuk gumpalan darah sehingga kelak tidak perlu mengetahui kenyataan pahit tentang keberadaannya. Namun ini mustahil, Nina menyadari.

Mahkam dan keluarganya mengawasi Nina seperti balita yang baru belajar merangkak. Mereka memperlakukan ia seperti benda pecah belah. Nina tidak boleh ke mana-mana kecuali saat ia minta izin ke rumah orangtua seminggu sekali—saat itulah ia mampir ke pasar anak. Jika sampai bayi dalam kandungannya bermasalah, ia yakin kegilaan Mahakam dan ayahnya akan kumat, dan pada akhirnya, risiko terburuk harus Nina tanggung sendiri. Karena itu di depan keluarga Mahkam, ia berpura-pura bahwa ia juga menginginkan janin di rahimnya.

Setiap hari ia menyantap makanan bergizi, beristirahat dengan cukup, dan dua kali seminggu melakukan yoga pranatal ditemani Fatima. Ayah mertuanya sampai rela tidur dan muntah-muntah di teras setelah bertengkar dengan Fatima supaya Nina—dan calon cucu—tidak stress. Tak ada yang tahu, sendirian di kamarnya, Nina merasa seperti mau meledak.

***

Memasuki trimester kedua kehamilan, diam-diam Nina menemui seorang bidan pemilik klinik bersalin yang membuka praktik di komplek rumah. Bidan Ismi namanya. Bidan Ismi bukan teman bukan juga kerabat. Namun Nina tahu bagaimana hubungan Bidan Ismi dengan keluarga ayah mertuanya.

“Kalau tidak mau melahirkan keturunan mereka, kenapa mau menikah dengan si Mahakam?” kata bidan Ismi setelah Nina menceritakan tujuan dan rencana kedatangannya serta alasan di balik tindakannya.

“Waktu pacaran, dia belum kelihatan aslinya. Keluarganya juga tampak normal-normal saja.” Nina merendahkan suara meskipun di dalam ruangan, hanya ada ia dan sang bidan berdua.

“Selain pintar bersandiwara, mereka sekeluarga itu manipulatif,ā€ kata bidan Ismi. ā€œEntah dari mana Fatima dapat stok kesabaran setiap hari.ā€

“Aku bersyukur punya ibu mertua seperti Fatima,ā€ kata Nina, tersenyum tulus. ā€œBeliau satu-satunya yang kusyukuri dari pernikahanku.ā€

Hasil dari pertemuan rahasia siang itu adalah bidan Ismi bersedia menjadi sekutu. Nina berjanji akan bayar lebih untuk persalinannya nanti. Bidan Ismi menggeleng sambil menepiskan satu tangan di udara. “Saya tulus mau bantu. Hanya saja, kalau ketahuan di kemudian hari, kamu harus jamin nama saya dan klinik ini tidak dibawa-bawa?”

Nina berjanji. Entah bagaimana seorang perempuan yang tak memiliki kekuasaan dan pengaruh seperti dirinya dapat menjamin nama baik seorang bidan pemilik klinik bersalin, tapi Nina memiliki keyakinan besar akan tindakannya. Seperti ada kekuatan tak terlihat di belakangnya yang mendorongnya maju, memberinya keberanian.

Ia yakin kekuatan tak terlihat itu berasal dari calon bayinya yang kini semakin besar dan mulai berwujud bayi. Bertolak dari klinik bidan Ismi, Nina langsung menuju pasar anak. Tabung BBY0028 telah dipindahkan ke ruangan trimester kedua. Calon bayi Nina memiliki kepala sebesar kepalan tangan. Belakang kepalanya melengkung hingga tubuh, dan di ujung tubuh tak ada lagi gumpalan kerucut menyerupai ekor sebab kedua paha, tungkai dan kaki-kaki mungil kini telah terbentuk.

Dada Nina berdebar melihat jari-jari kaki yang terpapar di hadapannya. Ia menghitung jari-hari itu. Tentu saja ada sepuluh. Sayangnya si calon bayi merapatkan kedua lutut sehingga Nina tak dapat melihat jenis kelaminnya. Namun tak diragukan calon bayinya itu berkembang dengan sampurna. Kedua tangannya tersembunyi di bawah dagu—atau apa yang terlihat seperti bakal dagu—sehingga Nina harus menahan keinginan untuk menghitung juga jari-jari tangan yang terkepal.

Ketika ia datang minggu lalu, wajah calon bayinya terlihat seperti cetakan topeng yang belum selesai diukir. Kini di wajah itu telah terbentuk sepasang mata—yang tengah terpejam, bola matanya berupa bayangan hitam di balik selaput kulit yang amat tipis—tonjolan hidung, serta bibir. Ada layar kecil dan panel-panel menyala di bawah tabung, menunjukkan informasi usia serta berat badan sang janin. Nina menekan panel bergambar mangkuk.

