Pak Namus tak pernah peduli dengan cerita-cerita busuk, yang menurutnya sebuah omong kosong belaka dan hanya sekadar menakut-nakuti. Ia yang masih sendirian di usianya yang sudah senja, tetap memilih tinggal sendirian dalam rumah kumuh yang menyerupai gubuk itu. Walaupun sebelumnya ada beberapa orang yang memilih pindah dari kontrakan itu sebelum jatuh tempo dengan alasan yang sama, takut. Tapi tidak dengan Namus.

Dengan gagah ia bilang di hadapan orang-orang, “Saya takut pada kemiskinan, tidak takut pada hantu seperti orang-orang itu. Hantu itu tidak membahayakan, kerjanya paling-paling menakut-nakuti orang-orang yang lemah iman. Belum ada ceritanyata kita temukan, ada orang mati karena dibunuh hantu, kecuali di film-film horor. Tapi kalau manusia membunuh manusia lainnya, bersalah atau bukan sudah banyak. Manusia lebih jahat dari hantu yang belum pernah aku lihat dengan mata kepalaku sendiri, dan aku masih meragukan keberadaannya,” ucapnya dalam suatu perkumpulan.

Mereka yang mendengar kata-kata sombong itu, berharap sekali, agar Pak Namus dipertemukan dengan hantu paling mengerikan di kampung itu, lalu ia teriak-teriak minta tolong, kemudian lari terkencing-kencing.

“Saya pernah bermalam di tanah pekuburan. Saya hanya berteman dengan nyamuk-nyamuk yang berdengung-dengung menggigit tubuh saya. Saya tidak ada tidur sepejam mata pun, sampai datang waktu pagi. Saya yang suntuk semalaman tidak ada mendengar suara aneh yang mengerikan, apalagi melihat hantu. Kalau sempat saya lihat hantu, akan saya tangkap, kemudian saya kurung dan menjadikannya sebagai tontonan warga. Siapa tahu bisa jadi jalan usaha buat saya untuk mendapatkan banyak uang. Siapa pun yang ingin melihat tentu tidak gratis, harus beli karcis. Siapa tahu setelah itu saya bisa menjadi orang kaya melebihi bapak ini,” ia menunjuk seorang sosok yang duduk termenung di dekat tangga. Sosok itu berbaju putih lengan panjang, memakai sarung, masih menggenggam Alquran. Mereka baru membaca Surat Yasin bersama-sama.

Dan Pak Namus, melanjutkan ceritanya kembali. “Setelah saya pulang dari pekuburan pagi itu, baru saya sadar, alangkah jahatnya pikiran saya mengkaitkan orang yang sudah mati dengan hantu, walaupun yang dimaksud itu hantunya orang jahat,” ia berhenti sesaat sambil memperhatikan kawan-kawannya.

“Bukankah Tuhan sudah menjelaskan dalam kitab suci yang tidak bisa diintervensi oleh tangan kotor manusia, mereka yang berlaku sewenang-wenang semasa hidup, akan mendapat balasan yang setimpal. Intinya apa yang telah diperbuat oleh hambanya, itulah yang akan ia terima. Tuhan yang berhak memberi hukuman dengan seadil-adilnya, tak pernah meleset sejengkal pun. Yang jelas tidak ada keterangan, walaupun dengan penjelasan yang samar-samar, mereka yang banyak berbuat dosa, Tuhan menyiksanya dengan cara menjadikan orang itu kuntilanak setelah dikubur, atau jenis hantu lainnya seperti pocong.”

Masih seperti tadi, semuanya masih terdiam mendengar wejangan Pak Namus. Mereka yang baru saja membacakan Surat Yasin, setuju pahalanya dihadiahkan buat anak Pak Safran yang baru meninggal karena mati menggantung diri. Ia yang bercita-cita jadi pelukis tidak disetujui ayahnya, akhirnya ia nekat memilih jalan sendiri, setelah berkali-kali perang mulut dengan sang ayah.

“Jadi Pak Safran, jangan takut kalau anak bapak ada yang mengiming-imingi jadi hantu,” ucapnya lebih tegas lagi. Suaranya yang lantang menandakan ia tanggung jawab dengan kata-katanya.

