Kau mendapati ujung jari kananmu terasa perih, geli, dan aneh. Kekagetanmu bertambah. Dalam keadaan masih berbaring, kau mengangkat tangan, melihat dengan saksama, binatang berkaki delapan dengan perut gembul. Tubuhnya hitam mengilap. Sebesar kacang tanah. Merayap perlahan menuju punggung tangan. Mata mengerikan itu menyala serupa biji kelereng dan seolah mengajakmu bicara, “Apakah memang perlu kepedihan yang mendalam agar manusia lebih kuat? Apakah kepedihan yang kaurasakan belumlah cukup?”

Kau terbangun. Di depan benda yang sunyi, bening, dan dingin di seberang ranjang, kau tatap hampa salinan tubuhmu yang terpantul di dalam sana. Melihat apa yang tergurat di lengan atas siku adalah tanda bahwa kau makhluk lemah. Ungu kemerahan dengan bintik-bintik putih kecokelatan sepanjang satu jengkal. Perih dan sakitnya memang bisa hilang dalam seminggu. Namun, apa yang bersembunyi dan berkelindan di dalam tempurung kepala seolah tak akan pernah lenyap bahkan hingga kau dibawa ke pembaringan dalam tanah.

Kau yakin sekali dan ingat, dulu, kalian dipertemukan dalam takdir, disatukan dalam cinta, lalu, semudah itukah kau ingin memisahkan apa yang disatukan Tuhan? Ada anak. Kau tentu pernah mencintainya. Jatuh cinta dalam rumah tangga memang serupa menanam pohon di pekarangan. Ia perlu dipupuk, perlu disiram. Ia harus dirawat agar terus bertunas, berbuah, dan berguna bagi makhluk lain di sekitar pohon itu. Jika dedaunannya layu, kalian bisa tanyakan pada diri kalian masing-masing apa yang perlu dibenahi. Apa yang perlu dipertanyakan demi menemukan jawaban dan jalan keluar. Kalian bukan anak-anak lagi. Tak perlu menjelaskan definisi kata dewasa.

Kau lihat wajahmu sekali lagi. Bayangan yang tak pernah berdusta dan selalu jujur mendengarkan segala apa yang kau alami. Anggapan orang-orang, kau selalu tak berdaya melawan nasib. Berdasarkan prasangka dan jarang diperhitungkan. Apakah di dunia ini kaum Adam memang tercipta untuk lebih dominan dalam segala hal? Kau ingin membuka semua, tetapi seolah suaramu hanyalah bisik angin yang tak pernah bisa didengar.

Nasihat ibumu tentu saja berguna. Namun, apakah segala hal yang terjadi di dunia ini bisa disamakan? Keadaan dan kondisinya sungguh berbeda. Kau menanyakan segala hal yang terjadi demi untuk terus mempertahankan apa yang disatukan Tuhan. Apakah kau tak diberi pilihan? Apakah pekerjaan memilih dan menentukan nasibnya sendiri hanya ditujukan untuk kaum sebelah. Kau terus memungkiri pernyataan usang itu. Kau yakin bahwa ada jalan keluar. Entah bagaimana caranya.

“Kau jatuh di kamar mandi lagi Rhien? Duh, besok-besok kamar mandi sering digosok lantainya. Jangan malas. Biar enggak licin.”

Apa perlu kau ceritakan kejadian aslinya? Seolah menceritakan kronologi kejadian juga akan sia-sia. Akan berbalas sebuah nasihat yang seolah tak pernah menuju jalan titik keluar. Kau tersenyum pada ibumu ketika senja yang teduh itu kau pulang sebentar dalam jarak waktu setengah jam perjalanan dengan motor. Kau lihat anakmu senang bermain hujan di luar. Kau gantungkan jas hujan di depan, segera masuk membawa serantang sayur bening bayam jagung manis kesukaan ibumu.

“Tak apa Bu. Sudah dikompres air hangat tadi sama Mas Ron.” Kau menceritakan kejadian tidak sesuai aslinya demi menghindar dari khotbah panjang ibumu. Juga menginginkan jika rumah tangga kalian baik-baik saja. Ibu yang janda, yang sendirian, sudah cukup kerepotan untuk mengurusi hidupnya sendiri. Ia ke mana-mana sudah memakai tongkat. Apa kau ingin menambah beban itu? Kalian sudah cukup dewasa. Kalian ingin menyelesaikan sendiri segala hal dalam rumah tangga kalian. Sekali lagi, kalian sudah paham apa definisi arti dewasa. Walau rasa nyeri di pelipismu masih sedikit membuatmu pusing kepala. Kau menyamarkan itu dengan plester luka.

