Setiap pukul sebelas malam, Biah akan bangkit dari kasurnya, membuka jendela kamar dan duduk di sana. Matanya penuh penyerahan tatkala menatap bulan yang kekuningan. Sesekali sebelah tangannya akan terjulur ke atas, seolah hendak memetik bulan atau bintang-bintang yang dilihatnya.

Begitu pula dia akan berbicara tipis-tipis, sedikit berbisik. Lalu dengan mengintip, aku juga melihat mata Biah sesekali menyipit ke arahku yang terbaring berbalut selimut di atas kasur, seakan ia hendak memastikan apakah aku sudah tertidur pulas atau belum.

Entah apa yang selalu ia pikirkan ketika bertingkah seperti itu. Suatu waktu aku pernah melihat Biah pagi-pagi sekali berputar-putar di halaman belakang. Setelah aku naik ke atas dan meninggalkannya di sana, tak lama kemudian dia membakar keseluruhan buku-buku yang ada di lemari.

Aku terheran, kenapa dia rela membakar buku-buku yang telah menjadi kecintaannya selama ini. Ketika aku bertanya, dia bilang seorang lelaki tua berambut putih memintanya untuk melakukan itu. Lantas saat aku bertanya siapa orang itu, Biah tidak menjawab, kemudian dia memanggilku dengan tangannya, dan di sana, tepat di telingaku dia berbisik, “dia seorang nabi.”

Semenjak anak pertama kami lahir, Biah sering bertingkah aneh. Kerap berbicara sendirian, tertawa sendiri, berlari-lari sendirian, menatap bulan sendirian, dan dia akan memarahiku apabila aku menciduknya tengah melakukan itu, lantas dia akan berpindah dan mencari tempat untuk menyendiri lagi.

Dia tidak peduli ketika mendengar anak kami menangis dan sibuk dengan dirinya sendiri. Seolah ia memiliki dunia lain di suatu tempat, yang hanya dia dan teman-teman fantasinya yang menempati dunia itu. Apabila aku berbicara kepadanya tentang tabiat buruknya, dia akan mulai berbicara tentang hal-hal aneh di luar akal, lantas selalu diakhiri dengan kalimat, “tidakkah kau menyadarinya, Sayang?”

Suatu kali dia pernah bercerita padaku bahwa dia melihat naga berkepala tujuh sedang terbang di depan rumah, yang wajahnya adalah wajah anak kami suatu saat nanti, oleh sebab itu dia menyebut anak laki-laki kami sebagai anak setan yang terkutuk. Aku tahu ada sesuatu yang salah dengan Biah, tapi aku tidak terlalu memikirkannya, bahkan aku sedikit takut untuk mengusiknya. Karena sedari dulu, aku tahu istriku itu sudah memiliki kemampuan yang tidak dimiliki semua orang.

Jauh sebelum Aceh dilanda tsunami, saat itu kami masih berkuliah di kampus yang sama, Biah yang masih seorang teman, berkata padaku, bahwa orang-orang sudah tergolong sebagai manusia yang melampaui batas, kejahatan perang di mana-mana, pelanggaran asusila di pojok-pojok sektor kota, suatu saat mereka akan terkena air bah seperti umat Nabi Nuh. Lantas lima tahun setelah ia mengucapkannya, hal itu betul-betul terjadi. Di satu sisi aku merasa takut, namun juga terpukau dengan kepekaannya.

Pada kenyataannya, Biah memang seorang yang sangat peka terhadap hal-hal mistik. Ketika suatu tengah malam, masih di saat kami berkuliah, dia tiba-tiba memutuskan untuk pulang ke kampung halamannya. Malam itu, bus sudah tidak ada lagi, dan ia terpaksa berjalan kaki ratusan kilometer dan untungnya ketika fajar telah tiba, seseorang mau menumpanginya.

