KURUNGBUKA.com, YOGYAKARTA – Sastra tidak pernah benar-benar hidup dalam ruang yang terisolasi. Ia bergerak bersama manusia, melintasi batas geografis, bersentuhan dengan kebudayaan, dan berhadapan dengan perubahan zaman.

Di tengah arus globalisasi, sastra menjadi salah satu ruang untuk membaca pertemuan berbagai pengalaman, gagasan, dan identitas. Persoalan inilah yang mengemuka dalam kegiatan  Dissemination 2026 bertema “Literature in the Crosscurrents of Globalization”.

Diselenggarakan oleh Program Studi Magister Sastra, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada (FIB UGM), pada Rabu (4/11/2026), konferensi internasional ini merupakan agenda akademik tahunan yang diikuti ratusan peserta secara daring. Kegiatan dibuka dengan sambutan Dekan FIB UGM, Dr. Nur Saktiningrum, S.S., M.Hum., kemudian dilanjutkan oleh Ketua Program Studi Magister Sastra, Prof. Dr. Aprinus Salam, S.S., M.Hum.

Paparan utama pertama disampaikan oleh Prof. Dr. Faruk, S.U., dari Universitas Gadjah Mada melalui presentasi bertajuk “Sastra dalam Pusaran Globalisasi: Beberapa Kesan”. Faruk menggunakan metafora pusaran untuk menggambarkan pertemuan berbagai arus dalam globalisasi. Ia merujuk pada lima arus kebudayaan global (global cultural flows) dari Arjun Appadurai, yaitu arus manusia (ethnoscapes), media (mediascapes), teknologi (technoscapes), uang atau modal (financescapes), dan ideologi (ideoscapes).

Pembahasan ini juga mengaitkan globalisasi dengan gagasan benturan peradaban Samuel Huntington, masyarakat informasi Manuel Castells, serta konsep disjuncture Appadurai yang menggambarkan ketidaksejajaran berbagai arus global.

Dalam kaitannya dengan sastra, Faruk menjelaskan bahwa sastra merupakan karya imajinatif mengenai dunia yang mungkin dengan bahasa sebagai mediumnya. Ia juga menyoroti perkembangan arus global kesusastraan sejak era media cetak hingga media digital.

Menurutnya, sastra memiliki kemungkinan untuk membayangkan arus-arus lain dan hubungan di antara berbagai arus tersebut secara imajinatif. Forum kemudian berlanjut dengan presentasi tujuh makalah oleh delapan presenter, yakni Brilindra Pandanwangi, Dyah Ayu Prasetyaningrum, Sayyidah Khoizuroonah, Pradita Devis Dukarno, Nio Awandha Nehru, Gerardo Felix Salim, dan Tri Kurniawan Sujoko. Para presenter menyampaikan hasil penelitian dengan beragam topik dan pendekatan dalam kajian sastra kontemporer.

Perspektif internasional berikutnya hadir melalui paparan Mag. Dr. Stefan Kutzenberger dari Universität Wien, Austria. Dalam presentasi berjudul “Vienna around 1900: Disputes and Demystification of Narrative”, Stefan Kutzenberger mengajak peserta menelusuri Wina pada sekitar pergantian abad ke-19 menuju abad ke-20. Melalui dokumentasi visual, ia memperlihatkan perubahan wajah kota, perkembangan kawasan Ringstraße, serta pertumbuhan institusi kebudayaan seperti galeri seni, teater, dan Universitas Wina.

Pembahasan tersebut turut menyinggung tokoh-tokoh seperti Sigmund Freud dan Gustav Klimt serta perkembangan gerakan Secession. Berbagai contoh itu memperlihatkan dinamika kehidupan intelektual dan artistik Wina pada awal abad ke-20, ketika perubahan ruang perkotaan berjalan beriringan dengan perkembangan seni dan pemikiran. Menjelang akhir kegiatan, panitia mengumumkan dan menyerahkan sertifikat penghargaan kepada presenter terpilih dalam kategori Best Paper dan Best Presenter sebagai bentuk apresiasi atas karya penelitian dan kemampuan presentasi mereka.

Di balik penyelenggaraan konferensi ini, terdapat kerja kolaboratif 11 orang panitia. Persiapan dilakukan melalui koordinasi dengan pembicara dan presenter, penyusunan rangkaian acara, serta pengelolaan teknis pelaksanaan daring. Selama kegiatan berlangsung, koordinasi panitia dilakukan dari lantai 2 Perpustakaan Universitas Gadjah Mada. Ketua panitia, Rini Febriani, memandang kepanitiaan sebagai ruang untuk belajar bersama. Baginya, sebuah tim ibarat satu tubuh. Setiap anggota memiliki peran dan saling membutuhkan.

Komunikasi, dukungan, serta kesediaan untuk saling menguatkan menjadi bagian penting dalam mempersiapkan dan menjalankan kegiatan. Rini juga menyampaikan terima kasih dan apresiasi kepada seluruh anggota panitia atas waktu, tenaga, komitmen, dan kerja keras yang telah diberikan sejak tahap persiapan hingga kegiatan selesai. Setiap kontribusi menjadi bagian penting dari terselenggaranya kegiatan Diseminasi Internasional 2026.

Sebagai agenda tahunan Magister Sastra FIB UGM, kegiatan diseminasi menjadi ruang pertemuan bagi hasil penelitian dan pemikiran dari berbagai latar belakang akademik. Kehadiran akademisi dari Indonesia dan Austria memperluas pembahasan mengenai sastra dalam kaitannya dengan sejarah, kebudayaan, dan globalisasi. Melalui forum ini, dialog akademik diharapkan terus tumbuh dan membuka ruang bagi pembacaan sastra yang lebih luas di tengah perubahan dunia. (farika/rls/dhe)