“Cerita tidak akan jadi cerita kalau tidak ada yang mendengar.“
KURUNGBUKA.com – Saya menunggu film ini sejak pertama kali diumumkan sekitar lima tahun lalu. Bahkan, saya sempat bertemu dengan Ryan Adriandhy di JAFF Market 2024 di Jogjakarta dan berbincang tentang kapan akhirnya animasi ini akan tayang. Setelah penantian panjang, akhirnya saat Lebaran 2025 kemarin di hari pertama, saya bisa menontonnya langsung—dan semuanya terasa terbayarkan.
Jumbo adalah film animasi petualangan Indonesia yang disutradarai oleh Ryan Adriandhy dalam debut penyutradaraan film panjang pertamanya. Ada sekitar 420 lebih animator dan kru yang terlibat. Diproduksi oleh Visinema Animation, film ini mengisahkan Don (Prince Poetiray), seorang anak yang ingin mementaskan buku dongeng peninggalan orang tuanya agar didengar banyak orang. Sayangnya, mimpinya diremehkan oleh teman-temannya, termasuk Atta (Muhammad Adhiyat), yang mencuri buku itu.
Didukung oleh sahabatnya, Nurman (Yusuf Özkan) dan Mae (Graciella Abigail), serta Oma (Ratna Riantiarno), Don bertemu dengan Meri (Quinn Salman), anak perempuan dari dunia lain yang mencari kedua orang tuanya. Bersama, mereka menghadapi berbagai rintangan dan menemukan makna dari sebuah cerita: kalau kita ingin jadi pencerita yang baik, maka kita harus jadi pendengar yang baik—waktu Oma ngomong gini kenapa bikin nangis kejer, yak! Film ini ternyata untuk kreator!!
Film ini juga menggunakan simbol gelembung di dalam buku dongengnya untuk menggambarkan ambisi Don yang membuatnya terjebak dalam dunianya sendiri. Seiring perjalanan cerita, ia belajar bahwa cerita bukan hanya tentang didengar, tetapi juga tentang mendengarkan. Karakter Don dibuat tidak hitam putih, tetapi layaknya manusia dia punya sifat egois dan keras kepalanya sendiri sehingga menimbulkan konflik dengan sahabatnya.
Salah satu yang paling mengesankan adalah suara Prince Poetiray sebagai Don. Vokalnya begitu emosional, terutama saat menyanyikan lagu-lagu dalam film ini—bikin nangis brutal! Rasanya seperti ditarik masuk ke dalam emosi Don yang penuh keraguan, harapan, dan keinginan untuk didengar.
Karakter favorit saya di film ini adalah Nurman. Dia yang paling “dewasa” di antara anak-anak lainnya, selalu tenang, dan mendukung apa pun keinginan Don tanpa ragu. Dia punya sikap yang jelas. Kehadirannya seperti jangkar yang membuat cerita tetap seimbang.
Dengan animasi berkualitas tinggi, pengisian suara yang emosional, dan cerita yang menyentuh, Jumbo menghadirkan petualangan penuh imajinasi yang juga sarat makna. Film animasi ini bukan hanya untuk anak-anak, tetapi sesuai taglinenya: untuk kita, anak-anak kita, dan anak-anak dalam diri kita.
Skor: 8,8/10.
Image by @visinemaid
















