KUAT KITA MELAWAN; JIKA

Apa, yang tak mengembuskan malam merangkul pagi?
Adalah aku si tuan pengepul padi dan deriji besi
yang tiap kiat-kiat pengampu amin merupa wadah tanpa isi
sedang pengumpama iman menjelma raga badarawuhi
setiap ia mengumpat—setia aku menari dalam badai

Lalu ketika sepotong tangan menjelujur dan menyemai arak-arak dupa
seketika ia menggantung tera di peparu perusak pepat, menganggap api merupa dusta
menabuh riuh ledakan tara, menebar parau hingga rata
di tanah-tanah yang telapaknya tak kentara

Namun aku belajar buta, menutup mata dari siksa lentera
sehingga apa-apa yang menyesap di kepala membusur baur
menjelajah dan mengepul, merona dan mengasak sepekat tabun
di kepala, ikhtiar tak henti mengandung berasa-asa
berselesa
tapi ibu belum terbangun

O, petakan seluruh napas, kau kujegal menyerusuk dalam sendiri
Seandainya
Jika hanya seandainya sempat ‘ku menera jangar dan menghapus luka
duka, dan pantang petang datang sebelum malam penuh liang
barang tentu padang dari beribu ilalang menyasar tempat eluh dan ratapan kita
bersilinang
tapi menghilang puja dan puji, dengan lenganku tersimpuh selayak selais bertanya
di sisik yang sebelah mana?

Maka
Bilamana maka Puan tak sadar sedang menjahit rotan yang patah
Menjadi sebab bahwa kita tak perlu simpang
Karena titian yang ditempuh kempuh dan berbantah arah
Ah, akhirnya ibu kembali terbangun, ia menitip pesan sambil berpapasan dengan halimun

Anak-anakku, pusaran duniaku
Anak-anakku, bukan tempat bermain yang kita tuju
Anak-anakku, yang genting dan berlapis beludru
Simpan resah dan kantungi lagi iga hingga egomu, anak-anakku

Sebab ini hidup
yang
indah
Sebab itu
Hanya itu yang kita punya

***

MENULIS EPITAF KEPADA LINGGA YANG PADAM

Kau dikutuk hari ini untuk tak tegak membela apa-apa selain membumi pada kenafsuan
Dan tak ada tempat berpaling selain pusara yang bahkan tak menerima akal-akalan akan
percobaan apapun merupa katarsis
Lantas runtas dan sebaiknya diputus sebab mitraliur pada selangkamu meratapi vestigial
Juga seluruh percuma hanya akan menghaturkan sinisitas yang banal
Keliaan diri pada status parsudi kini tinggal nama dan bahan olok-olokan caci maki


Kemuliaan dini pada akhirnya bertapa namun tapaknya menyelamkan diri hingga ke leher
Tak ada lagi kesemogaan dan ketenangan; mangkirlah dan cari jalan dari sekarang hingga hari pertimbangan
Menyerahlah pada busur Simhänada yang menjadi bayang kekal di gelap balik pelipismu


Menjadi pipis terakhir yang sebaiknya tak pernah kau kencingi

*) Image by istockphoto.com