KURUNGBUKA.com – Kalau Lian dan Ombak remaja hidup di tahun 2026, maka hubungan mereka bisa disebut “just friend”. Hubungan tidak jelas di antara keduanya diisi senyam-senyum dan pengalaman seru berburu komik Jawa bekas serta menjadi mama-papa dua ekor ikan koi. Namun sayang keduanya mengalami masa remaja di tahun 1998, di mana pemburuan etnis Tionghoa terjadi. Lian Wen menjadi korban pemerkosaan dan Ombak dihantui sesal akibat ikut penjarahan.
Namun sebelum peristiwa mengerikan itu terjadi, hubungan mereka pada hakikatnya memang diisi oleh banyak trauma. Lian kerap disiksa penyesalan atas dinamika ekonomi yang dihadapi oleh papinya, yang membuat maminya stres dan meninggal dunia. Ombak memilih hidup mandiri sejak SMA karena tidak tahan dengan sikap bapak yang sangat kasar dan keras kepala, sambil berharap ibu dan adiknya kembali. Trauma dua insan ini kemudian bersatu padu membentuk ketabahan, terutama saat Ombak yang beranjak dewasa berkata: “Aku yang menentukan titik normalku sendiri. Hidupku yang sekarang ini kuanggap normal. Dan karena itu, aku merasa baik-baik saja”, membuat gadis yang ditaksirnya terkagum-kagum lantas meniru ucapannya berulang kali.
Harapan Ombak agar ibu dan adiknya kembali, dikabulkan separuh oleh Tuhan. Ibunya memang tidak kembali, tapi Awan—adiknya Ombak—bahkan memata-matainya dan minta ikut tinggal bersamanya di indekos. Hubungan abang-adik ini tidak diceritakan secara detail dan mendalam. Namun Ombak tampaknya tidak keberatan sedikitpun Awan menjadi beban hidupnya, baik dalam kebutuhan sandang, pangan, dan papan.
Nahasnya, sepatu Awan harus menganga seperti mulut buaya saat kerusuhan 1998 terjadi. Ombak yang sedang menjajakan koran di lampu merah terseret oleh arus masa, dan bertemu dengan adiknya yang hendak menjarah sebuah toko bersama teman-temannya. Kenapa nahas? Karena Awan berujung terpanggang di dalam toko itu, dan Ombak tidak dapat mengenalinya di antara banyak korban yang hangus dalam kantong-kantong hitam.
Sedang apa Lian saat kerusuhan terjadi? Ia sedang memerhatikan ikan koi pemberian Ombak dengan pipi memerah. Terbayang olehnya gurat wajah tampan Ombak lengkap dengan gombalannya. Namun aktivitas menyenangkan itu seketika tergantikan oleh rasa perih tak terkira di selangkangannya, saat gerombolan lelaki yang menjarahi toko sembako papi memerkosanya sambil tertawa lebar. Lian ditemukan di tengah genangan darahnya sendiri, di dekat ikan koi yang menggelepar karena tercampak dari akuarium stoplesnya.
Aku jauh lebih menghargai sebuah trauma ketika membaca novel ini. Tidak ada satu tokoh pun yang lepas dari trauma masa lalu. Masing-masing berusaha melanjutkan hidup dengan caranya sendiri. Lian merantau dan kembali ke kota asalnya, tapi tidak lagi pernah tertawa bahkan bisa pingsan jika mendengar gelak tawa di dekatnya. Ombak dihantui mimpi kantong-kantong hitam dengan kaki dan tangan mayat yang muncul di baliknya—bertahun-tahun hingga ia telah beristri dan beranak satu.
Mereka—orang-orang yang diselimuti trauma—menjadi target pasar Penatu Binata, sebuah penatu yang bisa menghapus ingatan. Meski awalnya terasa janggal, tapi Ombak tetap memutuskan berangkat ke sana. Aku teringat novel Hujan karya Tere Liye saat membaca bagian ini. Di novel tersebut, Lail menghapus ingatan dengan prosedur yang super canggih. Namun prosedur penghapusan ingatan di Penatu Binata sangat sederhana. Pelanggan duduk menghadap tabung mesin cuci yang sedang memutar pakaiannya—layaknya penatu lain—sambil mengunyah sebutir buah alara dan mengingat trauma atau kenangan paling menyakitkan yang ingin dilupakan. Begitu mesin cuci berhenti, ting! Ombak bingung mengapa telah berada di sebuah penatu padahal istrinya biasa mencuci pakaiannya di rumah.
Begitu pun yang terjadi pada Lian. Hatinya tergerak untuk mencoba janji aneh Penatu Binata yang disebut-sebut dalam surat. Ia datang, bertemu seorang wanita tua yang baru saja menyelesaikan prosedur penghapusan ingatan, dan semakin mantap untuk menghapus ingatannya sendiri.
Awalnya aku mengira prosedur ini semacam hipnosis dengan melihat putaran kencang mesin cuci. Namun ternyata kuncinya ada pada buah yang dikunyah. Buah alara adalah kamuflase obat penghapus ingatan. Cara kerjanya semacam rekayasa memori pada lokus otak tertentu. Namun formula obat itu tidak sesempurna yang dikira. Jika otak pelanggan mengalami manipulasi neurotransmitter—ledakan hormon dopamin, serotonin, dan oksitosin—berlebih alias jatuh cinta sampai dungu, maka efek buah alara dapat memudar bahkan hilang.
