Di samping jendela yang menampakkan awan-awan beterbangan, aku memilih menatap layar HP murahan yang terdapat garis hijau bagian kirinya. Beberapa kali jempol dan jari telunjuk memperbesar foto yang diambil tiga tahun lalu.
Aku yang terlihat memakai tas gunung berwarna kemerahan berada di tengah, di samping ibu dan bapak. Lucunya, bapak mengepit koran di ketiak kanannya. Bapakku memang maniak koran. Katanya tidak mau ketinggalan berita. Apalagi jika sudah hari Sabtu, senangnya bukan main karena ia bisa mendapati cerpen dan puisi. Beberapa kali aku membujuknya berlangganan e-paper saja, biaya langganan lebih ramah kantong. Namun ia bergeming, menurutnya matanya bisa perih kalau berlama-lama menatap layar.
Memandangi foto tersebut, aku jadi teringat obrolan kami sebelum akhirnya memutuskan pergi dari negara asalku. Mirip politisi-politisi bodoh yang saling bersilat lidah di acara televisi.
Tombol “kembali” aku pencet setelah merasa cukup melihat kenangan. Sebelum aku mengunjungi dunia mimpi, aku sempatkan membuka kamera HP. Lalu menangkap pemandangan langit berwarna biru laut. Kumasukkan HP ke dalam saku celana terlebih dahulu, sebelum akhirnya menyandarkan kepala pada bantal kursi.
***
Setelah lulus SMA…
“Satu per delapan jadikan nol koma seratus dua puluh lima,” ucapku lewat telepon genggam yang kutempel di telinga kanan. Tanganku menopang kuat gadget agar tidak terjun. Sementara tangan kiriku-lewat ujung jari-memencet tombol dispenser berwarna biru. Tak lama, suara gelembung yang muncul di dalam galon terdengar samar. Melihat volume air sudah meninggi, buru-buru aku lepaskan tombol agar tidak luber.
Aku dan temanku sedang belajar agar lolos masuk perguruan tinggi. Kami sering belajar bersama entah di perpus kota maupun dicoffee shop. Sampai ada temanku lainnya yang mengira kami sepasang kekasih. Temanku di telepon ini lumayan payah soal matematika. Merasa pelajaran itu tidak perlu dianggap serius. Apa iya di dunia kerja nanti disuruh menghitung pythagoras? Begitu katanya. Makanya ia sering minta bantuanku yang ahli dalam urusan angka-angka.
Di ruangan makan ini ada seorang pria berperut gempal menggunakan singlet putih dan bercelana kolor bergambar teletubbies. Kedua tangannya membentangkan koran selebar dua halaman, membuat wajahnya tak terlihat. Yang nampak justru halaman utama yang menampilkan sosok pria berdiri di mimbar kayu, mengepalkan tangan ke atas dengan wajah patriotik. Judulnya: Presiden Terpilih.
Begitulah pesona bapak saat membaca. Mendengar aku mengisi air minum galon, ia menurunkan korannya. Terlihat sorot kedua matanya ke permukaan. “Ayah ingin bicara,” ucapnya tiba-tiba.
Apa ia tidak tahu aku sedang berbicara penting? Tapi yasudah, aku segera bilang ke temanku, “nanti kutelepon lagi.”
Kutaruh gelasku berjarak tiga telapak tangan guna terhindar risiko tersenggol. Kemudian aku memegang pinggang kursi seperti memegang balita. Kuangkat pelan-pelan dan memundurkan kursi. Sengaja kulakukan biar tidak ada bunyi berderit. Aku duduk manis dengan posisi tangan sedekap. Siap mendengarkan ceramah.
Ia kemudian melipat koran dan menaruh di meja. “Nak, pergilah dari negara ini,” katanya. Suasana langsung hening. Aku mencoba mencerna kalimat itu, tapi tetap saja membuatku bingung. Secara refleks, tanganku menggaruk-garuk kepala yang tidak terasa gatal.
Aku tahu cara komunikasi bapak cukup buruk. Melompat-lompat. Ibu bahkan sempat kesal karena segala keluhannya langsung disodorkan solusi oleh bapak, tanpa memberikan penjelasan panjang. Sialnya lagi ibuku hanya ingin didengar.
“Tolong jelaskan dari awal, aku bukan Einstein.”
“Oh ya, maaf, otakku lebih cepat bekerja daripada lidah.”
Bapak berdeham sebentar. Ia kemudian menjelaskan di negara semenanjung sedang kekurangan pekerja. Orang-orang sana banyak yang tak sudi memiliki anak. Akibatnya populasi mereka saat ini terbilang miris. Walaupun nanti hanya menjadi buruh pabrik, tetapi gaji di sana lebih menggiurkan daripada di negara ini. Bapak lalu diam.
