Setelah lulus dari magister, bukannya fokus mencari pekerjaan, tokoh kita malah melakukan kerja-kerja penelusuran terhadap tulisan-tulisan dosennya sendiri. Diam-diam tanpa diketahui siapa pun, tokoh kita semakin kagum terhadap dosennya yang mematikannya saat ujian tesis itu lewat pertanyaan yang mendasar nan sederhana. Namun, sebenarnya tokoh kita tidak benar-benar mati saat itu.
Ia masih berupaya menjelaskan dan menunjukkan bukti-bukti yang tertera di buku referensi yang ia gunakan. Walau kemudian, tokoh kita menyadari kekurangannya, bahwa ia lupa memperlihatkan hukum-hukum yang berlaku dalam teori dunia mungkin Marie-Laure Ryan. Sehingga jawaban untuk pertanyaan soal apa itu dunia aktual yang diajukan oleh dosennya itu, tampaklah menjadi kabur.
Itulah yang membuat tokoh kita diam-diam kian mengagumi dosennya itu. Tokoh kita sesungguhnya sudah lama mengagumi, sejak semester awal perkuliahan. Waktu itu seingat tokoh kita, dosennya itu mengatakan sesuatu hal yang cukup mengguncang pikirannya. Ia berkata yang namanya metode dalam penelitian itu sulit diteorikan bahkan tidak ada teorinya. Sebab metode berarti bagaimana memperoleh pengetahuan. Metode adalah turunan dari sebuah teori. Sementara situasi lapangan yang dihadapi satu peneliti dengan peneliti lain tidaklah sama. Belum lagi berbicara kapasitas peneliti.
“Lalu bagaimana dengan artikel jurnal sastra yang metodenya dikatakan kualitatif-deskriptif, Prof?” salah seorang mahasiswa bertanya saat itu.
“Metode tidak seperti itu. Tidak bisa dipukul rata,” kata dosennya itu.
“Tapi banyak yang menggunakan itu, Prof,” kata mahasiswa yang bertanya itu, merespons dengan nada ngeyel.
“Yang banyak belum tentu benar.”
Tanggapan dosennya yang terakhir itulah yang membuat tokoh kita terguncang pikirannya. Yang banyak belum tentu benar. Kata-kata itu terngiang-ngiang sampai sekarang, apalagi saat tokoh kita mendapati tulisan penelitian sastra yang menyebutkan kualitatif-deskriptif dalam metodenya. Tokoh kita cukup ngeri membayangkan, bahwa artikel-artikel yang telah terpublikasi itu ternyata salah dalam penulisan metodenya. Bukankah itu dapat menjadi dosa jariyah?
Keterangan dari kuliah dosen itu soal metode, sudah cukup bagi tokoh kita tahu karakternya. Ia adalah orang yang cukup struktural dalam berpikir. Selalu melihat dulu hal yang mendasar sebelum menuju ke inti persoalan. Setidaknya itu yang tokoh kita bisa tangkap. Tokoh kita baru bisa paham sepenuhnya hal itu setelah selesai mengerjakan tugas akhir. Terkadang memang butuh waktu bagi seseorang untuk memahami sesuatu. Dalam arti benar-benar paham, menyentuh wilayah yang dalam filsafat disebut ontologis.
Dan setelah lulus dari magister, bukannya fokus mencari pekerjaan, tokoh kita malah melakukan kerja-kerja penelusuran terhadap tulisan-tulisan dosen yang ia kagumi itu. Sebelumnya ia telah membaca bukunya yang membahas soal metode dan strukturalisme-genetik. Ada semacam daya magis dari buku bersampul kuning itu. Mungkin karena tokoh kita sudah punya tabungan pengetahuan soal dosennya itu, sehingga daya magis itu bisa muncul.
Awalnya yang ia sasar bukan google, melainkan aplikasi jual beli berwarna hijau. Ia ketik nama dosen itu ditambah dengan kata “esai”. Munculah sebuah majalah yang didirikan oleh kritikus legendaris HB Jassin yang di sampulnya tertera namanya. Tentu tidak main-main, namanya bisa terpampang dengan nyata di sampul depan majalah yang pernah menjadi tolak ukur cerpen di Indonesia itu pada era kejayaannya. Tanpa banyak pertimbangan, tak peduli harga, tokoh kita pun membeli meski saldonya tinggal empat puluh ribu.
