2024

Bus melesat ke jalanan. Ayu duduk penuh gelisah. Dari semalam, ia mencoba untuk tidur, tapi selalu gagal. Ia berkali-kali menghela napas panjang. Uap dari napasnya yang hangat menguar ke luar bercampur dengan udara dingin dalam bus. Ayu melihat jam tangannya, Pukul lima dua puluh menit. Dilihatnya dari balik kaca, matahari mulai menampakkan diri. Jejeran rumah-rumah dan toko-toko yang ia kenali mengemuka.

Dulu, ia selalu melewati jalan ini ketika berangkat dan pulang sekolah. Ayu ingat, sebelum berangkat sekolah ibunya selalu mengoleskan minyak kayu putih di belakang telinga, perut, dan punggung Ayu. Hal itu terus dilakukan ibunya sampai Ayu SMA. Ayu tentu saja risih dan cemberut, berusaha memprotes. Dulu Ayu sangat kesal jika ibunya melakukan itu, tapi kini ia sangat merindukannya. Bus terus melaju, melesat ke jalanan bersamaan dengan kepingan-kepingan memori lama Ayu yang mulai bersemi kembali.

Sudah lama Ayu tidak pulang kampung. Rasa rindu yang selama ini sengaja diabaikannya tiba-tiba hadir tak terbendung. Rutinitas sebagai pekerja, ibu, dan istri di ibukota membuatnya tak punya waktu untuk pulang. Kali ini, ia berhasil pulang meski dengan keadaan yang tidak disukai. Lamunan Ayu terhenti saat ponselnya bergetar. Dilihatnya ponsel hitam miliknya. Sebuah pesan dari pamannya bertuliskan: Bapakmu belum mau pulang. Membaca pesan dari Pamannya itu, kegelisahan Ayu bertambah. Ia kembali menghela napas. Kegelisahannya keluar bersama napasnya yang hangat, menguar ke dalam bus yang penuh-sesak penumpang.

***

Kemarau berangsur pergi. Kelopak bunga Flamboyan berjatuhan satu per satu. Warna jingga kemerahan bunganya membawa kehangatan. Setiap kali seseorang menatap pohon Flamboyan pasti akan merasakan perasaan hangat dan cinta. Konon, pohon itu menyimpan ingatan cinta dari manusia. Termasuk ingatan cinta dari seorang kakek yang saat ini sedang duduk di bawah pohon Flamboyan. Tangannya menggenggam sebotol minyak kayu putih berwarna hijau dan sapu tangan berwarna merah muda di tangan yang lain. Sesekali ia teteskan minyak itu ke sapu tangan dan ia hirup aromanya.

Di sampingnya, tergeletak beberapa botol air mineral yang sebagian sudah kosong dan sebuah rantang berwarna putih. Tutup rantang itu sedikit terbuka memperlihatkan sedikit isinya. Sisa nasi dan lauk yang telah dimakan kemarin. Berjarak seratus meter dari bawah pohon itu, terdapat beberapa ekskavator yang sudah sejak seminggu lalu bertengger di sana. Beberapa orang terlihat mendekati sang Kakek.

“Mas Barja, ayo pulang!” Seru Dirman.

Kakek itu hanya menatap sebentar lalu menghirup sapu tangan kembali. Kalimat itu sudah berkali-kali diulang oleh Dirman. Nihil. Kakek sama sekali tak beranjak.

“Mas Barja, lihat! Proyek mau mulai.” Dirman berusaha meyakinkan Barja kembali meski ia sudah menduga hasilnya. Sang kakak hanya membetulkan sarung yang digulung membalut lehernya.

“Kakek Barja, hari ini kami sudah harus bekerja,” kata seorang lelaki yang biasa disebut Mandor di sana.

“Betul, Kek. Sudah mangkrak dua hari nih. Payah!” Kata seorang yang lain yang tampaknya bawahan dari si Mandor.

Kebon ini sudah harus digarap. Lagian tanah ini kan milik Uwa Haji, Uwa Haji aja udah tanda tangan, hooh-hooh lho.” Dirman berusaha membujuk.

Kakek Barja tetap terdiam. Sudah dua hari ini, Kakek Barja tidur di bawah pohon flamboyan dekat desanya. Ia menolak untuk pulang. Padahal, lokasi itu akan segera digusur dan dibangun pabrik tekstil. Sudah dua hari ini Dirman, adik Kakek Barja, dan si Mandor membujuknya, tapi kakek tak bergeming. Kakek Barja hanya melipir sesaat untuk kencing dan kembali duduk di bawah payung flamboyan. Ia bahkan telah membawa bekal beberapa botol air berukuran besar, nasi, ikan asap goreng, dan sambal jahe.

