KURUNGBUKA.com – (01/01/2024) Orang yang menulis novel ingin menemukan pembaca-pembaca. Pengharapan muncul mungkin sejak awal penulisan novel. Setelah novel rampung, pengarang mungkin mengurangi atau menambahi pengharapannya tentang pembaca.

Penantian untuk novel yang diterbitkan makin memberi bimbang atau terang atas tanggapan-tanggapan yang bakal berdatangan dari para pembaca. Pengarang melahirkan novel sekaligus “melahirkan” pembaca. Di kancah sastra, pemberian peran dan kehormatan kepada pembaca itu keniscayaan yang mengandung seribu tebakan.

Yang menjadi pengharapan Gabriel Garcia Marquez: “Kini, aku berharap ada bocah loper koran El Espectador akan membacanya sehingga aku bisa tahu opininya soal novel itu. Aku sangat ingin tahu apa yang para sopir, para penyemir sepatu, dan penjual lotre pikirkan tentang novel itu.” Yang dimaksud adalah novel berjudul Badai Daun.

Pengarang serius memikirkan pembaca. Ia tidak ingin kecewa meski menerima beragam tanggapan, yang tidak semuanya memuji. Gabriel Garcia Marquez (1956) tidak memesan pembaca tapi ingin mengikuti takdir yang dibawa novel.

“Novel itu akan jadi populer,” kata pengarang. Ia ingin membuktikan: “Novel kontemporer bisa menjangkau massa.” Yang dipikirkan bukan masalah laku atau laris, Gabriel Garcia Marquez terlalu mempertimbangkan arti kehadiran novel dan hak-hak pembacanya.

Sosok yang sadar kenyataan sastra, bukan terjebak bualan yang menutupi kesialan. Yang diinginkan adalah pembaca-pembaca yang melakoni hidupnya dalam kerja keras dan keawaman, bukan pengamat atau kritikus sastra.

(David Streidfeld, 2015, Gabriel Garcia Marquez: Wawancara Terakhir dan Percakapan-Percakapan Lainnya, Circa)

Dukung Kurungbuka.com untuk terus menayangkan karya-karya terbaik penulis di Indonesia. Khusus di kolom ini, dukunganmu sepenuhnya akan diberikan kepada penulisnya. >>> KLIK DI SINI <<<