Tokoh kita sangat penasaran, dosen itu membahas hal apa. Tokoh kita kembali mencari. Setelah berjam-jam berulang kali mengganti kata kunci pencarian, ia hanya menemukan sebuah majalah semata. Itu pun karena penjualnya memberikan keterangan di deskripsi tulisan dosennya itu. Majalah itu bersampul putih. Namun, mengingat uangnya tinggal sepuluh ribu tokoh kita tidak mungkin melakukan transaksi pembelian.
Tokoh kita tidak lelah. Ia berpindah ke Google. Berjam-jam pula ia mencari. Hanya menemukan sebuah buku yang membahas Subagyo Sastrowardoyo, yang mana di dalamnya ada tulisan dosen itu. Selain itu tokoh kita hanya menemukan tulisan di sebuah blog yang berisi testimoni dosen itu saat menjadi juri sayembara novel yang diadakan oleh sebuah lembaga kesenian terkemuka di Indonesia.
Akhirnya lelah tokoh kita mencari. Seseorang meneriakkan kata “paket”. Tokoh kita keluar dari kamar dan menuju pintu rumah. Tentu yang datang bukan paket majalah. Dua hari yang lalu ia membeli buku Ajip Rosidi, yang membahas kapan kesusastraan Indonesia lahir. Tokoh kita membeli buku itu karena di dalamnya ada salah satu esai Ajip Rosidi yang menanggapi tulisan dosennya itu. Informasi itu ia dapatkan dari temannya. Tokoh kita merasa agak miris, buku penting itu belum ia baca. Semestinya buku itu sudah dikhatamkan di perkuliahan sarjana.
“Paket lagi?” Tokoh kita terkaget. Ibunya tiba-tiba sudah nongol. Tokoh kita tidak sabar membuka paket di dekat pintu depan rumah.
“Buku terus!” Kata ibu tokoh kita. Suara itu di telinganya nadanya terdengar seperti, “Es terus!” kata-kata yang sering diucapkan ibu-ibu di Indonesia.
“Kuliah sudah selesai, kok masih jajan buku!” Kata ibu tokoh kita lagi.
Tokoh kita tidak peduli dengan kata-kata ibunya. Ia masuk ke kamarnya dan melihat daftar isi buku itu. Ia baca satu per satu, hingga tiba pada esai Ajip Rosidi yang menanggapi tulisan dosennya itu. Sayangnya di dalam tulisan itu tidak disebutkan, sumber dari tulisan dosennya itu. Tokoh kita coba ketik di google, nama dosen itu ditambah dengan kata “kedaerahan”. Tidak ia temukan setelah berganti-ganti halaman Google.
Berhari-hari lamanya, ia masih melakukan kerja-kerja penelusuran. Bukannya fokus mencari pekerjaan, ia malah semakin sering melakukan hal itu. Ada kesan, mencari kerja justru sebagai sambilan. Tokoh kita hanya mencari satu dua kali pencarian setiap harinya. Jika sesuai dengan spesifikasinya, tokoh kita akan melamar pekerjaan yang ditawarkan. Itulah yang tokoh kita lakukan.
Temuan demi temuan tulisan dosen itu telah ia dapatkan. Tulisan yang tokoh kita temukan, pastilah ia baca terlebih dahulu sebelum masuk ke dalam pengarsipannya. Sementara ini tulisan yang berhasil ditemukan oleh tokoh kita paling tua di tahun 1978. Tulisan itu berupa resensi, menanggapi novel berjudul Upacara karya Korrie Layun Rampan. Dosen itu mengatakan novel Korrie itu, andaikata sebuah makalah kuliah akan ia beri nilai A. Namun, karena karya sastra, tidak. Novel itu baginya gagal, deskripsi yang dibangun terlalu panjang dan tidak memberikan efek apa-apa terhadap tokoh-tokoh cerita.
“Mending, kau meneliti beliau saja, menelaah pemikiran-pemikirannya. Bisa jadi satu buku atau satu tesis, eh satu disertasi,” kata teman tokoh kita, suatu ketika saat tokoh kita berhasil mendapatkan tesis yang dibukukan milik dosen itu.
“Idenya boleh, tetapi masalahnya, ada yang tidak saya pahami, misalnya buku pengantar sosiologi sastra. Saya sendiri juga bertanya-tanya, kenapa demikian.”