“Rhien, anakmu di mana?”

“Di luar Bu. Main hujan-hujanan.”

“Heh, gimana, sih. Nanti demam. Cepat panggil suruh masuk.”

Bahkan untuk membebaskan apa yang kau suka untuk anakmu pun kau tak punya kuasa. Hujan telanjur disalahkan penyebab demam. Kau yakin sekali air hujan bermanfaat sekali bahkan untuk kekebalan tubuh anakmu. Ia ada untuk menumbuhkan rumput, bebijian bertunas, daun-daun hijau menjulang. Namun, untuk apa menjelaskan secara rinci. Setiap orang punya pendapat dan penilaian masing-masing. Yang kau harus lakukan sekarang hanyalah memanggilnya. Mengajaknya berbilas di kamar mandi. Memakaiakan anakmu pakaian hangat. Mengajaknya membaca buku cerita bergambar tentang hewan-hewan. Memakan cemilan remah-remah roti sisa ibu di meja ruang tamu.

“Anakmu keliatan kurus, ya? Apa enggak cukup gaji anakku untuk beli susu tambahan atau vitamin. Jangan dihamburkan untuk beli buku-buku terus.”

Sekali lagi, untuk apa menjelaskan yang nanti hasilnya pun akan percuma. Seolah apa yang kau lakukan selalu salah. Padahal, setiap minggu, kau diajarkan untuk selalu datang silaturahmi demi membangun kedekatan antara ibu dan menantu. Itu pesan ibumu. Berusaha menghilangkan jurang bahwa ibumu kandung dan ibu dari suamimu tak ada bedanya di matamu. Kau telah belajar banyak hal tentang itu. Dari teman-teman. Dari media sosial. Untuk bersedia mengalah. Bersedia mendengar pendapat. Bersedia saling tukar cerita dan berbagi resep bumbu masakan. Namun, tidak dengan sebuah luka yang hingga hari ini pun kau enggan bercerita. Apakah beliau akan percaya? Kau sungguh tak yakin. Ia anak semata wayang ibumu yang sangat disayang.

“Ini adalah keong. Yang ini namanya bebek. Ini sapi. Coba Mama tunjuk lalu Dedek yang jawab, ya ….”

“Ini eong … ni … api … ni ….”

Di lantai kamar tengah beralas kasur lantai, kau tengkurap bersama anakmu. Entah kenapa di usianya yang hampir menginjak angka empat ia masih kesulitan melafalkan sesuatu. Padahal kau yakin sekali untuk kebutuhan nutrisinya selalu terpenuhi. Kau hanya harus belajar sabar. Hinga ia tertidur dalam keadaan masih tengkurap. Lalu kau melihat gambar laba-laba janda hitam di buku itu. Sorot matamu berhenti di situ. Binatang kaki ramping delapan, berbulu, dengan perut bulat dan gembul. Sorot matanya yang tajam seolah ingin mengajakmu bicara. Di bawahnya keterangan pendek tentang penjelasan hewan itu yang sangat beracun. Entah dari mana, sebuah sesuatu tiba-tiba tergambar jelas di depan mata.

“Kau di rumah Ibu? Gimana, sih. Cepet pulang.”

“Iya, Mas. Sebentar lagi. Maaf, ya.”

Kau segera beranjak. Meletakkan ponsel. Berkemas. Lalu pamit pada ibu. Anakmu kau letakkan di gendongan depan. Awalnya ibumu melarang dan menyuruhmu naik ojek saja. Namun, ibumu tak akan paham. Betapa suamimu akan berubah jadi makhluk lain jika kelamaan menunggu. Kau belum menyiapkan masakan untuknya saat pulang kerja.