Dengan mata tetap terpejam, calon bayi membuka mulut menerima cairan serbuk keemasan ke dalam tubuhnya. Selanjutnya Nina menekan panel bergambar not musik. Tak lama kemudian, alunan musik instrumental klasik terdengar dari dalam tabung, membuai calon bayinya yang melayang-layang di tengah cairan berwarna gradasi toska, ungu lavender, perak, kuning keemasan dan magenta.

Sang janin menggerakkan lengan dan tungkai. Gerakan yang amat lemah tapi menyebabkan seluruh serakan warna turut bergetar. Alunan musik berhasil menstimulasi saraf-saraf dalam otak jadi kian aktif dan berkembang. Jika Nina tak ada, para petugas pasar anak yang akan memberi makan serta memutarkan musik untuk janin-janin dalam tabung. Nina turut larut menyimak musik instrumental sambil mengamati calon bayinya dengan perasaan syahdu. Tiba-tiba, ia merasakan tendangan lembut dari dalam perutnya, seolah janin dalam perutnya juga minta diperhatikan. Tangan kanannya terangkat dan ia hampir mengelus perutnya, tapi ia berubah pikiran dan menurunkan tangannya kembali.

Dalam perjalanan pulang Nina menetapkan hati untuk menamakan calon bayinya nanti, Nebula.

***

            Ketika ia tiba di rumah, situasi tampak seperti pulau kecil kejatuhan meteor. Ayah mertuanya terkapar di lantai di tengah-tengah pecahan vas, asbak, pigura foto, kursi-kursi dan meja yang telah jungkir balik. Rasa kaget Nina belum hilang ketika Mahakam tiba-tiba menyambar pergelangan tangannya dan memuntirnya. “Dari mana saja kamu, hah? Minta izin siapa keluar rumah?” Wajah Mahakam merah padam dari sisa mabuk semalam. Bau sengit alkohol masih tercium dari napasnya. Nina meringis kesakitan.

Fatima muncul dari belakang dan menimpukkan sapu ke kepala Mahakam. Nina menarik lengan kanannya cepat-cepat. “Ayah anak sama saja,” kecam Fatima lalu menuntun Nina menuju kamar. “Kamu tidak apa-apa?” Fatima bertanya setelah menutup pintu rapat-rapat di belakang mereka. Nina mengusap pergelangan tangannya yang masih nyeri, tak menjawab pertanyaan Fatima. Fatima memegangi bahunya erat-erat. “Jawab dengan jujur,ā€ katanya, ā€œdari mana saja kamu?ā€

Nina menatap kedua mata ibu mertuanya, menimbang apakah ia pantas mempercayai wanita ini. Nina berbohong bahwa ia hanya bertandang ke rumah orangtua. Dan Fatima, dengan kepekaan seorang ibu dan sahabat, tahu ia bohong.

ā€œIni, pegang ini. Kalau dia ngapa-ngapain lagi, langsung timpuk pakai ini.” Nina buru-buru memanggil ibu mertuanya ketika Fatima berbalik menuju pintu. ā€œPernah dengar soal pasar anak?ā€ Fatima tidak menjawab, sekilas melirik bongkahan perut Nina, lalu dengan sisa kebingungan yang tersamar, menerobos keluar kamar.

Sendirian, Nina tahu ia tak akan sanggup menggunakan sebatang sapu di tangannya untuk membela diri. Ia tak memiliki keberanian seperti Fatima. Setidaknya, bukan keberanian semacam itu yang ia miliki. Di balik daun pintu, ia mendengar Fatima mengomeli para lelaki hingga suara wanita itu memenuhi penjuru rumah, barangkali menjangkau rumah-rumah tetangga.

Nina menyandarkan punggung di kepala ranjang dan menghela napas dalam-dalam. Untuk pertama kali, ia mengusap gundukan perutnya. “Kamu mengerti sekarang, kan? Bukannya Ma—aku tidak menginginkan kamu. Ayahmulah yang membuatku tidak menginginkan kamu,” ia berbisik ke arah perutnya.

Tak lama kemudian, Mahakam mengentuk pintu kamar lalu melangkah masuk. Panik, Nina mencari-cari lewat sudut matanya di mana tadi ia meletakkan sapu yang diberikan Fatima. Tiba-tiba Mahakam berlutut di sisi tampat tidur, meminta maaf ke arah perut Nina sambil menangis sesengukan. “Papa tidak bermaksud menyakitimu, Nak,” isak lelaki itu dengan suara berlebihan. Nina membuang pandang ke arah jendela. Dasar kadal, batinnya. Ia tahu semua ucapan dan air mata lelaki itu omong kosong belaka. Setelah beberapa waktu, Mahakam akan mengulang tabiat buruknya seperti yang sudah-sudah, meminta maaf, berulah lagi, meminta maaf, berulah lagi, begitu seterusnya. Hal macam ini telah menjadi pola yang Nina hafal luar kepala. Membuatnya muak.

