“Orang-orang menganggap tindakan kami salah, mengadakan pesta setiap minggu sementara banyak orang lain di dalam kota sedang kelaparan, makan tikus, kemudian sampah yang tadinya dimakan oleh tikus-tikus yang paling kelaparan. Yang lain menganggap kami kerasukan setan karena kami berhura-hura walaupun dalam lingkungan kami sendiri, kami telah kehilangan banyak anggota keluarga, rumah, harta. Bisa-bisanya kami tertawa, orang-orang bertanya. Sebetulnya itu bukan karena kami tidak merasakan atau melihat kepedihan di sekeliling. Kami semuanya ketakutan. Tetapi, bersedih sama saja dengan mengharapkan sesuatu yang telah hilang untuk kembali atau memperpanjang penderitaan yang sudah tidak tertahankan.”

(Amy Tan, The Joy Luck Club, Gramedia, 1994)

KURUNGBUKA.com – Setiap kita membaca kepedihan dan penderitaan manusia, ada yang menekan perasaan. Kita mampu membayangkan yang terjadi. Yang tersulit adalah menerima kondisi batin para tokoh. Mereka berada dalam kondisi yang tidak manusiawi. Artinya, perang atau konflik menjadikan manusia tak berdaya. Ia menjadi rapuh. Makhluk yang harus melawan kemustahilan-kemustahilan demi tetap hidup.

Bagaimana pengarang menghadirkan tokoh-tokoh yang mengalami penghancuran? Para pembaca cuma sanggup mengandaikan bila memasuki biografi dan ketubuhan para tokoh, sebelum sampai perasaan-perasaan tergelap. Pada yang paling menyakitkan, pembaca kadang tidak sanggup menerima kalimat-kalimat yang dibuat pengarang.

Amy Tan mengalami zaman-zaman yang buruk dan gelap di Tiongkok dan Amerika Serikat. Ia pun mengerti getir yang melanda Eropa dan Asia. Pengarang yang tidak selesai dengan membaca arsip atau mendengar kesaksian. Ia tidak sedang membuktikan kemahiran dalam membuat kalimat-kalimat yang “menyiksa”. Artinya, pengarang memberikan kalimat yang menjadi pernyataan naluriah dan jalinan memori.

Maka, para perempuan yang berjanji untuk berkumpul membuat permainan, makan bareng, dan berbagi cerita mudah mendapat kutukan oleh orang-orang yang sengsara. Di tatapan mata, kumpulan itu mungkin penghinaan yang keji atas situasi absurd. Namun, para perempuan itu bukan bermaksud meremehkan sesama. Yang terjadi adalah siksaan-siksaan yang harus diladeni dengan menyerah atau melawan meski kecil-kecilan. Yang “berpesta” menanggungkan derita tak terkira.

Mereka bukan kehabisan kebaikan dan ketabahan. Pada hari-hari melulu kematian, kelaparan, kepedihan, jeritan, dan tangisa, usaha tetap menjadi manusia hampir mustahil. Yang diceritakan Amy Tan terlalu menyiksa. Kita tidak tahan membayangkan orang-orang yang harus memasukkan sampah dalam mulut agar tercipta “kebenaran” tentang makan. Raga-raga yang sebenarnya hancur, gampang menjadi jasad.

Yang berpesta sudah kehilangan, tidak ingin terus kehilangan dan mengekalkan penderitaan. Maka, berkumpul itu penguatan. Hadir bersama menyarankan hidup masih bisa dihitung dari hari ke hari. Bagi yang hidup, mengetahui nestapa dan kematian semestinya tidak mutlak menyerah. Manusia masih mungkin bersiasat tapi terlalu berisiko.

Para perempuan tidak kerasukan atau bersekutu dengan iblis. Mereka justru yang memuliakan hidup, yang habis-habisan mendefinisikan manusia yang hanya memiliki sisa-sisa kekuatan sebelum kematian adalah tajuk terbesar dalam perang dan persengketaan.

Siasat tetap hidup memerlukan makanan. Kehadiran para perempuan itu memastikan kata-kata yang terucap berupa cerita sebenarnya memberi penguatan. Berbagi cerita itu berdampak pada kemauan bertahan, pulih, atau mengelak. Yang membuat pembaca tersadar adalah permainan. Orang-orang yang bertemu untuk permainan seperti sedang mengurangi keseriusan-keseriusan dalam tata kehidupan.

Pada permainan, mereka memiliki hasrat perlawanan dan pembebasan. Permainan menjadi takdir yang dihadapi bukan dengan pengertian-pengertian baku sakligus klise. Manusia yang masih mampu bermain dalam kerapuhan dan penderitaan berarti percaya kematian masih dapat ditunda, sebelum penyesalan dan sia-sia terus membayangi manusia yang bertambah usia dan mengalami pergantian masa.

*) Image by dokumentasi pribadi Bandung Mawardi (Kabut)

Dukung Kurungbuka.com untuk terus menayangkan karya-karya penulis terbaik dari Indonesia. Khusus di kolom ini, dukunganmu sepenuhnya akan diberikan kepada penulisnya. >>> KLIK DI SINI <<<