“Itu proses. Diuangkanlah kerja-kerja penelusuran seperti itu, lumayan. Jarang yang mau melakukan kerja-kerja seperti itu. Sekalian menyumbang sesuatu di sejarah sastra,” ucap, teman tokoh kita sembari tertawa.
Esai-esai yang ditemukan oleh tokoh kita yang ditulis oleh dosennya itu, cukup bisa dipahami. Dari pengalaman membaca, esai-esai itu sangat kritis. Itu terasa saat tokoh kita membaca sebuah esai yang membahas tentang hubungan antara teori dan kritik sastra. Tokoh kita terkagum-kagum, di esai itu bahkan pendapat-pendapat kritikus sastra Indonesia dikritisi, seperti Umar Junus, Rachmat Djoko Pradopo, Subagyo Sastrowardoyo, Nirwan Dewanto hingga Goenawan Mohamad. Tokoh kita berpikir, apa yang membuat dosen itu bisa demikian? Pasti ada sesuatu yang menjadi jawabannya, yang bisa untuk diteladani—dan tokoh kita ingat dengan saran temannya yang menyuruhnya untuk menelaah pemikiran-pemikiran dosen itu. Dan untuk tahu jawabannya, mau tidak mau ia harus melakukan penelusuran kembali. Lebih giat, lebih keras. Tokoh kita tidak merasa lelah. Mungkin karena dilandasi rasa penasaran dan senang.
Gawainya bergetar. Deretan nomor tampak di mata tokoh kita. Siapa?
“Halo?”
“Halo, Mas Polanco. Saya Faruk. Kabarnya Anda melakukan penelusuran terhadap tulisan saya, ya?”
“Oh, Prof. Faruk. Iya, Prof. Benar.”
“Untuk apa, Mas Anda melakukan kerja-kerja demikian?”
“Saya hanya penasaran.” Tokoh kita gugup.
“Penasaran apanya?”
“Tulisan-tulisan milik Prof.”
“Ya, saya tahu kalau itu. Jangan muter-muter menjawabnyalah!”
“Cara Prof berpikir, tulisan-tulisan Prof banyak yang mengkritisi pendapat orang. Atau kebetulan saya yang dapat tulisan semacam itu, sehingga terkesan banyak. Saya kagum. Bagaimana cara agar bisa demikian?”
“Pertanyaanmu lucu!”
“Punten, Prof.” Tokoh kita sedikit tertawa. “Tapi saya penasaran, Prof tahu dari mana kalau saya melakukan kerja-kerja demikian?”
“Dari temanmu.”
“Siapa, Prof?”
“Coba telusuri, kan Anda sedang melakukan kerja-kerja penelusuran. Sekalian.”
“Gokil juga, Prof yang satu ini,” kata tokoh kita dalam batin setelah mendengar jawaban dari dosennya itu terkait siapa yang memberitahu dirinya, kalau ia sedang melakukan kerja-kerja penelusuran.
Kemudian yang ada, tokoh kita tampak asyik berbincang dengan guru besar itu. Cukup lama. Ia tidak menyangka, kalau akan dihubungi oleh dosen yang ia idolakan diam-diam itu. Bagi tokoh kita, tentu sebuah kehormatan dirinya ditelepon. Tokoh kita sesekali tertawa.
“Saran saya, Anda kuliah lagi. Masalah-masalah yang Anda kemukakan menarik semua.”
“Kuliah lagi? Ah, saya tidak punya biaya.”
“Beasiswa banyak. Jika masalah-masalah yang Anda temukan itu ditulis. Akan memberikan daya guna saya kira.”
“Biarlah yang lain yang menggarap. Saya menyumbang gagasan saja.”
“Saya belum menemui yang lain itu. Saya tunggu, yaa… kabar baiknya. Oh, ya saya tutup dulu teleponnya. Saya mau mengajar.”
“Karena kata-kata adalah doa, saya coba usahakan, Prof.”
“Nah, begitu. Ditunggu.”
Tokoh kita meletakkan gawainya. Ia merasakan ada semacam kebahagiaan yang hinggap di relung hati. Untuk sejenak, ia lupa akan keadaannya selepas lulus magister yang belum mendapat pekerjaan.
Jejak Imaji, 2025
*) Image by istockphoto.com











