Judul          : Perjamuan Khong Guan
Pengarang : Joko Pinurbo
Penerbit     : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan      : Pertama, Januari 2020
Tebal          : 130 halaman
ISBN            : 978-602-06-5758-7

Khong Guan sudah lama muncul dalam puisi Jokpin—sapaan Joko Pinurbo. Pada 2016, Jokpin menulis “Sajak Balsem untuk Gus Mus”: Akhir-akhir ini banyak/ orang gila baru berkeliaran, Gus./ Orang-orang yang hidupnya/ terlalu kenceng dan serius./ Seperti bocah tua yang fakir cinta. Puisi Jokpin itu menggambarkan situasi masyarakat kita yang sedang wagu-wagunya sepanjang masa “panas”. Jokpin memilih merengkuh damai bersama Gus Mus—sapaan Mustofa Bisri: Kita sih hepi-hepi saja, Gus./ Ngeteh dan ngebul di beranda/ bersama khong guan isi rengginang./ Menyimak burung-burung/ bermain puisi di dahan-dahan./ Menyaksikan matahari/ koprol di ujung petang.

Juni 2019, di Makassar International Writers Festival 2019, saya berkesempatan menyaksikan Jokpin membacakan beberapa puisi Khong Guan. Sayangnya, saya lupa puisi berjudul mana saja yang dibacanya saat itu. Dua bulan kemudian, akhir Agustus 2019, puisi-puisi Khong Guan Jokpin nongol di harian Kompas. Dua belas puisi Jokpin itu: “Perjamuan Khong Guan”, “Hujan Khong Guan”, “Tidur Khong Guan”, “Lebaran Khong Guan”, “Minuman Khong Guan”, “Sabda Khong Guan”, “Agama Khong Guan”, “Keluarga Khong Guan”, “Mudik Khong Guan”, “Doa Khong Guan”, “Bingkisan Khong Guan”, dan “Hati Khong Guan”.

Konon, dua belas puisi Khong Guan itu terlahir dari janji Jokpin kepada M. Aan Mansyur—penyair kondang dari Makassar. Pascapembacaan beberapa puisi Khong Guan di MIWF 2019, Jokpin berjanji kepada Aan untuk mengarang lebih banyak puisi Khong Guan. Jokpin hanya butuh dua bulan untuk menepati janji. Kemudian, seperti biasanya, setelah pembacaan di panggung dan tercetak di koran, puisi-puisi Jokpin diterbitkan sebagai buku. Awal 2020, buku termaksud terbit dengan judul Perjamuan Khong Guan. Penggarapan buku kumpulan puisi Khong Guan itu terasa serius, terlihat sejak sampul buku yang mengapropriasi desain kaleng Khong Guan.

Struktur isi buku dibagi dalam empat bagian, dengan tiap bagian memakai sebutan “kaleng”. “Kaleng Satu” berisi puisi-puisi politis Jokpin, yang pernah dimuat di harian Kompas suatu ketika—alias saya lupa kapan tepatnya. Puisi “Buku Hantu” misalnya: Untuk apa/ kamu menyita buku/ yang belum/tidak/ kamu baca?// Untuk menghormati/ hantu tercinta. Puisi Jokpin itu menyindir ulah aparat yang kerap menyita buku-buku “berbau” komunisme. Aparat kita memang kelewat canggih, bukan hanya peka terhadap ancaman-ancaman ragawi kasat mata, melainkan juga hantu komunis yang sama sekali tiada wujudnya.

Pada “Kaleng Dua” ada puisi yang saya kira tidak sempat disertakan dalam Buku Latihan Tidur (2017)—dugaan saya ini berdasarkan kemiripan tema. Puisi itu berjudul “Kamar Kecil”: Pada suatu kangen/ aku dijenguk oleh bahasa Indonesia/ yang baik hati dan tidak sombong/ serta rajin tertawa.// Kusilakan ia duduk/ di atas kamus besar/ di meja yang penuh buku dan kamu.// Matanya bingung/ melihat kamarku lebih kecil/ dari kamar mandimu// Ia turun dari kamus/ seraya bertanya,/ “Mana kamar besarmu?”// “Kamar besarku ada dalam rinduku.”

