KURUNGBUKA.com, SERANG – Pada tahun 2020, Riyan Hidayatullah (30), seorang Orang dengan Masalah Gangguan Kesehatan (ODMGK), datang ke Yayasan Assifa Amalindo Pratama (Amalindo) yang terletak di Kampung Nagor, RT 04/02, Desa Sukabares, Kecamatan Waringinkurung, Kabupaten Serang, Banten.
Riyan, yang berasal dari Kecamatan Jombang, Cilegon, mengatakan, “Saya datang ke Yayasan Assifa ini untuk terapi,” saat ditemui di Yayasan Assifa pada Sabtu (10/10/24).
Ia menceritakan bahwa awalnya mengalami depresi biasa, namun lambat laun berkembang menjadi bipolar afektif disorder. Ia mengaku semasa muda merupakan seorang yang introvert.
“Saya dulu sering memecahkan kaca rumah karena depresi, salah satunya karena putus cinta. Saya punya kehidupan sosial yang buruk, introvert. Ketika kehilangan teman wanita, saya merasa bingung,” ungkap mahasiswa Jurusan Psikologi Universitas Teknologi Nusantara Bogor ini.
Setelah dinyatakan pulih pada tahun 2018, Riyan sempat tinggal beberapa bulan di Yogyakarta sebelum akhirnya kembali ke rumah.
“Saat itu saya ingin kembali lagi, tapi dengan kepribadian yang berbeda,” ujarnya.
Riyan kini telah menulis tiga buku. Buku pertamanya berjudul Sampah: Ketika Kekasih Menjadi Mantan terbit pada tahun 2018. Buku kedua, Sampah!! Perjalanan Hidup, diterbitkan pada tahun 2020.
“Buku ketiga saya ini berjudul Buku Saku Perjalanan 30 Tahun yang saya tulis selama dua minggu setelah diputuskan oleh pacar,” katanya.
Dalam salah satu bukunya, Riyan menulis, “Dari sini kita belajar bagaimana cara menerima dan bersyukur atas segala hal yang terjadi dalam kehidupan kita. Mengerti bahwa tidak ada takdir Tuhan yang salah ketika kita diberi jalan. Tentang kuasa Tuhan, tentang bagaimana sebuah pertemuan, perpisahan, tawa, sedih, bahkan amarah. Hidup bagaikan mozaik, dari kepingan-kepingan kecil yang akan menjadi sesuatu yang luar biasa.”
Riyan juga menyampaikan rasa terima kasihnya kepada Yayasan Amalindo yang dipimpin oleh Bapak Ismail (62) dan keluarganya.
Ditemui di tempat yang sama, Ismail (62), Ketua Yayasan Assifa Amalindo Pratama yang bergerak di bidang rehabilitasi bagi Orang dengan Gangguan Jiwa (ODGJ), menyatakan bahwa ia merasakan kebahagiaan yang tak ternilai setiap kali melihat pasien ODGJ yang dirawat di yayasannya bisa pulih dan kembali hidup normal di masyarakat.
“Itu adalah kebahagiaan yang tak ternilai bagi saya, bisa melihat ODGJ yang kami rawat di Yayasan Amalindo ini pulih, bahkan ada yang sudah bekerja dan berumah tangga,” kata Ismail.
Ismail menceritakan bahwa sejak tahun 2013 ia sudah menangani kasus orang-orang yang dipasung, dan baru pada 2015 ia mendirikan Yayasan Amalindo.
Di yayasannya, sudah ada 46 ODGJ yang ditampung dan dirawat. Ismail mengisahkan bahwa pada tahun-tahun sebelumnya, banyak kasus pemasungan di wilayah Banten. Hal ini yang mendorongnya untuk terjun membantu.
Ia juga menambahkan bahwa banyak pasien ODGJ yang ditemukan di jalan, kemudian dibawa ke yayasan untuk dirawat. Sebagian lainnya sengaja dititipkan oleh keluarganya. Namun, biaya makan sehari-hari para pasien sering kali menjadi kendala karena keluarga pasien umumnya kurang mampu.
“Kami sering menerima sayur kangkung atau makanan seadanya dari keluarga pasien untuk kebutuhan makan mereka,” cerita Ismail.
Duta Baca Banten, Rahmat Heldy HS, yang hadir dalam kunjungannya ke Yayasan Amalindo, mengapresiasi dedikasi Ismail dalam menangani ODGJ.
“Saya sangat mengapresiasi Pak Ismail. Beliau telah menginspirasi banyak orang dengan dedikasinya,” ujar Rahmat.
Dalam kunjungannya, Rahmat juga menyampaikan rencana untuk mengadakan kegiatan literasi di yayasan tersebut. “Kami ingin mengadakan pelatihan menulis bagi pasien ODGJ yang sudah pulih, agar mereka dapat menyalurkan emosi dan pengalaman melalui tulisan, seperti yang dilakukan Riyan,” tutupnya. (rhl/ana)
