Berhari-hari aku tidak mendengar kabar dari Biah, lalu sesaat dia kembali, dia bilang dia pergi untuk menjenguk guru ngajinya yang sakit. Lantas seminggu setelahnya, guru ngajinya meninggal. Dan Biah berkata padaku, “setiap orang itu saling terikat satu sama lain oleh semacam energi, apabila kau dapat merasakannya, kau akan mengetahuinya, bahkan perkara ajal sekalipun.”

Namun, tidak jarang juga dia melakukan kesalahan tentang firasatnya. Aku pernah dilarang untuk berangkat kerja, karena menurut pertimbangannya, aku akan kecelakaan, dan aku tetap nekat untuk pergi karena bagiku itu tak masuk akal sama sekali. Lagipula apabila aku mati maka itulah ajal untukku.

Kukatakan padanya bahwa dia bukanlah Tuhan yang dapat mengetahui nasib manusia. Dan memang, kenyataannya tidak terjadi apa-apa denganku hari itu. Sepanjang pagi itu saat aku berangkat kerja, Biah merasa cemas, dan tidak henti-hentinya mengirimku pesan-pesan singkat melalui ponselnya.

Biah sering seperti itu, namun dalam sangkaku, tidak ada hal-hal yang sedemikian aneh seperti yang terjadi setelah kelahiran anak pertama kami. Awalnya kupikir Biah hanya mengalami gangguan kejiwaan akibat melahirkan. Maka aku banyak membantu pekerjaan rumah. Tidak sedikitpun aku membebaninya kepada Biah.

Setiap pagi, sebelum berangkat kerja, aku akan memastikan bak cuci terbebas dari piring-piring kotor. Begitupun dengan tudung saji, yang sudah harus tersedia makanan supaya Biah tidak perlu memasak. Tapi berbulan-bulan setelahnya, tingkah lakunya tidak membaik, dan malah semakin memburuk. Dia mulai berbicara tentang masa depan di mana semua orang akan berlaku liar, memerkosa secara sembarang, bahkan saling memakan jantung dan hati.

“Kiamat sudah tidak lama lagi,” katanya, lantas jadilah kami sebuah keluarga yang sangat taat beribadah. Apabila satu hari saja aku tidak salat magrib di masjid atau tidak mengaji, dia pasti ngamuk-ngamuk kepadaku, melemparkan piring-piring, menghamburkan baju-baju di lemari, atau sekedar enggan untuk disentuh bahkan menolak untuk berbicara padaku berhari-hari.

Aku sanggup menghadapi Biah apabila dia ngamuk-ngamuk, meskipun aku sedikit kesal karena dia menolak untuk aku bawa ke rumah sakit. Dia bahkan marah padaku karena aku telah menganggap dirinya sudah gila. Namun yang teramat aku sayangkan adalah nasib anak kami.

Sebagai bayi, dia butuh susu ibunya, dan Biah susah sekali diajak kompromi karena sudah menganggap bayi kami sebagai bayi setan terkutuk. Jangankan untuk menyusui, dia bahkan sangat enggan untuk melihatnya. Oleh sebab itu aku dan Biah pernah berpisah ranjang, aku tidur di kamar bayi, dia tidur sendiri di kamar utama.

Sudah berulang kali aku berupaya membawanya ke rumah sakit, bahkan sampai mengangkutnya secara paksa. Namun sayang, sepanjang jalan dia mengamuk di dalam mobil, dan memutuskan untuk melompat keluar, dan karenanya, Biah dirawat berminggu-minggu di rumah sakit karena tulang bahunya patah. Oleh sebab itu, anak kami terbiasa dengan asi donor. Namun hidupnya tidak lama. Setelah lima bulan dia menghirup udara dunia, anak kami berpulang secara mendadak.

Di saat seluruh keluarga kami berduka cita karena kehilangan, Biah tidak bersedih sama sekali. Bahkan entah kenapa kondisinya malah semakin membaik. Setelah itu Biah jarang keluar malam-malam, dia selalu tidur setiap pukul sembilan dan tidak pernah lagi begadang dengan termenung-menung di ruang tamu. Dia tidak lagi berbicara tentang hal-hal aneh atau melihat hal-hal yang jauh di luar nalarku. Dan mulai terbiasa kepada kehidupan normalnya yang lama, yaitu mengajar.