Baru kubuka bibirku pelan, “ak…” sudah disambar oleh mulut bapak. Ternyata belum berhenti nyerocos. Bapak mempunyai firasat akan ada badai pengangguran. Tambahnya lagi, tempat perusahaan bapak bekerja sudah lupa kapan terakhir membuka lowongan pekerjaan. Katanya, aku harus bergegas mengambil langkah.
“Tapi bukankah presiden terpilih akan membuka lapangan kerja banyak?”
“Kau ini setiap hari sudah makan ikan, masih saja bodoh.”
Aku menelan ludah dua kali. Pada pilpres tahun ini sebenarnya bapak sudah mewanti-wanti untuk tidak memilih orang itu. Jujur saja aku tidak mengikuti sarannya, sebab aku merasa selama masa kampanye, pidato-pidato orang itu begitu menggelegar dan berani. Paling lantang di antara paslon lainnya. Mungkin kalau bapak tahu aku memilih orang itu, aku bakal dipiting.
Kusempatkan meminum air dari gelasku. Terus kusisakan air setengah gelas untuk diminum nanti. Aku lantas berkata, “Aku ingin menjadi guru, guru matematika tepatnya.”
Bapak yang mendengarkan perkataanku menyemburkan butiran-butiran air liur dan tertawa terbahak-bahak, sampai gigi-giginya yang rapi kelihatan. Saking malunya, kedua tangannya menutup muka. Aku yang melihatnya tidak tahu letak komedinya. Bukankah menjadi guru adalah pekerjaan mulia untuk mencerdaskan penerus bangsa. Selesai tertawa, ia masih harus mengusap air mata yang keluar sedikit dengan jari-jarinya.
“Kau mau digaji hanya dengan 22 dolar per bulan?”
“Keahlianku mengajar, Pak.”
“Keahlian lain bisa dikejar, apalagi kau masih muda.”
Aku menjelaskan bahwa aku begitu menyukai mengajar. Aku merasa mengajar adalah panggilan hidupku. Teman-temanku yang tersenyum lebar karena memahami apa yang aku jelaskan, membuatku senang. Bukankah yang namanya passion tidak masalah dibayar berapa pun asalkan senang menjalaninya. Begitulah kata-kata keren yang berseliweran di medsos dengan memasang wajah artis terkenal.
Sambil menghembuskan napas panjang, bapak lalu berkata, “Dengarkan ini, Bapak serius.” Sejenak ia mulai terlihat mirip Thomas Shelby di serial Peaky Blinders. Suaranya sengaja diberat-beratkan agar terlihat memukau.
Bapak bercerita sudah sering membaca berita-berita di koran bahwa guru hanya dibayar rendah sampai pensiun. Sampai sekarang nasib guru begitu-begitu saja. Bapak tidak mau jika nantinya aku mendapat upah hanya bisa untuk makan dan beli pasta gigi. Memangnya menabung tidak penting?
“Bapak bukan anggota sembilan naga, tabungan Bapak hanya bisa untuk satu pilihan,” kata bapak. Bapak memilih untuk memasukkanku ke les bahasa negara semenanjung dan segera ikut lembaga pelatihan yang menyalurkan tenaga kerja ke sana. Yang pasti pekerjaan sudah tersedia. Daripada masuk ke perguruan tinggi yang biayanya mencekik rekening, apalagi setelah lulus belum tentu mendapat pekerjaan. “Percuma mempunyai ijazah kampus jika nantinya tidak mempunyai uang.”
Aku mencoba berargumen lagi. Bagaimanapun negara ini adalah rumahku. Teman-temanku di sini. Aku suka orang-orang di sini dan ramah tamahnya. Intinya tidak bisa pergi dari sini. Di negara sana aku bakal sendiri. Mungkin saja aku tidak cocok dengan makanan-makanannya. Dan sudah pasti aku akan selalu rindu rumah.
“Kau terlalu naif, anakku,” jawab bapak. Semakin bertambah umur, seseorang harus bisa berdiri sendiri di atas kedua kakinya. Saat dewasa nanti, tidak akan ada orang yang membantumu, Sambil menunjukku, bapak mengatakan bahwa laki-laki tanpa uang akan dianggap sampah.
“Lantas, bagaimana jika terjadi apa-apa dengan bapak dan ibu?”
“Maksudmu?”
“Aku anak satu-satunya kalian. Jika terjadi apa-apa dengan kalian?”
“Dengar, yang tua semakin mendekati liang lahat. Sementara yang muda masih jauh perjalanannya. Jangan pedulikan kami”
“Bapak yakin?”
“Tentu saja, bapak dan ibu sudah membahas ini. Yang paling penting kau harus selamat dari musibah yang akan datang.”
Sebelum mengakhiri percakapan ini. Kata bapak aku harus menerima. Jika menolak mainan rubik milikku 8×8 akan berakhir di tong sampah.
***
Aku menelepon kembali temanku tadi. Kali ini aku ingin bertemu di coffee shop. Aku ingin berbicara panjang lebar, sekaligus ingin kopi espresso tiga shot.