“Kaleng Tiga” berisi puisi-puisi Jokpin tentang Minnah. Di mata Minnah/ langit selalu biru dan baru/ walau dirundung asu, tulis Jokpin dalam puisi “Mata Minnah”. Namun, siapa itu Minnah? Tentu, Minnah adalah tokoh fiktif belaka. Penamaan Minnah itu, diakui oleh Jokpin, terinspirasi nama orang Korea. Kepada wartawan Tempo, Jokpin bercerita, “Waktu itu sedang mencari informasi soal puisi di Korea, eh, ketemu nama Min-ah. Berkesanlah nama itu, Min-ah gitu….”

“Kaleng Empat” adalah bagian buku paling ditunggu-tunggu, tetapi juga paling tidak segar. Paling ditunggu karena memuat puisi-puisi Khong Guan, sesuai tema utama buku ini, dan paling tidak segar lantaran sebagian besar sudah pernah dibaca orang. Selain dua belas puisi yang pernah nongol di Kompas, ada sepuluh puisi Khong Guan lain yang barangkali belum pernah kita jumpai. Sebelum mengakrabi puisi-puisi Khong Guan di “Kaleng Empat”, Jokpin memberi ancang-ancang mantap lewat puisi terakhir Minnah: Setelah buku habis dibaca,/ badan meriang kehabisan uang,/ Minnah jegang saja di depan jendela/ mendengarkan kecipak sunyi/ dalam kaleng Khong Guan.

Salah satu puisi Khong Guan yang menurut saya ampuh, “Perjamuan Khong Guan” tampil paling awal: Di kaleng Khong Guan/ hidup yang keras dan getir/ terasa renyah seperti rengginang.// Berkerudungkan langit biru,/ ibu yang hatinya kokoh membelah/ dan memotong-motong bulan/ dan memberikannya/ kepada anak-anaknya yang ngowoh.// Anak-anak gelisah/ sebab ayah mereka/ tak kunjung pulang.// “Ayahmu dipinjam negara./ Entah kapan akan dikembalikan,”/ si ibu menjelaskan.// Lalu mereka selfi di depan/ meja makan: “Mari kita berbahagia.”// Si ayah ternyata sedang ngumpet/ menghabiskan remukan rengginang.

Selain puisi termaksud, hanya beberapa puisi di “Kaleng Empat” yang menurut saya ditulis dengan matang. Selebihnya ialah puisi-puisi sangat ringkas yang senantiasa memunculkan kaleng Khong Guan. Sepertinya lebih tepat menyebut puisi-puisi Jokpin itu tentang kaleng Khong Guan, alih-alih soal penganan Khong Guan secara keseluruhan. Jokpin, dalam kebanyakan puisi “Kaleng Empat” terasa sekadar menggunakan kaleng Khong Guan dan mengisinya dengan—atau meresponsnya sebagai—apa saja.

Barangkali, demikianlah Khong Guan ditempatkan dalam wacana budaya populer. Semua isinya dikeluarkan: biskuit, wafer, segala isinya, hingga hanya tersisa kalengnya. Kemudian, kaleng itu diisi beban makna melalui humor verbal, meme yang bertebaran di media sosial, dan tentu saja puisi-puisi Jokpin. Khong guan bukan lagi sekadar salah satu merek penganan terkenal, tetapi telah menjadi salah satu produk budaya populer. Dengan memuisikannya, Jokpin bukan menjadi “sales Khong Guan” seperti tuduhan penyair lain yang kalah produktif itu, melainkan menunjukkan kepekaannya terhadap hal-ihwal yang beredar dan dirayakan khalayak. []