Sampai suatu malam, pelan-pelan aku mulai menyadari, Biah yang lama telah kembali. Diam-diam Biah akan bangkit dari kasurnya setiap pukul sebelas, dengan sedikit berjinjit menghampiri jendela, dan menatap bulan selama berjam-jam. Keesokan paginya, dia bercerita bahwa dia melihat bulan terbelah menjadi dua. Aku menanggapi omongan Biah seolah aku percaya pada perkataannya karena aku memang tidak punya pilihan.

Kemudian dia mulai sering berkeliaran dengan bertelanjang kaki sepanjang malam dan tidak pulang ke rumah. Sampai sesekali para tetangga menemukan Biah sedang tertidur di pinggir jalan. Sejatinya istriku itu tak pernah mengganggu orang-orang, bahkan dia sangat enggan untuk ikut berbaur di dalam keramaian, karena menurutnya keramaian itu membosankan. Tetapi orang-orang merasa jijik dengan

Biah, menganggapnya sebagai aib di kampung kami. Mereka mulai mencap istriku sebagai orang gila karena Biah sering ngelantur ke mana-mana saat diajak berbincang, dan tidak jelas dengan apa yang dia bicarakan. Istriku juga jarang mandi, sehingga tampilannya tampak kucel, dan rambutnya mengembang sangat acak-acakan. Begitupun dia jarang makan, tubuhnya makin hari makin terlihat kurus, sampai tulang-tulang dadanya kelihatan dan kulit payudaranya ikut mengendur akibat kekurangan lemak.

Selama ini, Biah adalah istriku yang sangat aku cintai. Dia telah merawatku, membimbingku, bahkan sejauh pengalamanku bertemu dengan wanita, Biah adalah perempuan yang paling sempurna untukku. Namun, aku masih tidak sanggup untuk membawanya ke dokter jiwa, karena aku tidak tahan melihatnya meronta-ronta saat aku mengangkutnya secara paksa.

Para tetangga melarang aku untuk membawanya ke dokter jiwa, karena bagi mereka, istriku itu dirasuki roh-roh halus. Berkali-kali mereka datang ke rumahku untuk merekomendasikan dukun atau orang pintar yang dipercaya mampu untuk menyembuhkan Biah, tapi aku hanya meng-iyakan saja sebagai bentuk sopan-santun semata, dan aku merasa tidak enak untuk mengusir.

Lagipula itu artinya mereka peduli, meskipun di satu sisi kepedulian mereka itu didasari oleh kejijikan. Aku juga sedikit kesal dengan orang tua dan mertuaku, mereka sama sekali tidak mau ikut campur dengan sakit Biah karena takut. Ibu Biah hanya menangis-nangis melihat Biah seperti itu, tetapi tidak mau berbuat apa-apa selain menyuruhku membawanya ke tempat dukun.

Karena aku tidak tega melihat istriku meronta-ronta saat aku hendak membawanya menemui dokter dan aku tidak percaya pada dukun atau orang pintar, maka aku hanya mengunci pintu rumah sepanjang hari saat aku berangkat kerja. Dan di saat aku pulang, aku selalu melihat Biah sedang duduk di ruang tamu, menuliskan sesuatu tentang bulan yang terbelah.

Lantas dia bilang bahwa dia sangat merindukanku sepanjang hari, lalu ia bercerita tentang kekesalannya kenapa aku mengunci semua pintu di rumah. Dan setiap kali itu pula aku menjawabnya bahwa aku tak sengaja menguncinya sesaat berjalan ke luar.

Aku melihat tulisannya tentang bulan yang ditulis dengan pensil. Terlihat acak-acakan berisikan tentang kehidupan manusia secara aforisme yang tidak berhubungan satu sama lain. Bahkan di beberapa bagian terkesan kontradiktif. Kemudian aku menanyakan tentang tulisannya. Di satu sisi, aku masih sangat mencintainya meskipun dia sering melantur tidak jelas.

