Pembaca kita lumayan gandrung pada berbagai catatan perjalanan. Sekian penulis memanjakan para pembaca dengan cara dan gaya masing-masing: reportase, memoar, catatan harian, cerita pendek, bahkan puisi. Kita perlu menaruh perhatian untuk jenis teks yang disebut terakhir. Para penyair lawas maupun mutakhir, kerap memuisikan tempat-tempat yang mereka kunjungi, meski sejenak. Mungkin jarang ada penyair yang tak menulis puisi catatan perjalanan sebagai oleh-oleh melancong. Paling tidak, mereka berpuisi singkat di media sosial disertai foto kunjungan ke suatu tempat.

Takarir (caption) tentu oleh-oleh penyair paling remeh. Beberapa penyair enggan mandek di takarir dan memberi sebenar-benarnya puisi, bahkan tak jarang: buku kumpulan puisi. Kita ingat, M. Faizi pernah menulis kumpulan puisi Merentang Sajak Madura-Jerman: Sebuah Catatan Perjalanan ke Berlin (2012), oleh-olehnya dari Jakarta-Berlin Arts Festival dan peristiwa-peristiwa di sekitar. Faizi melakoni lancong seni-budaya, masih sekitar kiprah kepenyairan. Eddy D. Iskandar, seorang yang lebih dikenal sebagai novelis, memuisikan perjalanan bernilai ibadah: naik haji. Puisi-puisi Eddy terhimpun di buku kumpulan puisi Tanah Suci: Serangkaian Puisi Perjalanan Ibadah Haji (2013). Pada puisi oleh-oleh itu, kita membaca apakah?

Kita boleh membuat perbandingan sederhana antara laku mencatat perjalanan oleh penyair dengan−misalnya−wartawan. Seorang wartawan mungkin punya ketertarikan personal pada tempat-tempat tertentu. Namun, paling memungkinkan ia menuju suatu tempat terutama bukan karena ketertarikan personal, melainkan penugasan dari media tempatnya bekerja. Penyair, di sisi lain, berkemungkinan menuju suatu tempat yang benar-benar diinginkannya, bahkan sekalipun menjinjing tugas-tugas kepenulisan atas nama residensi. Motif melakoni perjalanan berdampak pada teks yang dihasilkan kemudian.

Sebelum berangkat, wartawan perlu membaca beberapa literatur tentang tempat yang akan didatangi agar sesampainya di sana tahu apa saja yang akan ditulis. Penyair tidak selalu melakukannya. Kadang impresi tanpa praduga saat pertama kali menjejakkan kaki di suatu tempat lebih diperlukan ketimbang informasi historis dan lain-lain. Wartawan butuh menyiapkan bekal sebanyak-banyaknya, sementara penyair cukup membawa ruang kosong di kepala pun tak mengapa. Keduanya sama-sama nggak pulang tanpa membawa apa pun, kendati “apa pun” mereka pasti berbeda.

Kita coba membandingkan bagaimana wartawan dan penyair mencatat perjalanan ke Benteng Otanaha, Gorontalo. Kita mudah menduga apa-apa saja yang akan ditulis wartawan. Misalkan demikian, “Benteng Otanaha adalah bangunan bersejarah yang terletak di Kelurahan Dembe I, Kecamatan Kota Barat, 20 menit perjalanan darat dari Kota Gorontalo… Benteng Otanaha berada di dekat Danau Limboto, satu-satunya danau di Gorontalo… Benteng Otanaha diperkirakan dibangun pada abad ke-15… Pengunjung dapat menuju benteng dengan mendaki 351 anak tangga dengan kemiringan sekitar 60 derajat…” Benteng Otanaha, bagi wartawan−dan yang ia salurkan ke pembaca−adalah informasi.

Kita beralih ke Benteng Otanaha di catatan perjalanan penyair. Benteng Otanaha hadir dalam buku kumpulan puisi Acep Zamzam Noor, Membaca Lambang (2018), tepatnya di puisi berjudul Otahana. Puisi Acep selengkapnya: Rumbai-rumbai awan/Mengambang di angkasa/Ruap-ruap kesedihan/ Mengepul di rawa-rawa//Kapuk-kapuk randu/ Tersangkut pada ranting/ Artefak-artefak bisu/Tinggal tanah dan puing//Lumut-lumut aksara/ Mengurapi punuk bumi/Benteng-benteng terakota/Mengekalkan makna sunyi. Membaca puisi Otahana mengertikan kita bahwa Benteng Otanaha bagi penyair adalah makna disentuh lewat rasa.

Rasa adalah penilaian yang unik dan tanpa standar tertentu. Kita mungkin kerap menyederhanakan rasa sebagai enak tak enak, tapi sulit mengabaikan kenyataan bahwa rasa melampaui itu. Informasi dalam puisi Acep tak banyak, kita bisa membayangkan ia tak perlu membaca buku sejarah atau mewawancarai siapa pun untuk menulis puisinya. Bahkan, sejak penjudulan pun, bila kita pandang dengan mata wartawan, sudah salah. Acep membuat judul Otahana untuk puisi tentang Benteng Otanaha. Kekeliruan kecil itu, dalam puisi, tidak perlu diambil pusing. Dalam jurnalistik, barulah kekeliruan itu terasa memalukan dan kebangetan.

Rasa mengabaikan informasi. Misalkan kata “Benteng Otanaha” dihilangkan dari sebuah reportase, narasi bahwa letaknya di Gorontalo, bersebelahan Danau Limboto, dibangun sekitar abad ke-15, dan memiliki 351 anak tangga sudah secara tak langsung merujuk ke tempat terduga. Bayangkan, judul puisi Acep dihilangkan atau diganti apa pun yang bukan nama tempat, apakah pembaca akan menangkap puisi Acep mengisahkan Benteng Otanaha? Belum tentu. Misalkan, judul puisi Acep diganti Taman Sari atau Kasunanan, pembaca mungkin saja mengira puisi itu mengisah bangunan kuno di Jogja atau Solo, alih-alih Gorontalo.

Maka itu, apakah puisi Otahana benar-benar berhasil menyampaikan rasa yang unik dan khas kepada pembaca? Acep pertama kali menunjuk suatu tempat secara lugas di judul puisinya, setelah itu barulah ia membanjiri pembaca dengan kata-kata sarat rasa. Acep membangun suasana tepat setelah pembaca diterangkan di mana penyair berada. Puisi Otahana ibarat sebuah foto yang sudah kita saksikan sendiri dengan mata. Lantas, Acep dengan jarinya menunjuki kita awan yang mengambang di angkasa, pepohonan kapuk, artefak, lumut, dan puing-puing: sesuatu yang sebetulnya kita saksikan sendiri. Suatu yang oleh penyair ditawarkan sebagai rasa ternyata dapat terjebak jadi sekadar penjelasan belaka.

Melancong tetap sebatas kunjungan sekilas. Dalam pelancongan, rasa memang sulit terhayat sempurna, makna sulit terserap sempurna. Tempat-tempat yang dituju dan disinggahi penyair dalam perjalanannya kerap mandek sebagai objek-objek romantik-melankolis belaka. Tempat-tempat termaksud masih liyan bagi penyair dan lebih liyan lagi bagi pembaca. Bukan tak mungkin, puisi Acep justru terasa asing bagi orang-orang Gorontalo yang tinggal dan sepanjang hidup berperistiwa di sekitaran Benteng Otanaha. Perspektif pelancong−yang sulit dihindari penyair−berbeda dari perspektif penghuni. Tak ada yang lebih puisi dari rumah sendiri. []