Malam harinya seluruh ketegangan menguap digantikan perayaan kecil-kecilan karena usia kandungan Nina memasuki enam bulan. Fatima memasak semur ayam dan ikan bakar dan ia melarang Nina menginjakkan kaki di dapur. Nina sendiri mengingat usia kandungannya berdasarkan usia calon bayinya di pasar anak. Ia ingat tanda-tanda kehamilannya dulu muncul tak lama setelah ia membayar uang muka untuk tabung BBY0028. Maka tak diragukan bahwa usia mereka—Nebula dan janin di perutnya—berdekatan. Mahakam dan ayah mertua Nina terang-terangan berkata bahwa mereka tak sabar ingin menimang sang jagoan.

“Kalau bayinya bukan laki-laki jangan berani muncul di sini,” ayah mertuanya berkata lalu tawanya pecah. Nina dan Fatima tertawa rikuh. Mahakam satu-satunya yang tidak tertawa—wajahnya amat serius. Dengan rahangnya terkejat, lelaki itu berkata akan menemani Nina konsultasi ke dokter kandungan. “Aku harus pastikan ke dokter kalau bayinya laki-laki.”

Fatima buru-buru berkata, “Laki atau perempuan, kamu enggak bisa ngatur-ngatur dokter dan Tuhan.”

Nina berkeringat dingin. Kehamilan juga membuat detak jantungnya lebih cepat. Tetapi kali ini jantungnya berdetak cepat karena alasan yang lain.

“Aku akan menamainya Elang,” Mahakam berkata dengan bangga.

“Tidak,” tukas Nina tanpa keraguan. “Namanya Nebula.”

***

Tiga bulan kemudian seonggok bayi dalam lampin disodorkan kepada Mahakam dan ayahnya yang tengah menunggu di luar kamar bersalin. Bayi itu terasa lebih berat dan padat daripada bayangan Mahakam tentang bayi yang baru dilahirkan. Bagaimanapun ini pengalaman pertamanya menggendong bayi; ia tidak tahu apakah bayi itu begitu montok berisi karena semua bayi yang baru dilahirkan memang demikian atau karena seluruh gizi dan nutrisinya terpenuhi. Kulit sang bayi bersih merona. Pada bagian-bagian tertentu tampak jalinan pembuluh darah berwarna hijau toska, ungu, dan magenta, dan Mahakam bersumpah sepintas di sana juga tampak jalinan-jalinan kecil tipis berwarna perak dan kuning keemasan. Rambut hitam lebat melindungi ubun-ubun kepala yang masih lunak. Bibir merekah seperti sebutir tomat, terjepit kedua pipi gembil. Si bayi sedang tertidur lelap.

Tentu saja itu bayi laki-laki. Mahakam belum sanggup menemukan sepatah kata pun untuk diucapkan. Ia bahkan lupa berapa lama ia telah menahan napas. Belum pernah ia melihat bayi seindah dalam gendongannya itu. Sampai-sampai ia mungkin tak peduli andaikata si bidan berkata bayi itu berjenis kelamin perempuan.

Sampai-sampai tak terlintas di benaknya bagaimana keadaan Nina.

Perawat mengembalikan sang bayi ke ruangan. Tempat tidur setiap bayi dilabeli nama dan informasi kelahiran. Mahakam membaca label yang tersemat pada tempat tidur anaknya. Nebula Amalan Gusti, 5.0 kg, 03.33 am, 09-09-2099. Lelaki itu belum pulih dari rasa takjub sehingga ia tidak keberatan dengan nama yang diberikan Nina, dan melupakan nama yang telah ia rencanakan.

Ia merasa menjadi seseorang yang berbeda setelah keluar dari ruangan bayi. Tepatnya sejak ia menggendong bayi Nebula untuk pertama kali. Seolah bayi itu telah membiusnya dan mengubahnya menjadi orang yang lebih tenang dan bijaksana dan sanggup mengendalikan amarah. Ia merasakan kedamaian dan sukacita yang tak dapat ia jelaskan secara sederhana. Perasaan itu amatlah mendalam dan berharga. Ia tak sekadar ingin cepat-cepat memandang dan menggendong bayinya lagi seperti seorang kekasih kasmaran. Apa yang ia rasakan setara dengan perasaan ketika seseorang akhirnya menemukan tujuan dan makna keberadaannya di dunia. Tercerahkan.