Aku tidak peduli, setiap kali dia bercerita padaku, dengan wajahnya yang lusuh, mata yang kekurangan jam tidur, dan kedua bibir keringnya yang secara lincah berbicara, aku masih dapat menemukan suatu kecantikan absolut di keseluruhan mukanya yang lonjong.

Dia bercerita padaku tentang tulisan-tulisannya tentang bulan yang terbelah, bahwa penyebab bulan itu terbelah menjadi dua karena peperangan yang sedang berlangsung di bulan. Dia melihat iblis-iblis dengan pedang tajam berperang melawan manusia. Saling bertarung satu sama lain tak kenal lelah.

Sampai sesekali kata Biah, meteor-meteor jatuh ke bumi sebagai akibat dari peperangan itu, dan matanya akan terpana melihatnya. Lantas peperangan itu dimenangkan oleh umat manusia.

Namun bukan karena hal itu bulan terbelah-belah. Sesaat kehidupan manusia di bulan itu menjadi damai dan tentram, suatu hari seseorang memberontak karena nafsunya untuk berkuasa.

Manusia yang bernafsu itu kemudian menghasut orang-orang untuk bergabung dengan dia. Hingga pada akhirnya, orang-orang terpecah menjadi dua kubu yang saling menyerang satu sama lain.

Saat itu, Biah terkekeh. Aku heran di mana letak lucunya. Lantas Biah melanjutkan ceritanya, bahwa dalam peperangan dua kubu umat manusia itulah bulan terbelah menjadi dua. Kubu sebelah berupaya keras untuk memotong bulan supaya dapat memisahkan dirinya dari kubu pemimpin umat manusia itu.

Kemudian setelah bulan terbelah menjadi dua, di masing-masing kubu itu akhirnya memiliki seseorang lagi yang memberontak. Hingga setiap kubu itu berperang lagi antar kubunya sendiri dan pada akhirnya, bulan pun terpecah menjadi empat belahan, dan begitu terus selanjutnya.

Di mata Biah, bulan sudah tercecer menjadi puluhan ribu kepingan-kepingan kecil di luar angkasa. Aku masih tidak dapat memahami di mana letak lucunya, sampai akhirnya dia mencubit pipiku lalu bilang, “tidakkah kau menyadari sesuatu, Sayang?” dan aku menggeleng masih tersipu dengan cubitan manisnya. Dia lalu melanjutkan, “sejatinya manusia itu terobsesi dengan perang.

Manusia terus dikuasai oleh kehendak untuk berkuasa. Bahkan peperangan mereka dengan iblis itu pun tak ada hubungannya sama sekali dengan baik dan buruk, bahkan hasrat mereka itu telah melampaui keduanya. Hanya karena manusia itu memang makhluk yang enggan untuk bersatu,” setelah itu dia tertawa keras-keras.

Saat itu aku langsung menyadari sesuatu, di satu sisi, istriku ini memang sakit, tapi sakitnya adalah penyakit seorang filsuf, aku pun ikut tertawa bersama-sama. Lalu di malam harinya selepas makan malam, tiba-tiba saja dia mengamuk minta keluar.

Sampai Biah dengan keras memukul-mukul pintu hingga membenturkan kepalanya sampai berdarah. Karena katanya, peperangan di bulan itu akan sampai ke bumi sebentar lagi dan kita tidak siap untuk menghadapinya karena di sini kita juga masih terpecah belah.

Untuk kali itu, Biah benar-benar membabi buta. Aku tak menyangka betapa hebat kekuatannya sebagai seorang wanita, bahkan ia dapat mendorong tubuhku beberapa meter saat aku mencoba mendekat dan merangkulnya.

Dalam pusing kepalaku akibat terantuk ujung sofa, aku mendengar secara samar-samar Biah berteriak, bahwa dunia akan hancur, dan dia merasa harus lekas memberitahu semua orang untuk menyiapkan dirinya dan menumbuhkan cinta kasih satu sama lain agar dapat terbebas dari serangan manusia bulan.