Lantas apakah kita perlu mengasihani orang yang gagal menghapus ingatan penyebab trauma tersebut?
Itu pertanyaan yang kulontarkan ke diri sendiri dan jawabannya adalah tidak. Menghapus ingatan tidak membuat trauma sembuh. Trauma itu ditekan semakin dalam dan menghasilkan efek linglung. Lian dapat tertawa lebar. Hidupnya tampak menyenangkan. Namun trauma seolah menyentuh bulu kuduknya setiap saat, dan membuatnya tidak mengenali diri sendiri. Begitu pun Ombak yang kini dapat tidur nyenyak tanpa kantong-kantong hitam berisikan mayat gosong lagi, tapi terlihat seperti orang yang mabuk alkohol tiap detik.
Lalu apa yang dikhawatirkan pun terjadi. Lian dan Ombak bertemu kembali layaknya dua jiwa yang ditakdirkan bersama. Keduanya kembali merasakan aliran listrik yang menyengat indah tiap kali bertemu. Lelaki beristri dan beranak satu itu kerap mengirimi Lian pesan receh, menelepon dengan gugup, dan menemui Lian tanpa alasan yang jelas. Seiring berjalannya waktu, Ombak bahkan sigap menemani tiap sesi terapi Lian dengan psikiaternya. Sebagai pembaca, aku dibuat jantungan, cemas, gelisah setengah mati karena takut gigi Lian dijambak oleh istri Ombak, sekaligus jijik dengan sikap dan ungkapan romantis Ombak kepada Lian.
Namun di sinilah kedalaman proses kreatif penulis terbukti. Pembaca tidak disuguhkan karakter yang seratus persen baik dan seratus persen jahat. Tidak ada villain maupun hero. Pembaca kesulitan menyebutkan siapa protagonis dan siapa yang antagonis. Seluruh rangkaian cerita netral karena dilengkapi sebab-akibat. Otak pembaca tidak sanggup memihak pada salah satu tokoh. Keadaan terasa serba salah atau punya peluang untuk menjadi benar.
Ini juga novel kedua yang membuat mataku dapat menyaksikan peristiwa penjarahan dan penginjakan etnis Tionghoa di Indonesia pada tahun 1998. Novel pertama yang kubaca berjudul “Anak-Anak di Luar Nikah” karya Grace Tioso. Kedua novel ini memberikan pengalaman mengerikan sekaligus membangun empati terhadap sesama manusia dalam lingkup Bhinneka Tunggal Ika.
Meski begitu, aku sendiri tidak dapat menangkap alasan novel ini diberi judul “Ingatan Ikan-Ikan”. Sebelum membaca, aku berekspektasi akan keterlibatan ikan dalam suatu ingatan (entah manusia atau lainnya) pada alur cerita. Saat membaca bagian awal, aku berharap ikan koi bernama Luo (nama alay buatan Ombak, hasil singkatan “Lian Untuk Ombak”) menjadi kunci sebuah fakta yang sempat terlupakan. Namun di akhir cerita, tindakan Lian yang mengambil pelajaran—tentang ingatan—dari sosok ikan koi terasa tiba-tiba, karena terlalu banyak halaman bahkan bab yang berjalan tanpa kabar satu ikan koi pun.
Buku “Ingatan Ikan-Ikan” ini juga memberikanku banyak kosakata baru. Berikut daftar kosakata beserta maknanya (ref. KBBI):
- Mendengkus: tiruan bunyi orang menarik dan mengembuskan napas kuat-kuat dari hidung.
- Mewartakan: mengabarkan
- Ajeg: tetap; teratur
- Mencit: mamalia pengerat dari kelompok tikus
- Lintang Pukang: pontang-panting
- Persekot: uang muka; (uang) panjar
- Luruh: gugur
- Perdu: rumpun (semacam bambu dan sebagainya)
- Analgesik: obat untuk meredakan rasa nyeri tanpa mengakibatkan hilangnya kesadaran
- Tambun: gemuk
- Sabur: bercampur tidak menentu
- Mengail: menangkap ikan dengan kail
- Kelangkang: bagian tubuh di antara kedua pangkal paha
- Dorsal: (anatomi) berkenaan dengan punggung
- Dirogol: Diperkosa (berimbuhan di-)
- Kloaka: bagian akhir alat pencernaan makanan tempat bermuaranya saluran kencing dan saluran reproduksi
- Genta: lonceng
- Hengkang: melarikan diri
- Spesimen: bagian dari kelompok
- Memeram: menyembunyikan
- Postulat: anggapan dasar
- Friksi: perpecahan
- Berlarat-Larat: bertambah jauh; melantur
- Lungkrah: lemas atau tidak bertenaga
- Moksa: hilang
Terima kasih sudah membaca tulisan ini. Beri komentar jika kamu punya pengalaman membaca yang berbeda, dan bagikan tulisan ini ke orang yang bermimpi dapat menghapus ingatannya.
Data Buku
- Judul Buku: Ingatan Ikan-Ikan
- Penulis: Sasti Gotama
- Penerbit: Penerbit Bentang
- Tebal: 184 Halaman
- ISBN: 978-623-186-399-7