Aku datang terlalu cepat ternyata. Dudukku berada di sebelah pojok yang mejanya cukup untuk dua orang. Sembari menunggunya aku mencoba mencari artikel pengalaman para pekerja yang sudah ke negara semenanjung. Baru membaca setengah artikel, aku mencium bau parfum khas. Kuangkat kepalaku, perempuan berambut pendek melempar senyuman. “Maaf aku telat, Tyo,” ucapnya. “Tak apa, Lisa,” jawabku sambil menggelengkan kepala.
Lantunan musik jazz bervolume rendah mengiringi obrolan kami. Aku bercerita segala ucapan bapakku kepadanya.
Setelah kuceritakan semuanya, sebenarnya aku mengharapkan ia marah-marah dan mencoba menghalangiku pergi. Mencoba merengek seperti anak kecil. Tapi ia justru memberikan jawaban bijak.
“Kurasa ayahmu lebih tahu tentang segala sesuatu.”
“Begitukah?”
“Saat ini orang-orang cukup pesimis. Tidak ada yang tahu masa depan negara ini.”
Ia memegang erat tanganku dan memberitahu rahasia mencengangkan. Kakaknya yang lulusan universitas ternama di luar negeri, sampai dua tahun ini masih mengemis pekerjaan. Lisa tak ingin aku mengalami hal serupa. Menurutnya yang penting aku tidak menjadi gembel.
“Kau bagaimana jika harus tanpaku?” tanyaku. Beberapa detik Lisa terdiam, lalu berkata bahwa aku tidak perlu khawatir. Ini adalah keputusan yang harus diambil, suka atau tidak. Menurutnya, setiap pertemuan pasti ada perpisahan.
Kami mengobrol sampai tiga jam. Sengaja kami menikmati momen ini. Karena bisa jadi percakapan seperti ini tidak pernah terjadi lagi.
“Aku senang bisa mengenalmu.”
“Aku juga.”
***
Aku kembali membuka ingatan saat bekerja sebagai perakit elektronik di perusahaan global. Sebelum mengambil cuti ini, selama tiga tahun, aku tetap mengikuti informasi-informasi terbaru mengenai negara asalku. Bapak benar, para sarjana kini menjerit tak kunjung mendapatkan pekerjaan. Mereka masih di fase mengirim lamaran pekerjaan. Mereka tidak tahu kapan akan dipanggil, diterima atau tidak, atau malah tertipu oleh loker bodong.
Jujur saja aku ikut sedih membaca. Mereka saudara sebangsa seharusnya mudah mendapat akses pekerjaan di rumah mereka sendiri. Beberapa kali aku mendapat DM dari teman-temanku.
“Enak ya udah kabur ke luar negeri.”
“Pasti gajinya gede.”
“Pulang-pulang bisa membangun rumah dan kos-kosan.”
Aku tidak begitu antusias menjawab perkataan mereka. Mereka hanya melihat permukaannya saja. Tak mengherankan, sebab teman-teman seperjuangan di negara semenanjung cuma membagi sisi positifnya saja. Padahal jika kamera HP sudah dimatikan, banyak yang menangis di kamar mereka sendiri. Mereka tetap harus berhemat dan mereka rindu pulang.
***
“Sudah sampai, Mas,” ucap sopir taksi. Kusodorkan beberapa lembaran uang ke tangannya. Kakiku mendarat pelan ke tanah. Sambil menggendong tas gunung yang sama saat dulu pertama kali berangkat, aku memandang rumahku. Di depan rumah, karangan bunga berjejeran mengucapkan kalimat yang sama: turut bela sungkawa. Bahkan ketika aku masih berdiri masih ada mobil pikapyang mengantar karangan bunga lagi.
Di hadapan para tamu yang mengenakan pakaian serba hitam, aku melangkah masuk ke dalam rumah. Tak lupa aku menyalami mereka satu-persatu. Semua kerabat dan tetangga berkumpul.
Sampai di dalam rumah aku memeluk ibuku yang masih menangis. Ibu-ibu lain juga berkumpul duduk di lesehan. Kulihat segala kursi dan meja sudah digeser untuk memberi ruang lebih luas. Sepertinya ibu belum sempat membersihkan semuanya, masih ada tumpukan koran-koran yang berserakan di meja.
Ibuku lalu mengantarku ke jenazah yang ditutupi kain hijau. Aku menyibak bagian ujung untuk melihat wajah bapak yang sudah dibungkus kain putih. Aku tidak bisa menangis lagi karena air mataku sudah habis. Keluar deras saat mendapat pesan bahwa bapak meninggal mendadak serangan jantung ketika membaca koran. Kuurai tali yang mengikat kepala, agar bisa menampakkan dahinya yang lebar. Aku cium kening bapakku. Kukatakan kepadanya, “Kau Bapak yang keren.”
*) Image by istockphoto.com















