KURUNGBUKA.com – Daftar nama pengarang tenar di Indonesia banyak yang berasal dari Bali. Yang masih bergaung sampai sekarang adalah Oka Rusmini. Sebenarnya, kita memiliki daftar nama yang panjang. Di situ, pastinya ada nama-nama penting mendahului kehadiran Oka Rusmini. Pada masa kolonial, pengarang asal Bali (Nyoman Panji Tisna) sudah turut dalam perkembangan sastra berbahasa Indonesia. Bali menjadi perhatian, masuk dalam arus citarasa kebhinekaan.

Pengarang-pengarang mudah teringat berlatar abad XX: Putu Oka Sukanta, Putu Fajar Arcana, Ni Made Purnamasari, Pranita D, dan lain-lain. Mereka ada yang lahir dan tinggal di Bali. Ada beberapa pengarang yang berpindah kota.

Yang terus mendapat perhatian adalah teks-teks sastra yang dipersembahkan Oka Rusmini. Buku-bukunya diadakan oleh penerbit-penerbit besar di Jakarta, setelah beberapa tahun yang lalu pernah terbit di Bentang dan Indonesia Tera. Perayaan bahwa buku-buku itu berulang tahun makin mengukuhkan pesona sastra dari Bali.

Di majalah Gatra, 7 September 1996, kita membaca laporan dari seminar yang mengaitkan sastra dan Bali. Ada gejala-gejala baru dalam penulisan sastra mengenai dan berlatar Bali. Yang tertulis di majalah: “Bertema kepariwisataan yang menjamur di Bali sejak 1960-an, Faisal Baraas menggambarkan interaksi seorang mahasiswa Bali, Wayan Sumerta, yang bekerja sebagai guide, dengan gadis Barat, Joice, seorang mahasiswa dari Amerika Serikat, yang mengadakan riset di Bali.” Yang dimaksud adalah Faisal Baraas menulis cerita pendek berjudul Sanur Tetap Ramai, yang dimuat dalam majalah Varia (1970).

Cerita itu menjadi contoh munculnya tokoh-tokoh asing dalam penulisan sastra di Bali. Agenda besar pariwisata membuat para turis atau peneliti asing bedatangan ke Bali dalam waktu yang sebentar atau lama. Mereka bertemu dan bergaul dengan masyarakat Bali. Beragam kepentingan mereka wujudkan sambil mempelajari kekhasan manusia dan kebudayaan Bali. Maka, pembuatan tokoh-tokoh asal pelbagai negara asing dalam cerita berlatar Bali menjadi kewajaran. Namun, ada yang merasa punya kepentingan dalam mengulas gejolak sastra berdasarkan perubahan-perubahan yang terjadi di Bali.

Kehadiran para tokoh asing menjadi corak yang berbeda setelah seringnya cerita membahasa adat Bali. Seminar diadakan di Denpasar, 23-25 Agustus 1996, yang mengajak para peneliti, pengarang, dan mahasiswa memikirkan lagi sejarah dan perkembangan sastra di Bali. Artinya, sastra yang ditulis dalam bahasa Indonesia.

I Nyoman Darma Putra menjelaskan: “Pengarang Bali menampilkan tokoh Barat tentu tak hanya karena merespons dunia pariwisata. Ia melakukan pembacaan yang cermat terhadap novel berjudul Tiba-Tiba Malam (1972) yang digubah Putu Wjaya. Penelitian yang dilakukannya itu penting saat kehadiran tokoh asing terus bertambah dalam kesusastraan di Bali, akhir abad XX dan awal abad XXI.

Adanya tokoh-tokoh asing bukan untuk sensasi. Yang tertulis di majalah menurut serunya seminar: “Pemakaian tokoh Barat untuk mengkritik Bali tampaknya sejalan dengan adat sungkan untuk melakukan otokritik. Maklum, dalam kebiasaan hidup orang Bali, kritik dan pujian dari orang lain sering lebih efektif daripada dilontarkan sendiri.”

Jadi, kita tidak selalu membayangkan orang-orang asing yang datang adalah turis yang ingin menikmati keindahan Bali. Ada misi-misi lain yang beriringan saat kehadiran orang asing di Bali terus bertambah. Beberapa merasa betah dan akhirnya memilih tinggal di Bali.

“Persentuhan budaya Bali dengan Barat memang terasa sejak 1930-an sebagai masa awal masuknya pengaruh Barat ke sana,” tertulis di Gatra. Yang membaca sastra sebaiknya membaca pula sejarah, tidak lupa mengetahui arus besar agenda pariwisata yang sudah diadakan sejak masa kolonial. Jadi, sastra Bali yang memunculkan tokoh asing adalah dokumentasi zaman, yang mengajak orang-orang berpikir kritis dan reflektif atas nasib Bali.

Bertambahnya jumlah teks sastra, dari masa ke masa, memberi panggilan adar terus diadakan penelitian yang nantinya makin menjelaskan relasi (sastra) Bali dan Barat. Yang terbaca memang sastra tapi bisa menjadi referensi untuk menambah album pengertian, yang bisa menjadi gagasan penting ketimbang selalu dijenuhkan dengan masalah-masalah pariwisata. Berita mengenai seminar yang dimuat di Gatra bisa dijadikan petunjuk bagi yang mau mengusut bentuk-bentuk perhatian dalam mengurusi sastra di Bali. Seminar itu wajib tercatat meski menjelang tahun-tahun berat di Indonesia. Seminar semestinya serial tapi Indonesia linglung akibat krisis dan krisis.

*) Image by dokumentasi pribadi Bandung Mawardi (Kabut)

Dukung Kurungbuka.com untuk terus menayangkan karya-karya penulis terbaik dari Indonesia. Khusus di kolom ini, dukunganmu sepenuhnya akan diberikan kepada penulisnya. >>> KLIK DI SINI <<<