KURUNGBUKA.com – (22/04/2024) Yang memudahkan dan menyulitkan orang mewujudkan kehendak sebagai penulis: alasan. Sederet alasan dimiliki, dipelihara, dan dipertaruhkan. Ada beberapa alasan yang “benar” dan “salah”. Banyak orang yang bingung membedakan alasan-alasan agar diberkati sebagai penulis.

Yang terjadi, alasan-alasan itulah yang membuatnya tidak menulis tapi menyombongkan diri ingin menjadi penulis. Akhirnya, orang itu menjadi pengekal alasan yang tidak pernah sah disebut penulis. Alasan: yang mengawali dan mengakhiri.

Namun, alasan adalah “guyonan” yang penting bagi Mohammad Diponegoro. Kita mengetahuinya dalam buku berjudul enteng: Yuk, Nulis Cerpen Yuk. Judul yang mengajak, bukannya memerintah. Buku yang mengentengkan, bukannya membuat para pembaca merasa mendapat formalitas perintah dan larangan. Beruntunglah orang yang pernah membacanya, yang mengerti segalanya dari alasan.

Mohammad Diponegoro menyampaikan: “Alasan memang banyak. Anda kepingin jadi sastrawan yang tenar di seantero negeri. Itu pun boleh dan tidak salah… Anda ingin menulis untuk mencari uang… “ Alasan-alasan itulah yang dipentingkan terlebih dahulu.

Selanjutnya, alasan bisa dibuktikan atau sia-sia. Mohammad Diponegoro menerangkan: “… menulis cerpen merupakan cara menulis yang paling selektif dan ekonomis. Dan itulah, menurut saya, salah satu sifat cerpen yang baik. Baik secara anatomis. Dan inilah yang pertama kali perlu mendapat perhatian dari setiap pemula karena di sinilah sering membuat kesalahan…”

Keterangan yang mengandung nasihat tapi yang membaca agak mengerti bahwa alasan yang dibuktikan mendapat kemudahan dan kesulitan. Yang terpenting: segera menulis dan menyelesaikan.

(Mohammad Diponegoro, 1985, Yuk, Nulis Cerpen Yuk, Shalahuddin Press)

Dukung Kurungbuka.com untuk terus menayangkan karya-karya terbaik penulis di Indonesia. Khusus di kolom ini, dukunganmu sepenuhnya akan diberikan kepada penulisnya. >>> KLIK DI SINI <<<