Kamat itu

—buat mbah doellah

malam putih, rembulan seterang lampu led
membikin sepi makin jernih makin bersih
bahkan patung gajah mada di polsek
mojosari, bisa kelihat dari sini
seakan berdiri di atas itu kubah masjid
sambil mengangkat pentung ke langit
azan pun kumandang, lirih, penuh arti

aku berkunjung, menjengukmu adalah menebus
dosa-dosa yang tak dapat kauhitung sendiri
kau tua di luar, memandangku dalam-dalam, cucumu
cucu setan, dan tetap setan walau bersarung-sorban
dari bawah, anak-anak kecil berkidung, “lamun palastro
ing pungkasane…” aku di sini, membawa samsu
dalam saku, seperti suruhmu dulu-dulu

duduk di sampingmu, menghadap jendela dan
mojosari yang tak pernah sesuai bayanganmu
di balkon rsud, kehidupan selalu punya arti lain
kau mencabut infus selang, lalu menyedot
sebatang. mari kita tebalkan, seakan ajakmu,
awan-awan dengan asap putih, adegan-adegan
dengan angan sunyi. lagi pula, siapa bisa pasti
ia tak datang sebentar lagi? sebatang lagi, katamu,
sebatang lagi, mautku.

(mojosari, 2025)

****

Nyanyian Mama

(ia periksa mata itu
keringat memancarkan mimpi-mimpi
: dunia permen kapas, segelas cokelat panas …
ia mengendurkan peluk
sambil itu menggubah nyanyian)

jari manis, oh jari manis
kalau cinta tragis, apalah yang manis
jari manis, oh jari manis
kalau cinta nipis, janganlah nangis

jari manis, oh jari manis
cincin berlian bagaimanakah maumu
jari manis, oh jari manis
betapa manis senyum anak-anakku

senyum manis, oh senyum manis
kawani aku walau fajar tak menyubuh
kawani aku walau fajar tak menyubuh…
(ia periksa mata itu
keringat memancar mimpi-mimpi
: dunia
ia mengencangkan peluk
mendekap erat-erat).

(2025)

*) Image by Titan Sadewo – Beberapa