Suara lelayu itu disiarkan saat menjelang azan magrib berkumandang. Awan menggumpal berwarna hitam, suara gelegar-guntur bersahut dari segala arah.

“Cuaca hari ini adalah mendung,” kata penyiar televisi.

Isak tangis istri Mang Durkim yang tak terbendung. Seolah Tuhan tak adil, mengapa ia cepat mengambil nyawa suaminya. Padahal Mang Durkim adalah orang yang baik. Ia sering menyumbang acara Maulid Nabi di mana pun berada. Seringkali, ia pun ikut serta dalam acara tersebut. Namun, ia lebih suka duduk di luar ruangan. Katanya, ia tak pantas jika bertemu Sang Nabi dalam acara itu.

Dalam suasana perkabungan itu, istri Mang Durkim begitu histeris. Ia jelalatan saking tak bisa menerima kepergian sang suami. Sudah hampir satu jam istri Mang Durkim menangis di depan jasad suaminya yang terbujur kaku. Ketika sang istri perlahan berhenti menangis, ia bersandar di pojok ruangan. Matanya terpejam menikmati lantunan Surah Yasin orang-orang yang datang takziah di rumahnya. Tanpa sadar ia terlelap, tidur pulas. 

Dalam alam mimpi, tiba-tiba ia melihat sang suami, menerima tamu misterius, berbaju serba putih, memakai jubah yang bersinar. Kepalanya ditutupi, seperti kerudung tapi masih terlihat ujung hidungnya yang mancung, tampak sangat berwibawa seperti kiai-kiai zaman dahulu.

Istri Mang Durkim tak berani menemuinya sebab Mang Durkim terlihat khusyuk mengobrol dengan laki-laki itu. Istri Mang Durkim berniat untuk membawakan secangkir teh bercampur madu untuk menjamu tamu itu. Pada saat itu istri Mang Durkim berada di samping ruangan yang berbeda. Hari ini sedikit berbeda dengan hari-hari biasanya. Biasanya, Tubuh Mang Durkim sangat bau kecut tapi tidak dengan hari ini.

Tubuh Mang Durkim tercium wangi sekali. Sang istri begitu senang mengendus-endus aroma pandan yang menguar dari tubuhnya. Mang Durkim terlihat begitu memuliakan tamu itu. Ia mengobrol dengan nada pelan dan pandangannya menunduk ke bawah. Ia tak berani menghadap wajah tamunya. Istri Mang Durkim tak bisa mendengarkannya, ia hanya bisa menyaksikan dari balik kaca yang tembus pandang berwarna hitam.

Istri Mang Durkim mencoba keluar rumah, rupanya tamu itu membawa mobil yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Mobilnya berwaran putih-silver. Bentuknya agak panjang dan sepertinya mobil keluaran terbaru. Tamu itu membawa dua orang, tampak seperti ajudan: satu supir dan satu lagi pengawalnya. Sang istri terlihat betah melihat Mang Durkim dan tamunya tertawa-tawa, istinya mengira bahwa sepertinya ada obrolan yang sangat serius di ruang tamu. Sang istri tak berani lebih dekat melihat sekaligus mendengar obrolan Mang Durkim dan tamunya. Ia takut karena jika ketahuan nguping, pasti ia bisa dimarahi habis-habisan.

Seketika Mang Durkim masuk kamar, mengemasi barang-barang dan memasukannya ke dalam koper besar. Istri Mang Durkim bertanya-tanya dalam hati.

Apa salahku hingga Mang Durkim tega pergi tanpa pamit. Padahal, biasanya, ia selalu berpamitan. Ini sangat aneh, ada apa sebenarnya? Ada keperluan apa tamu itu menjemput suamiku pergi. Apakah ia tidak menanyakan tentangku sewaktu mengobrol dengan suamiku?

Mang Durkim masuk ke dalam mobil sedan yang berwarna silver itu bersama ajudannya yang dipimpin oleh orang yang memakai udeng-udeng itu. Istri Mang Durkim pelan-pelan mengikutinya dari belakang, lantas mengejar mobil itu. Ia berlari sambil berteriak begitu lantang “Durkin, kembali!” Tangannya berusaha meraih-raih mobil itu dari kejauhan. Air matanya mulai menitik di sepanjang jalan. Istri Mang Durkim tersandung lalu jatuh tersungkur di atas aspal yang panas, tangannya penuh luka, ia tak sanggup tuk mengejarnya.

Angin membawa debu-debu, menabrak wajah Istri Mang Durkim. Ia masih termangu di pinggir jalan, ia masih tak percaya bahwa Mang Durkim pergi begitu saja. Terik matahari mulai berada di ujung kepala. Daun-daun berguguran. Suara anjing memecah keheningan.

Orang-orang satu per satu mulai bekerumun melihat istri Mang Durkim yang sedang glepor di jalan raya desa Kebondanas. Mereka bertanya-tanya tentang apa sebenarnya yang terjadi pada Istri Mang Durkim. Salah seorang warga datang menghampiri dan mencoba menenangkannya.

“Sing uis ya uis, Bi! sing ikhlas, Aja ditangisi gah, kabeh sing urip iku bakal balik maning ning Gusti Allah.”

Sebagian orang mengiyakan saran itu, tapi Istri Mang Durkim tetap dalam tangisnya, seolah ia terpenjara pada tangisan itu. “Kita bli ikhlas lakie kita digawa ning wong sing ora kenal!”

Orang-orang berlalu-lalang, menghampiri kerumunan dan menebak-nebak tentang apa yang terjadi pada Istri Mang Durkim.

“Pasti, Mang Durkim digawa ning surga karo wong kae!” tebak salah seorang warga sambil berbisik-bisik.

Istri Mang Dukim tak peduli apa yang dikatakan orang. Ia masih terus menangis. Ia tak tahu kapan Mang Durkim kembali ke rumahnya. Satu per satu warga pun meninggalkannya.

Yogyakarta, 2020-2024.

*) Image by istockphoto.com