Mahakam tidak pulang bersama ayahnya dan memilih tidur di bangku klinik. Ketika ia terjaga, tirai malam sudah hampir membentang, dan untuk pertama kali ia teringat untuk menanyakan keadaan istrinya. Namun Nina tak ada lagi di ranjang pasien. Para bidan termasuk bidan Ismi sendiri tak dapat menjelaskan apa yang terjadi—mereka menghindarinya. Bahkan tas pakaian Nina tak ada. Ranjang yang tadinya Nina tempati kini tengah disiapkan untuk ditempati pasien lain.

Mahakam mengepalkan kedua tangan di sisi tubuh, tergoda meninju tembok terdekat. Orang dungu bisa membaca situasi bahwa Nina telah meninggalkan mereka: ia dan bayi mereka. Apakah perempuan itu bahkan menyempatkan waktu untuk melihat bayi yang ia namai Nebula? Ingatan tentang sang bayi bagai air sejuk yang disiramkan ke atas sekam dada Mahakam yang hampir tersulut. Ia melemaskan kedua kepalan tangan dan menghela napas. Biar saja perempuan itu pergi, batinnya dengan perasaan ikhlas dan berangsur tenang. Yang terpenting kini adalah Nebula. Ia akan menjaga dan merawat bayi itu sepenuh hati dan membelikan popok serta susu formula. Ia akan bekerja keras dan berhenti main judi sebab ia kini seorang Ayah.

Lima kilometer dari klinik bidan Ismi, Nina menggendong sebuntal selimut berisi bayi perempuan yang baru saja ia lahirkan. Bayi bertubuh kecil ringkih dengan kulit pias kekuningan. Nina baru saja menyusui bayi yang dinamainya Aira—si bayi disusui setiap tiga jam—tapi kini mulut kecilnya telah kembali membuka-mengatup diikuti jerit tangis, minta disumpal puting susu kembali. Rasa lapar menggerogoti Nina. Semakin sering ia menyusu semakin akut rasa lapar menderanya. Beruntung ia tak sendirian. Fatima bergantian menggendong bayi Aira supaya Nina bisa menyantap sekerat roti dan kue lapis selagi mereka menunggu di peron.

Sebelum hari berganti, mereka sudah akan bertolak menuju tempat yang sepenuhnya berbeda, memulai hidup baru. Nina, Fatima, dan si bayi Aira. Meskipun hatinya sudah mantap, setiap menit pikiran Nina kembali pada bayi yang baru saja mereka—ia dan Fatima—lunasi dari pasar anak. Dada Nina sesak dan pedih. Masih jelas dalam benaknya bagaimana bayi Nebula diangkat dari cairan berwarna seperti galaksi. Cairan kuning keemasan mengalir dari ubun-ubun melewati sekujur tubuh, paha, hingga tungkai. Tubuhnya montok padat, rambutnya lebat, kulitnya bersih merona dan ia tetap tertidur pulas meskipun tak lagi mengambang dalam tabung.

Para petugas berkata bahwa setiap bayi yang diangkat keluar dari dalam tabung untuk pertama kali memang jarang sekali menangis. Para petugas berkata hal itu bukan anomali melainkan suatu kewajaran sebab bayi mana pun dari pasar anak—mereka yang mengandung seluruh unsur kebaikan alam semesta—cenderung memiliki pembawaan yang tenang dan kedewasaan emosional. Bahkan dalam pertumbuhannya nanti, bayi-bayi itu tak akan terkontaminasi lingkungan dan pola asuh yang buruk.  Maka bila ada orang yang paling cocok memiliki bayi seperti Nebula, ia adalah Mahakam.

Ketika Nina memandang darah dagingnya sendiri, bayi ringkih dengan suara tangis nyalang mengerikan dan yang kemudian selalu kelaparan, tak dapat ia bayangkan masa depan seperti apa yang akan dijalani anak itu bersama seorang ayah seperti Mahakam. Suaminya akan membenci bayi perempuan ini. Buruk dan ringkih dan seorang perempuan. Meskipun begitu besar keinginannya untuk membesarkan Nebula, bagaimana ia sanggup menatap dirinya dalam cermin setelah mencampakkan darah dagingnya dengan sengaja?

Fatima meremas bahu Nina dan mengangguk, meneguhkan keputusan dan hasil pembicarannya dulu dengan bidan Ismi. Dengan berat hati, Nina menyerahkan Nebula pada para perawat dan mempertahankan bayi Aira. Nina yakin setiap anak memiliki takdirnya masing-masing. Dan membesarkan bayi perempuan yang tampak kurang gizi itu bukanlah kesalahan. Bayi Aira juga mengandung unsur-unsur kebaikan. Jiwanya adalah sehelai kertas putih dan Nina berjanji tak akan mengoresnya kecuali dengan crayon warna-warni dan perpaduan warna-warnanya adalah hijau toska, ungu lavender, perak, kuning keemasan dan magenta. Seperti nebula.

*) Image by istockphoto.com