Mereka heran, apa yang sebetulnya membuat Kakek Barja ngotot terus duduk di sana. Kakek Barja sendiri tak mau mengatakan apa pun, membuat diskusi menjadi alot. Akhirnya, Dirman berinisiatif untuk menghubungi Ayu. Anak semata wayang Kakek Barja yang tinggal di ibukota.

***

Bus melesat di jalanan. Masih setengah jam lagi untuk sampai di kampung Ayu. Ia mengetik balasan untuk pesan pamannya: Sebentar lagi nyampe. Ayu memasukkan ponsel ke dalam tas. Ponsel bercampur dengan beberapa helai pakaian yang dimasukkan dengan terburu-buru. Kabar dari pamannya membuat Ayu sangat khawatir. Keadaan yang serba mendadak itu membuat anak dan suaminya tidak bisa ikut. Urusan sekolah dan pekerjaan tak bisa ditinggalkan.

Bus melesat di jalanan. Ayu memejamkan mata. Ingatannya mengeja bentuk pohon itu. Ayu sering menjemput ayahnya di sana, terutama sepeninggal ibunya. Ayah Ayu sering duduk dan berlama-lama di bawah pohon itu, kadang-kadang hingga menjelang maghrib. Pernah suatu ketika Ayu bertanya karena heran dengan perilaku ayahnya.

“Bapak, kenapa sih sering duduk lama-lama di kebon? Di bawah pohon lagi.”

“Ah tidak apa-apa, enak aja di sana. Anginnya silir-silir.”

“Ih aneh banget. Mau cari wangsit ya di bawah pohon gede gitu?”

“Hahaha. Iya, mau cari wangsit.”

Pertanyaan yang Ayu lontarkan seringkali dijawab tidak serius oleh ayahnya. Barulah ketika kebiasaan ayahnya itu berjalan satu tahun, Ayu paham alasan mengapa ayahnya terus mengunjungi pohon itu.

Ayahnya selalu meminta dimasakkan ikan asap dan sambal jahe setiap akan mengunjungi pohon itu. Ayu tahu betul ikan asap dan sambal jahe adalah makanan kesukaan ibunya. Rupanya Ayah Ayu akan datang dan duduk di bawah pohon flamboyan ketika merindukan istrinya. Ayu menarik napas panjang. Tangan Ayu menggenggam tali dari tas yang diletakkan di bawah kursi. Ia genggam kuat-kuat. Ia tak menyangka ayahnya masih melakukan itu setelah delapan tahun berlalu. Mata Ayu yang masih terpejam mulai basah membayangkan betapa kesepian ayahnya. Sedang dirinya tak bisa sering berkunjung. Pekerjaan dan tanggung jawabnya sebagai istri dan ibu tak mengizinkan itu.

***

Satu bunga flamboyan jatuh dan mengenai bahu Kakek Barja yang dibalut kemeja biru muda. Ia refleks menoleh, mengambil kelopak bunga itu dan dimain-mainkannya. Ia kemudian melihat ke arah adiknya dan beberapa orang di sekitarnya. Ia kemudian menoleh ke arah yang lebih jauh, ke arah ekskavator.

“Gimana Mas, ayo pulang!” Dirman menyentuh bahu kakaknya yang tetap terdiam. Tak lama, dari jalan raya terlihat mobil hitam berhenti di pinggiran jalan. Dari dalam mobil itu keluar dua laki-laki bertubuh tinggi besar dan bertato. Kedua laki-laki itu mendekati pohon flamboyan.

“Maaf nih, Mas Dirman dan Kakek Barja, teman saya sudah datang. Kalau Kakek Barja masih ngotot mau di sini. Teman saya yang urus,” tegas si Mandor.

“Waduh, Om. Sebentar Om, tunggu sebentar lagi.”

“Mau tunggu apalagi, kita sudah menunggu selama dua hari!” Bentak bawahan si Mandor.

“Betul. Untungnya, Uwa Haji kakak ipar saya, jadi saya masih maklumi kemarin. Tapi, sudah dua hari pekerjaan kami terbengkalai. Kami sudah tidak bisa mentolerir lagi.” Si Mandor berusaha menahan emosi. Ia kemudian melambaikan tangan kepada dua lelaki bertubuh tinggi besar dan bertato itu. Keduanya segera menghampiri dan menjabat tangan mereka satu per satu.

“Yang ini yang harus diurus?” Tanya lelaki bertato yang memakai topi hijau sambil menyalami tangan Kakek Barja.

“Iya. Yang itu,” jawab si Mandor.

