KATEDRAL CHOONGHYUN

Sebab menahan dingin
kumasuki katedral

Lengang petang menjelang
..bangku-bangku kosong
hanya beberapa orang tua tafakur
perlahan membuka kitab lama
menunggu doa bersama dilantunkan

Kebaktian tak kunjung dimulai
satu dua orang datang
ruang megah ini kian lengang

Entah berapa waktu aku tertidur
tersentak terbangun
mendengar seruan amin
bergaung begitu nyaring

Seketika nanar pandangku
menyaksikan ruang dipenuhi orang

Sepasang kekasih bergenggaman tangan
mungkin saja pengantin baru
tengah bersyukur atas karunia bahagia

Orang-orang tua memenuhi bangku-bangku
terus tafakur dengan wajah hening
meresapi tutur pendeta di mimbar
mengingatkan hidup kekal
dalam naungan sang kudus
jalan lurus mereka yang tulus

Mereka haru berseru amin
seakan sungguh yakin
bahwa kasih langit memberkati
janji sorgawi akan digenapi

Sambil menahan kelu
kutinggal katedral dengan ragu
tanya diri berkali
kapan aku bisa kembali lagi
bersama orang-orang tua tafakur
bersama mereka bersyukur
menyerukan amin
dengan kedalaman batin

Gangnam, 2020

***

SEBUAH KAP MOBIL TERBUKA
ANJING CIHUAHUA
MELOMPAT TAK TERDUGA

seorang lelaki paruh baya terpana
kopinya tumpah menggenangi meja
empat dara riang gembira
memekik serentak seketika

kacamata penjaga toilet terlepas dari bingkai
berdenting nyaring berderai di lantai
wajah seorang ibu muram durja
tiba-tiba senyum bahagia entah kenapa

semut-semut menikung di lekuk dinding
kumbang berdengung membentur cermin
nyaring pengumuman sekian kali
pesawat ke praha tertunda kembali

di lorong menuju ruang tunggu
para pramugari menghibur diri
memberi perona di ranum pipi

anjing mungil riang berlarian
mobil melaju tak menyadari

burung di pucuk pohon tertegun
mesin detektor berdenging sekali
lalu senyap tak memberi tanda lagi

petugas pemeriksa paspor melupakan
wajah buronan di layar berpendaran

henti sejenak memandang bayangnya di dinding
ia melenggang masuk ke pintu keberangkatan

pukul 17:44:45: belum selesai bersulang
tertayang pandang pesawat menghilang

2022

***

HIKAYAT KAMI

Begitulah kami kuyup hidup
serupa pena sebatang kara
kertas putih hampa
menulis tanya tak terjawab
mengungkap senyap tak tersingkap

2022

***

BERSAMA MADE WIANTA KE APUAN

Tiga tikungan lagi
……..tak kunjung sampai
……..kampung halaman

Begitulah berkali kita bertanya
ke barat atau ke timur melipur umur
Berulang menimbang peruntungan
di tiap tikungan, akankah diri sampai
………atau selesai sebelum hari usai?

Hujan lalu menderas pada kanvas
digenangi cahaya dan bias warna
di mana malam tertidur
dalam napas lembut anakmu
Wajah terkasih yang terus membayang
pada kaca kereta yang laju lintas bangsa
pada grafiti hampa segala dinding kota

Kau siaga…………………………Terjaga
menoreh kata………………….disekap lamunan
meluapkan apa saja…………dingin angan
di sembarang rupa…………..igau risau penumpang
………………………………………..penerbangan dini hari
………………………………………..di ketinggian tak bertepi

Menyaksikan bukan bulan merah separuh
tetapi langit yang seolah terbelah
sebuah jendela melayang di udara
Kota demi kota membiru
hijau atau kelabu
melintasi garis
batas cemas batas napas
nun di kejauhan bawah sana

Teringat nasehat
bila kelak sesat
……kehilangan alamat sahabat
bagai pohonan heninglah sejenak
dengar ricik air bening masa kanak

Seketika kau terbayang jalan pulang
ibu menunggu di tepi waktu
kenangan riang kawan sepermainan di pematang
tabuh gamelan semalaman di pura kawitan
bersisian pengharapan masa depan
dalam alunan panggilan
………………..bagi tiket terakhir
………………..pesawat terakhir

Pada lengang kanvasmu ini
ada perempuan penyendiri
…..membaca buku berkali hingga dini
menenggelam diri dalam baris puisi
memikirkan pikiran merasakan perasaan

Ya, tiga tikungan lagi
……ke kanan adakah jalan masa depan
……ke kiri sungguhkah tiba di buntu hari

Berdoa atau berdiam saja, dunia
seakan tak merasa kehilangan kita

Plawa, 2021

***

KOPI TUAN PENYAIR

Tuan penyair menyeduh kopi
tepi cangkirnya menyentuh pagi
maka sunyi berdenting dalam puisi ini

Pada tegukan pertama, ia masih lupa usianya 90 atau 80 tahun
terbayang masa muda antara danau dan segala teluk dunia

Pada tegukan kedua ia terkenang jalan batu
menuju lampau yang tak kunjung lalu
ke mula segala kata di mana manusia habis cerita

Lalu ia berserah kepada dunia, kiranya berkenan
mempertemukan kembali dengan kekasih seratus hari
pergi sedini petang selepas kecup hangat nan senyap

Pada tegukan kelima kenangan undur ke sebuah altar
mengingat mata yang lamur
doa si tua di penghujung umur
berlintasan angan, ingin dan harapan
silih berganti antara silam, kini, dan nanti

Bagaimana suatu ketika sesat di tepian kanal
kapal-kapal lintas benua
berlayar perlahan menghampirinya
meyakinkan bahwa dirinya kelana
bagai harimau sumatera terkurung terali
memandang berkaca-kaca penuh tanya
mengapa kita terusir sejauh ini dari tanah tropika

Sekadar jadi sirkus keliling negeri empat musim
romansa usia muda dalam selubung gaib mitos raja jawa
yang semalaman bercinta dengan ratu laut selatan
di kedalaman angan yang tak terbayangkan
di mana ikan-ikan tak bermata hidup dari linang cahaya

Tuan penyair memandang ke dalam cangkir
bayang dirinya perlahan mengabur
ia nanar, masih lupa usianya 90 atau 80 tahun

2022

***

HIBERNASI

sudah sekian senyap
sembunyi dalam gelap

menunggu saat yang tepat
ketika kalian lalai dan abai
pada diri pada bumi damai ini

berabad kami penyap
berdiam dalam diam
menyaksikan angan kalian
meluapkan segala ingin

pohon-pohon pun tumbang
dalam hujan asam bermusim
gedung-gedung rindang menjulang
ladang pematang seketika hilang

dalam hijau waktu yang melayu
begitu selalu kami menunggu
kalian menguning satu persatu

ARMA, 2020

*) Image by istockphoto.com