Aku melihat matanya membelalak begitu lebar seperti orang kerasukan setan, dan keningnya sudah dibanjiri oleh darah, dan tidak lama kemudian aku melihat Biah jatuh pingsan.

Di saat itulah aku lekas untuk bangkit, memaksakan tubuhku, lalu dengan buru-buru membopongnya secara sempoyongan ke dalam mobil dan membawanya ke rumah sakit. Aku menunggu cukup lama di lorong, kata dokter, luka kepalanya sudah cukup dalam. Awalnya dia mengira kami sedang melakukan perkelahian rumah tangga, dan dalam tatapannya, aku seperti melihat bahwa dokter itu seolah hendak menuduhku sebagai lelaki yang keras dan jahat. Lalu aku katakan, bahwa istriku mengidap penyakit delusi dan halusinasi sehingga ia mengantukkan kepalanya sendiri ke daun pintu, namun tetap di satu sisi dokter itu memasang kecurigaan yang tersembunyikan di balik gelagatnya. Memang orang-orang pintar itu selalu skeptis.

Aku ketiduran di lorong rumah sakit itu. Keesokan paginya, aku diberitahu bahwa istriku sudah sadarkan dirinya. Lekas aku bangkit dari kursi, masih dengan mata mengantuk dan tubuh yang sedikit menggigil, aku masuk ke ruangan dan melihat Biah menatap hamparan langit cerah di luar jendela dengan satu kekhusyukan yang begitu mendalam.

Dia tidak menyadari kedatanganku, dan aku langsung mengambil salah satu bangku kosong dan duduk di samping Biah. Aku menggenggam tangannya dengan mesra, begitupula dia mengelus-elus tanganku sembari matanya masih terus menatap ke luar.

Aku ingat dia mengatakan sesuatu kepadaku tanpa menoleh, “jangan tinggalkan aku, Sayang. Banyak orang sakit berkeliaran di luar sana.” Dan aku tersenyum mendengar perkataannya. Bukan karena menertawakan istriku yang juga sedang sakit, tapi menurutku, dia mengatakan suatu kebenaran yang begitu tragis. Bahwa memang, di luar sana banyak sekali orang-orang sakit, tapi mereka handal menyembunyikannya.

Lantas berbulan-bulan selepas rutin minum obat, penyakit Biah tidak pernah kambuh lagi. Dia tidak pernah lagi berbicara tentang bulan yang terbelah menjadi kepingan-kepingan kecil. Bahkan aku mulai berani membicarakan tentang hal itu kepadanya, dan kami akan tertawa-tawa bersama.

Dia mengakui dirinya sakit, dan cintaku kepada Biah kian bertumbuh mantap. Selepas Biah sembuh, kami rajin berziarah kepada almarhum anak kami yang tidak beruntung itu, dan Biah akan menangis-nangis di sana sambil meminta maaf.

Begitu pun kami sering berjalan-jalan menuju taman, kemudian memberi makan burung-burung merpati. Kata Biah, merpati itu adalah perwujudan para penyihir di jaman kuno yang tidak puas dengan kehidupan mereka sebelumnya akibat dibakar massa, sehingga mereka memutuskan untuk berinkarnasi dalam makhluk tanpa tangan agar seseorang tidak menyuruh mereka untuk bekerja, dan aku tertawa saja mendengarnya,

Namun entah kenapa, seiring berjalannya waktu, sesuatu perlahan-lahan seperti merasukiku. Aku jadi suka berkeliaran sendirian malam-malam, atau duduk melamun saja di pinggir sungai selepas pulang kerja. Terlebih di saat kampanye politik ini, aku jadi semakin rajin membaca koran atau menonton berita dan kian mantaplah keinginanku untuk mengamati peristiwa di sekelilingku.

Sehingga dari jauh, barulah aku menyadari sesuatu, dengan kedua mata kepalaku, dalam kesadaran penuh, aku sendiri mulai melihat bulan terpecah belah menjadi dua. Tidak hanya di langit malam, tapi juga di jalan-jalan.[]

2023

*) Image by istockphoto.com