“Tunggu sebentar! Sabar! Anak Kakek Barja sedang dalam perjalanan. Udah mau sampai kok. Semoga bisa membujuk bapaknya.” Dirman berkeringat dingin, sementara Kakek Barja tetap di posisinya, tak bergeming.

***

1984

Bunga flamboyan baru saja mekar beberapa hari lalu. Di bawah pohonnya yang berwarna jingga kemerahan itu, ada seorang laki-laki yang mondar-mandir. Matanya bolak-balik melirik jalan raya. Ia menunggu bus biru yang biasa ditumpangi sang kekasih. Beberapa kali laki-laki itu merapikan sweater hijau dan kemeja putih yang dikenakannya. Ia memastikan semua rapi dan sempurna. Tak lama, dilihatnya bus biru yang sudah ditunggu. Bus itu penuh sesak ditumpangi oleh orang-orang yang selesai bekerja di kota.

Sesuai dengan perhitungan si lelaki, Bus biru itu berhenti. Turun seorang gadis berbaju merah bermotif kotak-kotak besar dan rok berwarna hitam sepanjang lutut. Gadis itu memakai bando berwarna merah senada dengan kemejanya. Gadis itu berjalan di jalan setapak yang menghubungkan antara jalan dan desanya. Jalan yang cukup panjang, tapi cukup singkat daripada harus memutar dari jalan utama. Jalan itu ditumbuhi satu pohon flamboyan yang masih kecil, tetapi cukup untuk berteduh.

Langkah gadis itu terhenti saat melihat laki-laki sweater hijau muda. Sementara, si lelaki tersenyum lebar sembari melambaikan tangan. Si gadis turut melambaikan tangan, lalu berlari kecil menuju lelaki itu.  Sesampainya di bawah pohon flamboyan, laki-laki itu meraih tangan si gadis, menggandengnya kuat-kuat.

“Atmarani, kau cantik sekali,” kata si laki-laki.

Gadis itu tersenyum.

“Benar! Bahkan, merahnya flamboyan tak seindah rona wajahmu.” Sambung si laki-laki itu berusaha meyakinkan. Gadis itu kembali tersenyum lalu mencubit lengan si lelaki. Lengkungan senyum gadis itu sangat indah dengan lesung di kedua pipinya yang menawan. Keduanya tertawa bersama.

***

2024

Sebuah bus berhenti di jalanan, tepat di belakang mobil hitam. Dari sana turun seorang perempuan dengan membawa tas gendong berwarna abu-abu. “Nah, itu dia datang!” Seru Dirman. Kakek Barja menatap perempuan itu. Samar di matanya, tapi ia mengenali garis wajah itu. Garis wajah yang ia rindukan. Perempuan itu berjalan ke arahnya. Dengan lengkungan senyum yang sama seperti empat puluh tahun yang lalu. Senyum yang indah dengan lesung di kedua pipi yang menawan. Kakek Barja melepaskan tangan laki-laki bertato itu. Tangannya melambai-lambai ke arah perempuan itu. Perempuan itu membalas melambaikan tangan dan berlari kecil ke arahnya. Perempuan itu menyentuh dan mencium tangannya.

“Bapak, Ayu pulang,” katanya hangat.

Ayu merasakan tangan yang disentuhnya sangat dingin meski ditempa cahaya matahari. Ia melihat sebuah botol minyak kayu putih, ikan asap, dan bau sambal jahe yang mengingatkannya pada ibunya. Ia menangis di pelukan ayahnya. Tangis yang sama saat ibunya pergi untuk selamanya. Melihat perempuan itu menangis, Kakek Barja menepuk-nepuk punggungnya.

“Atmarani, Ayu pulang.” Kakek Barja mengucapkan kata pertama kali setelah dua hari bungkam.

Beberapa orang di sana memilih diam. Sebagian tersenyum, sebagian ingin ikut menangis.

Pohon flamboyan bergerak terkena angin, seperti turut mengingat kisah cinta Kakek Barja empat puluh tahun lalu. Ia menggugurkan bunganya. Kelopak flamboyan berjatuhan satu per satu. Warna jingga kemerahannya menghangatkan hati siapapun yang melihat.

***

Beberapa hari berlalu. Kakek Barja berpulang sesaat setelah anaknya datang. Pohon flamboyan yang berusia puluhan tahun itu telah ditebang. Kebon diratakan dan dibangun pabrik. Ingatan cinta yang dimiliki oleh pohon itu menyebar ke tanah, ke angin, dan ke langit. Dengan ditebangnya pohon itu, berkurang satu lagi pohon yang menyimpan ingatan cinta. Pohon flamboyan kini mulai langka, di manakah kisah cinta kini diingat?

*) Image by istockphoto.com