Selepas hujan di rumah ibumu, dalam tujuh hari penantian itu, kau menyuruh seseorang. Mencarikan apa yang bisa kaugunakan untuk sekadar membalas. Kau mungkin tak akan membayangkan akan seperti apa nantinya. Namun, setelah anakmu tidur, di malam selesai haid, ketika wajahmu serupa bunga mawar yang merekah sempurna, harumnya menyengat membentur dinding-dinding kamar hingga ke tepi ranjang, dan membuat laki-laki bisa terpedaya, yang kau perlukan nanti hanya menarik lengannya ke pembaringan. Walau kau tahu, malam itu kau seolah telah mendesainnya untuk melakukan atas nama kewajiban, bukan cinta. Tak perlu kau jelaskan hukum kausalitas jika akibat ditimbulkan dari sebab. Kau tahu konsekuensiya. Siap menanggung dosa.

Detik berlalu. Menit beranjak. Jam berdentang. Kau terbangun. Duduk di sebelah. Melihat suamimu masih terlentang tanpa busana dalam ketidakberdayaan. Bibirnya menyeringai puas. Namun, kau tak ingin tersenyum. Kau hanya ingin bahwa malam ini kau bukan lagi jadi wanita lemah. Kau beranjak keluar kamar. Sebelum menutup pintu, kau menabur kantung kresek berisi ratusan makhluk pesananmu dari orang suruhanmu untuk mengumpulkannya. Ia akan merayap sesuka hatinya. Ke korden jendela. Ke sprai, ke bantal, ke perut suamimu yang gembul, ke selimut yang lembap oleh keringat, juga merayap ke samping tembok, juga benda bening, dingin dan sunyi yang jadi saksi semua kisahmu. Kaca rias yang selalu membeku. Mereka tidak akan menggigit jika tidak merasa terganggu. Namun, kau tahu suamimu arachnophobia. Kau pernah melihatnya ketakutan, keringat dingin, berteriak-teriak ketakutan ketika melihat binatang itu bergelantung di tirai jendela kamar.

Pintu kamar kau tutup rapat-rapat. Lubang sela bawah telah kau selotip. Lubang ventilasi telah kau tutup dengan kain kasa yang rapat. Bahkan setelah perjalanan panjang dan menyakitkan, tak sekali pun kau ingin membunuh. Kau hanya ingin membuktikan bahwa kau bukan makhluk lemah yang disangkakakn orang-orang. Hingga hari ini suamimu pun tak berniat membunuhmu. Hanya ingin menyiksa ketika ia marah. Selama ini pun kau terus menutupi ketakutan dan kesakitan itu. Kau yang tak berdaya melawan nasib karena suamimu telanjur dicap baik-baik. Terlahir dari lingkungan beragama dan pendidikan tinggi. Kau tak pernah berani membongkar dusta itu. Kau yang terlahir tak punya bapak dengan jelas membuat keluarga suamimu memandangmu sebelah mata. Kau benar-benar tak punya daya apa-apa. Setelah ini kau hanya tinggal menunggu apa yang terjadi selanjutnya.

Subuh ini, kau ingin pulang sebentar ke rumah ibumu. Membawa anakmu serta untuk sekedar membawa ke suasana yang baru. Kau telah menyiapkan jauh-jauh hari. Kau telah mengunci rapat-rapat jendela samping kamar dengan paku dari luar. Kau pun tak perlu membayangkan ketakutannya. Bukankah selama ini pun kau telah berusaha dengan sekuat tenaga menutupi segalanya? Kau pun telah menutupi dengan rapi rasa sakitmu dan rasa ngilu di sekujur tubuhmu. Benturan di tembok kamar mandi. Remasan tangan di lengan tangan kiri. Pukulan di pelipismu. Serta puluhan rasa nyeri lain buah dari rasa mengalahmu, dan arti bias aneh dari kata “kepuasan” suamimu. Betapa selama lima tahun itu kau sembunyikan semuanya demi ibumu dan demi ibu suamimu.

Namun, di pagi yang masih dingin ini, kau benar-benar yakin, akan kautepis apa yang dituduhkan orang-orang bahwa kau makhluk lemah dan tak bisa menentukan nasibmu sendiri. Entah ia akan terbangun atau malah akan terus tidur selamanya. Jika ia masih diberikan nyawa, selepas ia bangun, jika ia berhasil menjebol jendela dan akan melaporkanmu, kau akan membawa seluruh bekas lukamu itu untuk jadi saksi di persidangan.

*) Image by istockphoto.com