KURUNGBUKA.com – Kenapa judulnya Rangga dan Cinta, bukan Cinta dan Rangga? Pertanyaan itu sempat menggelitik sejak awal mendengar kabar film ini dibuat. Tahun 2024 kemarin, cerita saya dan tim terpilih difasilitasi untuk mendapatkan pendanaan series di JAFF Market lewat Kemenparekraf RI. Kami masuk ke program Scene Masterclass penulisan series, dan booth kami terletak persis di depan Miles Films. Hampir setiap hari, selama kurang dari seminggu, saya melihat aktor maupun sineas mampir ke booth Miles. Sesekali, mereka juga sempat saya ajak singgah ke booth kami. Saat itu, Miles sedang mencari pendanaan untuk film Rangga dan Cinta. Kini, setahun berselang, film itu benar-benar tayang dengan sokongan investor dari berbagai arah.
Tanggal 2 Oktober 2025 tepat di hari perilisannya di bioskop, saya menonton filmnya. Rangga dan Cinta adalah remake dari Ada Apa Dengan Cinta (2002), tapi dikemas ulang sebagai musikal dengan pemain baru hasil seleksi panjang. Setting-nya tetap di Jakarta tahun 2001, seolah membawa penonton kembali ke awal dekade 2000-an.
Film ini mengisahkan Cinta (Leya Princy), remaja yang hidupnya tampak nyaris sempurna: sahabat yang solid di SMA, keluarga penyayang, dan status sebagai gadis populer di sekolah. Semua terasa aman—hingga sebuah lomba puisi mengubah segalanya. Cinta kalah dari seorang cowok misterius, Rangga (El Putra Sarira), sosok penyendiri yang lebih suka membaca buku di pojokan. Kata-katanya bisa menusuk hati, membuat Cinta awalnya kesal namun diam-diam penasaran.
Dunia Cinta yang ramai dan penuh tawa bersinggungan dengan dunia Rangga yang sepi tapi dalam. Di usia remaja yang serba cepat, perasaan datang tiba-tiba, seringkali sebelum ada ruang untuk benar-benar memahami. Dan sebuah peristiwa menyangkut sahabat membuat Cinta harus memilih: persahabatan yang telah lama menemaninya, atau cinta pertama yang baru tumbuh.
Jika dulu Ada Apa Dengan Cinta digarap oleh Riri Riza dan Mira Lesmana sebagai produser, kali ini Riri duduk di kursi sutradara, sementara Mira tetap sebagai produser, berkolaborasi dengan Nicholas Saputra (Rangga versi 2002) serta Toto Prasetyanto. Mira juga ikut menulis skenario bersama Titien Wattimena.
Yang terasa dari film ini bukan sekadar nostalgia atau upaya untuk “keren-kerenan.” Justru ada ketulusan yang begitu kuat mengalir dari setiap adegan, sampai rasanya menembus hati. Saya bahkan sempat menangis haru, karena film ini mengingatkan betapa polos dan sederhananya kegembiraan menonton film remaja di masa itu—tanpa pusing memikirkan teknik atau gaya tutur.
Musikalnya pun terasa pas. Suara Leya dan El Putra benar-benar mengejutkan—indah, mengalir, hingga membuat saya lupa bahwa yang saya lihat hanyalah aktor muda yang baru memerankan Rangga dan Cinta. Rasanya seperti benar-benar bertemu mereka dalam versi yang berbeda.
Yang lebih penting, film ini memberi makna baru bagi generasi Z maupun Alpha. Lewat sosok Rangga, ditunjukkan bahwa membaca bukanlah hal culun. Justru keren. Rangga bisa berantem, bisa membela diri, tapi tetap cinta pada buku. Sebuah pesan sederhana tapi penting: membaca itu keren, berpengetahuan itu penting, dan mungkin dari generasi muda inilah kelak lahir peradaban yang lebih baik.
Kalau pun ada kekurangan, barangkali terletak pada inkonsistensi detail setting tahun 2000-an. Ada beberapa properti, rumah, atau benda yang tampak terlalu modern. Namun itu terasa minor dan mudah dimaafkan.
Saya sangat berterima kasih pada Miles Films, Mira, Riri, Nicholas, dan semua tim yang terlibat. Rasanya sudah lama sekali saya tidak jatuh cinta pada film remaja. Tapi semalam, saya benar-benar kembali jadi remaja—jatuh cinta pada pandangan pertama, polos, lugu, dengan beban hidup yang hanya berkisar pada sekolah, sahabat, dan cinta. Film ini bahkan membuat saya kembali mengingat sahabat-sahabat lama. Sebuah rebirth yang bukan hanya menghidupkan kembali Rangga dan Cinta, tapi juga menghidupkan kembali rasa remaja dalam diri penontonnya.
Skor: 8,5/10
*) Image by imdb.com
















