KURUNGBUKA.com, LABUAN – Setiap tanggal 24 Syawal, masyarakat di wilayah Selat Sunda, khususnya Desa Caringin, Labuan, Banten, berkumpul dalam sebuah peringatan sakral: Haul Kalembak untuk mengenang tragedi meletusnya Gunung Krakatau pada tahun 1883. Tahun ini, peringatan tersebut kembali digelar di Masjid Agung Al Ittihad, yang dahulu dikenal sebagai Masjid Gede, menjadi saksi bisu atas sejarah panjang yang diturunkan dari generasi ke generasi.
Haul Kalembak bukan sekadar seremoni keagamaan. Di dalamnya termuat kisah perjuangan, trauma, dan juga kearifan lokal dalam menghadapi bencana. Kegiatan ini mencakup doa bersama dan cerita turun-temurun dari para cicit korban letusan Krakatau, salah satunya Kisunda Labuan, cicit dari penyintas bencana 1883.
“Haul Kalembak ini bukan hanya doa bersama, tapi juga cara kami menjaga ingatan keluarga. Setiap tahun, kami menceritakan kembali bagaimana leluhur kami berlindung saat Krakatau meletus. Ini peringatan agar kita tetap waspada, jangan lengah menghadapi bencana,” ujar Kisunda Labuan.
Kalembak sendiri bermakna terseret arus untuk menggambarkan yang dialami para korban bencana. Di tahun-tahun sebelumnya, tradisi Haul Kalembak ini juga menampilkan unsur budaya khas seperti tokoh adat berpakaian tradisional akan berjalan keliling kampung dengan bakiak lalu mendatangi rumah ke rumah untuk mengundang warga menghadiri haul bersama. Tradisi ini mempererat tali silaturahmi dan menjadi cara komunitas mengenang bersama duka dan kebangkitan setelah bencana.

“Tujuan utama Haul Kalembak adalah membangkitkan kesadaran masyarakat akan pentingnya mitigasi bencana dan menjaga ingatan kolektif atas peristiwa yang telah mengubah wajah sejarah Banten dan dunia. Letusan Krakatau 1883 adalah salah satu letusan terdahsyat dalam sejarah modern, yang menelan puluhan ribu jiwa dan mengguncang peradaban dari Sumatra hingga Eropa,” terang Kisunda Labuan.
Tahun ini, Haul Kalembak 2025 kembali menjadi momen penting untuk mengenang, mendoakan, dan mewariskan nilai-nilai waspada serta kepedulian lingkungan kepada generasi muda.
“Kami juga mengundang teman-teman dari Badan Riset dan Inovasi Nasional dan wartawan, semoga dengan ini mampu membantu mendorong pemerintah daerah agar mengukuhkan acara ini menjadi warisan sejarah tak benda. Tentu saja tujuannya supaya tradisi ini tidak pupus dimakan zaman,” harapnya.
Acara Haul Kalembak ditutup dengan bacakan, menggelar daun pisang di teras masjid lalu duduk berjajar dan makan bersama untuk menunjukkan kehangatan dan kekompakan antar masyarakat. (dhe)