“Bagaimana dengan bacaan Surat Yasin, dan berupa doa lainnya yang kita hadiahkan pahalanya buat anak saya, Pak Namus? Apakah sampai dan diijabah oleh Tuhan?” Pak Namus terbisu sesaat disaksikan orang banyak yang hadir malam itu. Ia menelan ludah dua kali dengan jeda beberapa detik, kemudian ia berdenting lagi.

“Berterima atau tidak, Tuhanlah yang tahu Pak Safran.”

“Tapi matinya anak saya kan karena mati bunuh diri Pak, Namus.”

“Ya, saya tahu. Itukan Tuhan yang berbuat.”

“Kenapa bapak mengatasnamakan Tuhan? Bagaimana mungkin Tuhan yang pengasih lagi penyayang berbuat seperti itu.”

“Pak Safran, apa pun yang terjadi, semua atas kehendak Tuhan.”

“Termasuk dengan kematian anak saya yang bunuh diri, apakah itu juga kehendaknya?”

“Kabar baik, dan kabar buruk datangnya dari Tuhan Pak Safran. Sementara manusia yang bersifatkan lahaulawalakuata illa billah, tidak bisa berbuat apa-apa, kecuali menjani kehidupan itu sendiri.”

“Sepertinya bapak menceramahiku, biar hatiku senang.”

“Tidak, Pak Safran. Apa yang saya katakan itulah kenyataannya, sesuai dengan ilmu tauhid.” Tangan Pak Namus bergerak-gerak seperti dai sejuta umat.

Semua yang hadir di situ tak berani ikut campur. Mereka takut, kalau-kalau salah ucap, membuat Pak Safran marah. Jika itu terjadi mereka bisa kualat. Atau mungkin kuliah anak mereka akan tersendat-sendat. Sebenarnya mereka tak ingin datang acara takziah itu, tapi merasa tak enak hati pada Pak Safran setelah ada pengumuman di masjid menyuruh masarakat datang.

Pak Safran orang paling kaya di kampung itu. Dan ia dermawan, sering membantu mereka dalam bentuk uang jika masa kesulitan. Kalau bukan anak Pak Safran yang mati bunuh diri itu, lidah mereka yang tajam, akan menggelegar dan terus berkoar-koar menyerupai lolongan serigala di setiap penjuru. Tak akan berhenti mereka menghujat dan menyebarkan fitnah terang-terangan.

* * *  

Ia terbangun lebih cepat dari biasanya, karena ada tangan licin yang menarik-narik kedua kakinya. Ia yang sendirian dalam rumah sigap memegang tangan itu dengan gerak cepat dalam kegelapan. Ia merasa seperti memegang sebatang kayu yang berlendir. Begitu ia hidupkan lampu, ia tak menemukan bekas apa pun. Ia cepat-cepat menuju kamar mandi dan mencuci tangan, kemudian mengambil wudhu, lalu menunaikan Salat Tahajud beberapa rakaat.

Ketika ia memutar tasbihnya sambil berzikir, ia mendengar suara terbatuk-batuk di teras rumah. Ia letak tasbih itu, dan ia gulung sajadahnya, berdiri membukakan pintu. Ia melihat seseorang duduk tertunduk meluruskan tangan. Pak Namus semakin mendekat, memeriksa pemilik wajah yang tertunduk itu. Alangkah terkejutnya ia melihat wajah Haris, anak Pak Safran yang meninggal karena mati bunuh diri.

“Saya yakin, Anda bukan Haris jadi-jadian. Atau Haris yang jadi hantu karena dosa-dosanya menumpuk. Tidak mungkin Tuhan sejahat itu, menjadikan hambanya hantu murahan untuk menyiksanya karena dosa yang telah diperbuatnya.”

Yang duduk belum juga bersuara.

“Anda pasti jin jahat, yang menyerupai dan meminjam wajah orang yang sudah meninggal untuk menyebarkan fitnah. Sekarang cepat pergi dari sini, sebelum saya membaca ayat-ayat suci untuk membakar tubuh Anda!”

Ia menutup pintu keras dan menguncinya rapat-rapat. Memang benar, ia tidak takut pada mahluk itu, ia hanya takut pada kemiskinan, walaupun sebenarnya ia masih hidup di bawah garis itu.

*) Image by istockphoto.com