KURUNGBUKA.com – Kumpulan esai Yang Sepintas-Lalu dan yang Diperjuangkan ini berangkat dari satu kegelisahan yang terus berulang: bahwa dunia sastra—khususnya puisi—kian akrab dengan sesuatu yang lewat cepat, ringan disentuh, lalu mudah dilupakan. Dalam beberapa esai, kegelisahan itu muncul sebagai pertanyaan terbuka; dalam esai lain, ia hadir sebagai pernyataan yang nyaris lugas. “Sepertinya dunia puisi … telah terjebak di dalam fenomena sastra yang hanya sepintas lalu,” tulis Chris Triwarseno, sambil merujuk pada istilah yang dipakai Budi Darma lebih dari empat dekade lalu: sastra sepintas-lalu . Yang menarik, istilah lama itu justru terasa semakin relevan hari ini—di tengah banjir media, surplus penulis, dan minimnya kritik yang benar-benar bekerja.
Esai-esai dalam buku ini tidak berdiri sebagai keluhan nostalgik atas masa lalu yang dianggap lebih “bermutu”. Sebaliknya, ia berangkat dari pengamatan konkret terhadap lanskap kepenulisan mutakhir: pergeseran dari media cetak ke media daring, kemudahan publikasi, dan kecenderungan menulis sekali kirim tanpa pra-sunting. Dalam satu bagian, Chris mencatat bagaimana media online kerap dianggap sebagai media “gampangan”, sehingga puisi ditulis ala kadarnya, “tidak ada beda dengan banyaknya kata-kata yang berserakan di media sosial” . Di sini, problem yang dibicarakan bukan semata soal medium, melainkan soal sikap terhadap bahasa dan kerja menulis itu sendiri.
Kata berserakan berulang kali muncul dalam esai-esai ini, dan bukan tanpa alasan. Ia menjadi metafora yang tepat untuk menggambarkan teks-teks yang lahir tanpa pertarungan, tanpa disiplin, dan tanpa kesadaran bahwa bahasa memiliki bobot. Dalam konteks ini, kritik Chris tidak diarahkan pada penulis pemula semata, melainkan pada kebiasaan kolektif yang menganggap menulis sebagai aktivitas instan—cukup menumpahkan perasaan, lalu selesai. Padahal, sebagaimana ia tekankan, kurasi media sejatinya adalah alat diagnosis: “Naskah yang ditolak redaktur, serupa catatan-catatan dokter yang berisi resep obat untuk kesembuhan pasien” . Penolakan, dalam logika ini, bukan akhir, melainkan bagian dari proses belajar.
Di titik inilah perbedaan antara yang sepintas-lalu dan yang diperjuangkan menjadi terang. Esai-esai ini berulang kali menekankan bahwa bakat saja tidak cukup, dan inspirasi tanpa kerja keras hanya akan melahirkan tulisan yang cepat aus. Mengutip Thomas Alva Edison, Chris mengingatkan bahwa pencapaian selalu lebih dekat pada “sembilan puluh sembilan persen perspirasi” ketimbang ilham semata . Kerja keras itu bukan slogan, melainkan praktik konkret: membaca, menyunting, membiarkan naskah mengendap, dan bersedia mengulang dari awal.
Kegelisahan terhadap instanisme juga tampak ketika buku ini membahas fenomena clickbait dan algoritma. Dalam esai tentang Algoritma Kesunyian, Chris menunjukkan bagaimana judul yang menarik, viralitas, dan kemasan visual bisa menjanjikan sesuatu yang berlebihan—sementara isinya tidak selalu sepadan . Kritik ini tidak berhenti pada dunia konten digital, tetapi merembet ke dunia sastra: ketika puisi atau buku puisi diperlakukan seperti konten, maka yang dikejar adalah perhatian sesaat, bukan keberlanjutan makna.
Namun, kumpulan esai ini tidak sepenuhnya bernada muram. Di balik kritiknya yang tajam, ada keyakinan yang konsisten bahwa sastra tetap mungkin diperjuangkan—selama penulis bersedia bersikap serius. Keseriusan itu, dalam esai-esai ini, tidak selalu berarti tema besar atau bahasa yang rumit. Justru sebaliknya: ia berarti kesediaan untuk bertanggung jawab pada apa yang ditulis, dan kesadaran bahwa puisi bukan sekadar perpanjangan status media sosial. Tanpa perjuangan semacam itu, kualitas tulisan “tidak lebih dari tulisan-tulisan di grup Facebook atau WhatsApp, tanpa ada kurasi untuk menakar kualitasnya” .
Kritik terhadap ketiadaan kritikus juga menjadi benang penting dalam buku ini. Ungkapan “surplus penulis – nol kritikus” yang dikutip dari Wayan Jengki Sunarta berulang kali ditegaskan sebagai masalah struktural . Ketika kritik hanya berhenti pada resensi dangkal atau ringkasan isi buku, maka sastra kehilangan salah satu mekanisme penting untuk bertumbuh. Tanpa kritik yang sungguh-sungguh, tulisan yang sepintas-lalu akan terus beredar tanpa pernah diuji.
Di sisi lain, esai-esai ini juga menunjukkan bahwa perjuangan menulis tidak pernah steril dari konteks sosial dan politik. Puisi yang menghindari tema-tema tertentu—misalnya politik atau krisis ekologis—bukanlah kesalahan, tetapi pilihan yang patut disadari konsekuensinya. Ketika bahasa hanya berputar di wilayah aman, maka sastra berisiko kehilangan daya gugahnya. Dalam hal ini, perjuangan bukan hanya soal teknik, tetapi juga soal keberanian memilih medan.
Membaca keseluruhan kumpulan esai ini, judul Yang Sepintas-Lalu dan yang Diperjuangkan terasa bekerja bukan sebagai dikotomi yang kaku, melainkan sebagai spektrum. Hampir setiap penulis—bahkan yang serius sekalipun—pernah berada di wilayah sepintas-lalu. Yang membedakan adalah apakah ia berhenti di sana, atau melangkah lebih jauh. Buku ini tidak menawarkan resep instan untuk menjadi penulis “berbakat”. Ia justru berkali-kali menegaskan bahwa kesempatan selalu berada di tangan penulis itu sendiri, “terlepas berbakat atau tidak” .
Kumpulan esai ini dapat dibaca sebagai ajakan untuk memperlambat langkah di tengah derasnya arus publikasi. Bukan untuk menolak zaman, tetapi untuk bekerja lebih sadar di dalamnya. Jika banyak hal hari ini memang hanya sepintas-lalu, maka buku ini memilih berdiri di sisi yang lain: mengingatkan bahwa sastra, agar bermakna, perlu diperjuangkan—dengan waktu, dengan disiplin, dan dengan kesediaan untuk terus belajar.















